HAMPIR enam puluh tahun sudah bangsa kita merdeka, namun mayoritas rakyatnya masih belum bisa keluar dari jeratan kemiskinan. Bahkan sejak diterpa badai krisis, jumlah pengangguran dan angka kemiskinan terus melambung.
Musibah dan penderitaan rakyat datang silih berganti dan yang ironis adalah sebagian pemimpinnya masih tega “memaksa” rakyatnya yang sudah menderita untuk tetap berkorban. Sementara sebagian pemimpin tersebut tidak memberikan teladan yang baik untuk berkorban menolong kaum fakir miskin yang semakin besar jumlahnya.
Meski demikian, sebagai anak bangsa dan generasi penerus bangsa kita tidak boleh pesimistis. Perayaan Hari Raya Idul Adha yang akan dirayakan tanggal 10 Januari 2006 mendatang dapat kita jadikan momentum untuk dapat keluar dari belenggu kemiskinan dan krisis berkepanjangan dengan menghayati sejarah pengorbanan Nabi Ibrahim AS.
Dalam sejarah dijelaskan, setelah Nabi Ibrahim bermimpi dalam tidurnya bahwa Ia harus menyembelih anak laki-laki satu-satunya, Ismail, dan setelah ia yakin kalau mimpinya itu perintah Tuhan, kemudian Nabi Ibrahim mengatakan kepada anaknya tentang mimpinya itu dan minta pendapatnya.
”Ayah,” kata anaknya Ismail merespon permintaan Ibrahim, ”lakukanlah apa yang diperintahkan-Nya.” Lalu Ismail berkata: ”Ayah, kalau ayah akan menyembelihku, kuatkanlah ikatan itu supaya darahku nanti tidak kena ayah dan akan mengurangi pahalaku. Aku tidak menjamin bahwa aku tak akan gelisah bila dilaksanakan. Tajamkanlah pisau itu supaya dapat memotong aku sekaligus. Bila ayah sudah merebahkan aku untuk disembelih, telungkupkan aku dan jangan dimiringkan. Aku khawatir bila ayah kelak melihat wajahku akan jadi lemah, sehingga akan menghalangi maksud ayah melaksanakan perintah Allah. Kalau ayah berpendapat akan membawa bajuku ini kepada ibu kalau-kalau menjadi hiburan baginya, lakukanlah, ayah.”
”Anakku,” ‘’sikapmu ini merupakan bantuan besar dalam menjalankan perintah Allah.” Dan sekarang Ayah pun sudah bersiap. Diikatnya kuat-kuat tangan anak itu lalu dibaringkan keningnya untuk disembelih. Tetapi ketika itu juga Tuhan memanggilnya: ”Wahai Ibrahim ! Engkau telah melaksanakan mimpi itu.” Anak itu kemudian ditebusnya dengan seekor domba besar yang terdapat tidak jauh dari tempat itu. Lalu disembelihnya dan dibakarnya. Demikian kisah penyembelihan dan penebusan itu dalam imajinasi karya sastra yang pernah ditulis budayawan Ali Audah.
Berdasarkan kisah singkat pengorbanan di atas, penyembelihan hewan kurban yang rutin dilaksanakan umat Islam hakikatnya tidak lebih dari bentuk ibadah yang meniscayakan arti pentingya kesetiakawanan sosial dan wujud ketakwaan seorang hamba kepada Tuhannya.
Hal tersebut terlihat jelas dari pesan dalam kisah di atas dan diperkuat firman Allah dalam Alquran: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (QS Al-Kautsar : 1-2).
Ibadah kurban hakikatnya adalah perintah Tuhan untuk mengorbankan dan menyembelih sifat egois, sikap mementingkan diri sendiri, rakus dan sikap serakah yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah yang diwujudkan dalam bentuk solidaritas dan kesetiakawanan sosial.
Fenomena kecintaan pada Allah yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dengan kesediaan menyembelih putra kesayangannya sesungguhnya disamping ujian keimanan juga sarat pesan-pesan sosial kemanusiaan. Kepekaan sosial, kesetiakawanan sosial dan keberpihakan kepada kaum dhuafa adalah nilai sekaligus moral sosial yang terkandung dalam ibadah kurban.
Ibadah kurban juga mengajarkan kepada umat Islam untuk menolak segala bentuk egoisme dan keserakahan. karena kedua sifat itu hanya akan merampas hak dan kepentingan kaum dhuafa.
Di sisi lain ibadah kurban dapat menjadi solusi terhadap berbagai bentuk ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang masih mewarnai di sekitar kita.
Perintah berkurban bagi mereka yang diberi kelebihan rizeki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin dan dhuafa, mengandung pesan penting ajaran Islam: “bahwa Anda bisa dekat dengan Allah SWT hanya ketika Anda bisa mendekati dan menolong saudara-saudara kita yang serba kekurangan”.
Semangat menyembelih hewan kurban yang dagingnya harus dibagikan kepada kaum fuqara dan masakin (fakir dan miskin), jelas dimaksudkan agar terjadi solidaritas dan tolong menolong antar-anggota masyarakat. Yang kaya menolong si miskin dan sebaliknya yang miskin menolong si kaya. Sikap solidaritas ini akan mengurangi kesenjangan sosial dan menjaga suasana yang harmonis diantara sesama warga.
Bagi masyarakat pedesaan, suasana saling tolong-menolong dan solidaritas sosial masih bisa kita rasakan, meskipun sudah mulai berkurang akibat virus materialisme yang di bawa arus globalisasi. Sementara di wilayah perkotaan sikap individualistis, kurang peduli dengan orang lain sangatlah menonjol, sehingga solidaritas sosial dan tolong menolong saat ini semakin menjadi “barang langka” di negeri ini.
Meski perayaan idul kurban di rayakan setahun sekali, namun semangat berkurban tersebut seharusnya tidak boleh hanya muncul ketika datang Idul Adha. Ia harus terus -menerus hidup dalam diri kita. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, kesetiakawanan sosial mutlak kita perlukan. Tentu saja, di luar Idul Adha, kurban itu tidak harus berbentuk penyembelihan hewan. Ia dapat berupa apa saja yang bisa mendorong terwujudnya kesetiakawanan sosial.
Kebobrokan negeri ini, termasuk merajalelanya perilaku KKN, sesungguhnya lebih disebabkan telah hilangnya rasa solidaritas dan tolong menolong atau kesetiakawanan sosial. Para pelaku KKN adalah mereka yang jauh dari rasa solidaritas dan tolong -menolong itu. Kalaupun ada rasa solidaritas dan tolong – menolong dalam diri mereka, itu hanya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya.
Mereka tidak peduli jika perbuatannya tersebut merugikan orang lain dan merusak budaya bangsa. Dengan kata lain menari diatas penderitaan rakyat miskin adalah hal biasa.
Kita semua berharap dengan perayaan Idul Adha akan muncul semangat berkurban di antara anggota masyarakat. Semangat berkurban yang sangat diperlukan dalam rangka membangun masa depan bangsa dan negara ke arah yang lebih maju, lebih baik, dan lebih sejahtera.
Makna utama hari raya Idul Adha yang berupa kesediaan untuk berkorban sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dapat dijadikan inspirasi untuk bagaimana kita bisa saling berbagi dan saling menolong dengan sesama umat manusia dari suku dan agama apa pun.
Sikap empati dan simpati terhadap nasib sesama manusia yang merupakan hakikat dari perayaan hari raya Idul Adha, perlu lanjutkan dalam pola kehidupan sehari-hari. Sikap peduli, tolong-menolong, dan gotong – royong yang masih menjadi budaya masyarakat pedesaan perlu di budayakan di kota metropolitan.
Dengan budaya tolong – menolong dipraktikkan masyarakat tradisional ternyata dapat mengilangkan kesenjangan sosial. Berbeda dengan kehidupan masyarakat metropolitan, setiap orang umumnya lebih mengutamakan kepentingan sendiri, sehingga di daerah perkotaan jurang antara kelompok masyarakat miskin dan kaya lebih terlihat.
Sesungguhnya masih banyak makna yang bisa diangkat dari maksud Allah mensyariatkan ibadah kurban. Melalui ibadah kurban, nurani manusia diasah. Melalui ibadah kurban kerakusan manusia digugat. Pendek kata, segala bentuk ketidakadilan sosial digugat. Di situlah pula relevansinya umat Islam untuk memelihara nyala api ibadah kurban dalam menyelesaikan banyak persoalan bangsa ini. (Drs. M Iqbal Wibisono, SH, MH, ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah – Suara Merdeka)
DIarsipkan di bawah: Artikel | Ditandai: al ikhlas kebonduren, ceramah idul adha, hari raya, idul kurban, khotbah idul adha, kurban, makna idul adha, setia kawan | Leave a Comment »

I. PENDAHULUAN
Suatu ketika orang bertanya kepada saya tentang takdir Allah. Ia mempertanyakan tentang nasibnya, yang selalu dirundung malang. Di antara pertanyaannya, apakah takdir Allah bagi seseorang dipengaruhi oleh cara orang tersebut berpikir, berperilaku, dan berusaha?
Rasa malu bagi seseorang merupakan daya kekuatan yang mendorongnya berwatak ingin selalu berbuat pantas dan menjauhi segala perilaku tidak patut. Orang yang memiliki watak malu adalah orang yang cepat menyingkiri segala bentuk kejahatan. Sebaliknya, yang tidak memiliki rasa malu berarti ia akan dengan tenang melakukan kejahatan, tidak peduli omongan, bahkan, cercaan orang lain. ”Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu,” begitu mottonya.
Allah SWT telah menurunkan keteladanan yang sangat istimewa pada diri Nabi Nabi Ayub AS. Begitu pentingnya keteladanan itu menjadikan sisa peninggalan berupa makam nabi yang sangat terkenal dengan kesabarannya itu banyak dikunjungi orang. Makam itu berada di tengah kampung terpencil yang dikelilingi kebun zaitun, di Suriah. Sekelompok kecil warga bersedia mendedikasikan diri untuk menjaganya. Mereka terus menghiasi makam sang nabi dengan tadarus yang begitu nikmat untuk diresapi.
Syawalan, dari kata Syawal, nama bulan sesudah Ramadhan, ialah amalan yang dilakukan di bulan Syawal, jelasnya puasa enam hari di bulan Syawal. Orang Jawa menyebutnya ‘nyawal’. Puasa ini dibandingkan dengan puasa-puasa sunat lainnya mempunyai sedikit keunikan, yaitu bisa menyempurnakan nilai puasa Ramadhan menjadi setahun penuh. Sebagaimana disabdakan baginda Rasulullah saw, ”Siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti puasa enam hari di bulan Syawal, maka (nilainya) sama dengan puasa setahun penuh,” (HR Muslim).
Abu Ayyub al-Anshari radhiallaahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim).
Dalam kalender hijriyah, bulan yang mengiringi Ramadhan dinamai bulan Syawal. Pada zaman dahulu, masyarakat Arab pra-Islam memiliki pandangan negatif mengenai bulan ini. Mereka, misalnya, menolak atau melarang melangsungkan pernikahan di dalamnya. Namun, tradisi ini dibatalkan oleh datangnya Islam. Nabi Muhammad SAW sendiri, seperti dikutip Ibnu Mandhur dalam Lisan al-Arab, menikahi Aisyah pada bulan Syawal dan memulai hidup bersama dengannya juga pada bulan Syawal. Kenyataan ini dibanggakan sendiri oleh Aisyah. Katanya, ”Siapa di antara isteri-isteri Nabi seberuntung aku di sisinya?”







