Kurban dan Kesetiakawanan

HAMPIR enam puluh tahun sudah bangsa kita merdeka, namun mayoritas rakyatnya masih belum bisa keluar dari jeratan kemiskinan. Bahkan sejak diterpa badai krisis, jumlah pengangguran dan angka kemiskinan terus melambung.

Musibah dan penderitaan rakyat datang silih berganti dan yang ironis adalah sebagian pemimpinnya masih tega “memaksa” rakyatnya yang sudah menderita untuk tetap berkorban. Sementara sebagian pemimpin tersebut tidak memberikan teladan yang baik untuk berkorban menolong kaum fakir miskin yang semakin besar jumlahnya.

Meski demikian, sebagai anak bangsa dan generasi penerus bangsa kita tidak boleh pesimistis. Perayaan Hari Raya Idul Adha yang akan dirayakan tanggal 10 Januari 2006 mendatang dapat kita jadikan momentum untuk dapat keluar dari belenggu kemiskinan dan krisis berkepanjangan dengan menghayati sejarah pengorbanan Nabi Ibrahim AS.

Dalam sejarah dijelaskan, setelah Nabi Ibrahim bermimpi dalam tidurnya bahwa Ia harus menyembelih anak laki-laki satu-satunya, Ismail, dan setelah ia yakin kalau mimpinya itu perintah Tuhan, kemudian Nabi Ibrahim mengatakan kepada anaknya tentang mimpinya itu dan minta pendapatnya.

”Ayah,” kata anaknya Ismail merespon permintaan Ibrahim, ”lakukanlah apa yang diperintahkan-Nya.” Lalu Ismail berkata: ”Ayah, kalau ayah akan menyembelihku, kuatkanlah ikatan itu supaya darahku nanti tidak kena ayah dan akan mengurangi pahalaku. Aku tidak menjamin bahwa aku tak akan gelisah bila dilaksanakan. Tajamkanlah pisau itu supaya dapat memotong aku sekaligus. Bila ayah sudah merebahkan aku untuk disembelih, telungkupkan aku dan jangan dimiringkan. Aku khawatir bila ayah kelak melihat wajahku akan jadi lemah, sehingga akan menghalangi maksud ayah melaksanakan perintah Allah. Kalau ayah berpendapat akan membawa bajuku ini kepada ibu kalau-kalau menjadi hiburan baginya, lakukanlah, ayah.”

”Anakku,” ‘’sikapmu ini merupakan bantuan besar dalam menjalankan perintah Allah.” Dan sekarang Ayah pun sudah bersiap. Diikatnya kuat-kuat tangan anak itu lalu dibaringkan keningnya untuk disembelih. Tetapi ketika itu juga Tuhan memanggilnya: ”Wahai Ibrahim ! Engkau telah melaksanakan mimpi itu.” Anak itu kemudian ditebusnya dengan seekor domba besar yang terdapat tidak jauh dari tempat itu. Lalu disembelihnya dan dibakarnya. Demikian kisah penyembelihan dan penebusan itu dalam imajinasi karya sastra yang pernah ditulis budayawan Ali Audah.

Berdasarkan kisah singkat pengorbanan di atas, penyembelihan hewan kurban yang rutin dilaksanakan umat Islam hakikatnya tidak lebih dari bentuk ibadah yang meniscayakan arti pentingya kesetiakawanan sosial dan wujud ketakwaan seorang hamba kepada Tuhannya.

Hal tersebut terlihat jelas dari pesan dalam kisah di atas dan diperkuat firman Allah dalam Alquran: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (QS Al-Kautsar : 1-2).

Ibadah kurban hakikatnya adalah perintah Tuhan untuk mengorbankan dan menyembelih sifat egois, sikap mementingkan diri sendiri, rakus dan sikap serakah yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah yang diwujudkan dalam bentuk solidaritas dan kesetiakawanan sosial.

Fenomena kecintaan pada Allah yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dengan kesediaan menyembelih putra kesayangannya sesungguhnya disamping ujian keimanan juga sarat pesan-pesan sosial kemanusiaan. Kepekaan sosial, kesetiakawanan sosial dan keberpihakan kepada kaum dhuafa adalah nilai sekaligus moral sosial yang terkandung dalam ibadah kurban.

Ibadah kurban juga mengajarkan kepada umat Islam untuk menolak segala bentuk egoisme dan keserakahan. karena kedua sifat itu hanya akan merampas hak dan kepentingan kaum dhuafa.

Di sisi lain ibadah kurban dapat menjadi solusi terhadap berbagai bentuk ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang masih mewarnai di sekitar kita.

Perintah berkurban bagi mereka yang diberi kelebihan rizeki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin dan dhuafa, mengandung pesan penting ajaran Islam: “bahwa Anda bisa dekat dengan Allah SWT hanya ketika Anda bisa mendekati dan menolong saudara-saudara kita yang serba kekurangan”.

Semangat menyembelih hewan kurban yang dagingnya harus dibagikan kepada kaum fuqara dan masakin (fakir dan miskin), jelas dimaksudkan agar terjadi solidaritas dan tolong menolong antar-anggota masyarakat. Yang kaya menolong si miskin dan sebaliknya yang miskin menolong si kaya. Sikap solidaritas ini akan mengurangi kesenjangan sosial dan menjaga suasana yang harmonis diantara sesama warga.

Bagi masyarakat pedesaan, suasana saling tolong-menolong dan solidaritas sosial masih bisa kita rasakan, meskipun sudah mulai berkurang akibat virus materialisme yang di bawa arus globalisasi. Sementara di wilayah perkotaan sikap individualistis, kurang peduli dengan orang lain sangatlah menonjol, sehingga solidaritas sosial dan tolong menolong saat ini semakin menjadi “barang langka” di negeri ini.

Meski perayaan idul kurban di rayakan setahun sekali, namun semangat berkurban tersebut seharusnya tidak boleh hanya muncul ketika datang Idul Adha. Ia harus terus -menerus hidup dalam diri kita. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, kesetiakawanan sosial mutlak kita perlukan. Tentu saja, di luar Idul Adha, kurban itu tidak harus berbentuk penyembelihan hewan. Ia dapat berupa apa saja yang bisa mendorong terwujudnya kesetiakawanan sosial.

Kebobrokan negeri ini, termasuk merajalelanya perilaku KKN, sesungguhnya lebih disebabkan telah hilangnya rasa solidaritas dan tolong menolong atau kesetiakawanan sosial. Para pelaku KKN adalah mereka yang jauh dari rasa solidaritas dan tolong -menolong itu. Kalaupun ada rasa solidaritas dan tolong – menolong dalam diri mereka, itu hanya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya.

Mereka tidak peduli jika perbuatannya tersebut merugikan orang lain dan merusak budaya bangsa. Dengan kata lain menari diatas penderitaan rakyat miskin adalah hal biasa.

Kita semua berharap dengan perayaan Idul Adha akan muncul semangat berkurban di antara anggota masyarakat. Semangat berkurban yang sangat diperlukan dalam rangka membangun masa depan bangsa dan negara ke arah yang lebih maju, lebih baik, dan lebih sejahtera.

Makna utama hari raya Idul Adha yang berupa kesediaan untuk berkorban sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dapat dijadikan inspirasi untuk bagaimana kita bisa saling berbagi dan saling menolong dengan sesama umat manusia dari suku dan agama apa pun.

Sikap empati dan simpati terhadap nasib sesama manusia yang merupakan hakikat dari perayaan hari raya Idul Adha, perlu lanjutkan dalam pola kehidupan sehari-hari. Sikap peduli, tolong-menolong, dan gotong – royong yang masih menjadi budaya masyarakat pedesaan perlu di budayakan di kota metropolitan.

Dengan budaya tolong – menolong dipraktikkan masyarakat tradisional ternyata dapat mengilangkan kesenjangan sosial. Berbeda dengan kehidupan masyarakat metropolitan, setiap orang umumnya lebih mengutamakan kepentingan sendiri, sehingga di daerah perkotaan jurang antara kelompok masyarakat miskin dan kaya lebih terlihat.

Sesungguhnya masih banyak makna yang bisa diangkat dari maksud Allah mensyariatkan ibadah kurban. Melalui ibadah kurban, nurani manusia diasah. Melalui ibadah kurban kerakusan manusia digugat. Pendek kata, segala bentuk ketidakadilan sosial digugat. Di situlah pula relevansinya umat Islam untuk memelihara nyala api ibadah kurban dalam menyelesaikan banyak persoalan bangsa ini. (Drs. M Iqbal Wibisono, SH, MH, ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah – Suara Merdeka)

Memahami Makna Idul Adha

Bulan ini merupakan bulan bersejarah bagi umat Islam. Pasalnya, di bulan ini kaum muslimin dari berbagai belahan dunia melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji adalah ritual ibadah yang mengajarkan persamaan di antara sesama. Dengannya, Islam tampak sebagai agama yang tidak mengenal status sosial. Kaya, miskin, pejabat, rakyat, kulit hitam ataupun kulit putih semua memakai pakaian yang sama. Bersama-sama melakukan aktivitas yang sama pula yakni manasik haji.

Selain ibadah haji, pada bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Lantunan takbir diiringi tabuhan bedug menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam.

Pada hari itu, kaum muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rekaat, juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail.

Peristiwa ini memberikan kesan yang mendalam bagi kita. Betapa tidak. Nabi Ibrahim yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun ternyata diuji Tuhan untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya. Sebuah pilihan yang cukup dilematis. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhanpun dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba. Legenda mengharukan ini diabadikan dalam al Quran surat al Shaffat ayat 102-109.

Kisah tersebut merupakan potret puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk kita teladani.

Dari berbagai media, kita bisa melihat betapa budaya korupsi masih merajalela. Demi menumpuk kekayaan rela menanggalkan ”baju” ketakwaan. Ambisi untuk meraih jabatan telah memaksa untuk rela menjebol ”benteng-benteng” agama. Dewasa ini, tata kehidupan telah banyak yang menyimpang dari nilai-nilai ketuhanan. Dengan semangat Idul Adha, mari kita teladani sosok Nabi Ibrahim. Berusaha memaksimalkan rasa patuh dan taat terhadap ajaran agama.

Di samping itu, ada pelajaran berharga lain yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa perintah menyembelih Nabi Ismail ini pada akhirnya digantikan seekor domba. Pesan tersirat dari adegan ini adalah ajaran Islam yang begitu menghargai betapa pentingnya nyawa manusia.

Hal ini senada dengan apa yang digaungkan Imam Syatibi dalam magnum opusnya al Muwafaqot. Menurut Syatibi, satu diantara nilai universal Islam (maqoshid al syari’ah) adalah agama menjaga hak hidup (hifdzu al nafs). Begitu pula dalam ranah fikih, agama mensyari’atkan qishosh, larangan pembunuhan dll. Hal ini mempertegas bahwa Islam benar-benar melindungi hak hidup manusia. (hlm.220 )

Nabi Ismail rela mengorbankan dirinya tak lain hanyalah demi mentaati perintahNya. Berbeda dengan para teroris dan pelaku bom bunuh diri. Apakah pengorbanan yang mereka lakukan benar-benar memenuhi perintah Tuhan demi kejayaan Islam atau justru sebaliknya?.

Para teroris dan pelaku bom bunuh diri jelas tidak sesuai dengan nilai universal Islam. Islam menjaga  hak untuk hidup, sementara mereka—dengan aksi bom bunuh diri— justru mencelakakan  dirinya sendiri. Di samping itu, mereka juga membunuh rakyat sipil tak bersalah, banyak korban tak berdosa berjatuhan. Lebih parah lagi, mereka  bukan membuat Islam berwibawa di mata dunia, melainkan menjadikan Islam sebagai agama yang menakutkan, agama pedang dan sarang kekerasan. Akibat aksi nekat mereka ini justru menjadikan Islam laksana ”raksasa” kanibal yang haus darah manusia.

Imam Ghazali dalam Ihya ’Ulumuddin pernah menjelaskan tentang tata cara melakukan amar ma’ruf nahi munkar.  Menurutnya, tindakan dalam bentuk aksi pengrusakan, penghancuran tempat kemaksiatan adalah wewenang negara atau badan yang mendapatkan legalitas negara. Tindakan yang dilakukan Islam garis keras dalam hal ini jelas tidak prosedural. (vol.2 hlm.311)

Sudah semestinya dalam melakukan amar makruf nahi munkar tidak sampai menimbulkan kemunkaran yang lebih besar. Bukankah tindakan para teroris dan pelaku bom bunuh diri ini justru merugikan terhadap Islam itu sendiri ?. Merusak citra Islam yang semestinya mengajarkan kedamaian dan rahmatan lil ’alamin. Ajaran Islam yang bersifat humanis, memahami pluralitas dan menghargai kemajemukan semakin tak bermakna.

Semoga dengan peristiwa eksekusi mati Amrozi cs, mati pula radikalisme Islam, terkubur pula Islam yang berwajah seram. Pengorbanan Nabi Ismail yang begitu tulus menjalankan perintahNya jelas berbeda dengan pengorbanan para teroris.

Di hari Idul Adha, bagi umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban. Pada dasarnya, penyembelihan binatang kurban ini mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental. Kurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan.

Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan  terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama.

Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yang disampaikan teks, bukan memahami teks secara literal. Oleh karenanya, semangat untuk terus ’berkurban’ senantiasa kita langgengkan pasca Idul Adha.

Saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Sebuah fenomena yang menyedihkan. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Selamat berhari raya ! (Yusuf Fatawie, Koordinator Forum Kajian ’Beras’ (Bengkel Turas) Kediri, pesantrenvirtual.com)

Proposal Pembangunan Masjid (Revisi Oktober 2009)

Perspektif Masjid Al ikhlasI. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Masjid adalah rumah Allah, hal ini tersirat pada firman Allah yang terdapat dalam sebuah Hadits Qudsi yang artinya “Sesungguhnya rumah-rumah Ku di bumi ialah masjid-masjid dan para pengunjungnya adalah orang-orang yang memakmurkannya” (HQR Abu Naim dari Said Al Khuduri , rs)

Di dalam hadits ini Allah memberitahukan kepada kita bahwa Allah mempunyai rumah di bumi ini, yaitu masjid tempat orang melakukan ibadah dan mengabdi kepadaNya, bertasbih dan mensucikanNya. Oleh karena itu masjid merupakan tempat termulia di bumi.

Allah berfirman dalam QS. At Taubah;18

            •  •         

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Pada hadits disampaikan “Barang siapa mendirikan masjid karena Allah walaupun sebanding dengan sarang burung tempat telurnya niscaya Allah mendirikan pula baginya sebuah gedung di dalam Surga (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Bazzar dengan sanad shahih)

Dari hadits dan firman Allah di atas dapat kita simpulkan bahwa membangun dan mendirikan masjid sangat besar pahalanya.

Keberadaan Musholla Al Ikhlas yang telah didirikan sekitar 20 tahun yang lalu sudah tidak layak dan seiring dengan perkembangan penduduk saat ini. Saat ini warga RT 04-05 berjumlah sekitar 300 KK atau sekitar 95 % warga muslim, Renovasi atau perluasan areal musholla tidak mungkin dilakukan , bersamaan dengan pembangunan perumahan Anyelir I pengurus Musholla dan warga melakukan negosiasi dan bekerjasama dengan pihak pengembang untuk pengadaan lahan. Terjadi kesepakatan dengan pihak pengembang untuk menyediakan fasilitas umum berupa fasilitas ibadah yang dapat bermanfaat untuk warga kompleks Taman Anyelir I maupun warga RT 04-05.

Luas lahan yang tersedia untuk Masjid seluas 400 M2, sehingga dibentuklah panitia pembangunan Masjid. Sesuai dengan kesepatan pengembang , bahwa fisik bangunan akan dilaksanakan oleh warga masyarakat secara gotong royong namun pemanfaatannya untuk seluruh warga. Pembangunan juga didorong oleh mayoritas warga RT 04-05 adalah Muslim yang sangat merindukan tempat beribadah yang layak.

Tujuan :

1. Menyediakan sarana Ibadah yang nyaman dan strategis

2. Tempat koordinasi dan membangun silaturahmi kaum muslimin

3. Menyelenggarakan pendidikan keagamaan dan mental warga muslim pada umumnya dan bagi anak-anak maupun remaja masjid.

4. Mewujudkan lingkungan yang agamis dan berkualitas

II. PROGRAM PEMBANGUNAN MASJID

Program pembanguan Masjid direncanakan pada bulan Maret 2008. Diawali dengan status lahan masjid yang sah, daya tampung Musholla yang tidak memenuhi syarat, dibentuklah panitia pembangunan Masid Al Ikhlas.

Pembangunan diawali dengan peletakan batu pertama pada Maret 2008 oleh Wakil Walikota Depok. Kemudian bulan April dilakukan pengerjaan fondasi secara gotong royong warga RT 04-05. Pembangunan dimulai pada bulan Mei 2008. Luas tanah 20×20 m2, direncanakan Bangunan Masjid dengan 2 lantai, Lantai dasar akan digunakan sebagai Ruang serbaguna, Ruang kantor dan TPA sedangkan Lantai 2 akan digunakan sebagai tempat sholat. Gambar site plan bangunan terlampir.

Kondisi saat ini telah diselesaikan pengecoran Lantai 2 sehingga Lantai dasar telah dapat dimanfaatkan. Dinding belum sempurna dan Lantai telah dikeramik sarana lain tempat wudhu dan toilet laki-laki telah selesai. Telah digunakan untuk kegiatan masjid : untuk sholat, pertemuan rapat, pengajian remaja, pengajian Kaum Ibu tetap berjalan, walaupun sarana yang ada terlalu minim. Realisasi Fisik sampai saat ini 30 % dari rencana.

Biaya Pembangunan :

Total biaya seperti direncanakan adalah Rp. 2,5 Milyar sampai saat ini dana terkumpul dapat diuraikan sebai berikut :

1. Masyarakat                                                          Rp     115.000.000

2. Perusahaan/instansi                                       Rp       77.000.000

3. Bantuan Pemda Kota Depok                         Rp       10.000.000

4. Sumbangan bahan bangunan senilai         Rp        96.469.150

5. Sumbangan developer                                    Rp       39.000.000

JUMLAH                                                                     Rp    337.469.150

Pemanfaatan Dana Pembangunan :

Biaya pembanguan saat ini sekitar Rp. 337 juta rupiah ( tiga ratus tiga puluh tujuh juta rupiah)

Rencana selanjutnya :

Tahap Pertama : pembangunan yang akan dilaksanakan yaitu :

1. Pengerjaan tiang –tiang penyangga kubah

2. Pembangunan Lantai II sebagai tempat sholat,

3. Pembuatan kubah

4. Pembangunan Mighrab/mimbar

Estimasi dana yang diperlukan sebesar Rp. 350.160.000,- dengan rincian biaya terlampir.

Tahap Kedua : akan dilaksanaan pada 2010.

Finishing bangunan Lantai I maupun Lantai dua, jendela, pintu dll.

III. SUSUNAN DEWAN KESEJAHTERAAN MASJID :

Pelindung                                     :  1. Lurah Kalimulya

2. Ketua RW 04 Kel Kalimulya

Dewan Penasehat                      :  1. Ust Edi Main

2. Agus Suprayogi, ST

3. H Nimin

Ketua Umum                               : Hasbullah M Rahmad, S Pd, M Hum

Ketua Harian                               : Nisar Salim, S Pd

Sekretaris                                      : Aris Abdillah, SE

Bendahara                                     : 1. Gunawan Adyaksa, SH, MM

2. Widyatmoko, SE

Humas                                            : Drs Djoko Harismojo

Ketua Bidang Kesra                   : Muhammad Ridwan, S Sos

Ketua Bidang Pendidikan        : Dono

Ketua Bidang Pembangunan : Burhan Masangang, SE

Ketua Bidang PHBI                    : Samlawi, S Ag

Ketua bidang Ubudiyah          :  Ust Syafruddin

IV. PENUTUP

Demikian proposal ini kami susun untuk dapat dipelajari dan menjadikan bahan pertimbangan Bapak/Ibu/ Saudara untuk dapat ikut merealisasikan pembangunan Masjid Al Ikhlas.

Informasi lebih lengkap tentang Kegiatan dan Pembangunan Masjid Al Ikhlas dapat diakses melalui Website kami di Http :// alikhlaskebonduren.wordpress.com

Rencana biaya yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :

1 Besi                                   140 btg                 144,000                  20,160,000

2 Baja ringan (atap)       400 m2                150,000                  60,000,000

3 Genteng                          4000 buah               5,000                  20,000,000

4 Kubah & assesoris      1 pkt                50,000,000                50,000,000

5 Keramik                        400 m2                    125,000                50,000,000

6 Kusen pintu dan jendela 1 pkt           40,000,000              40,000,000

7 Mighrab (assesoris mimbar) 1 pkt   30,000,000              30,000,000

8Semen,pasir, dll           1 pkt                   80,000,000              80,000,000

Jumlah biaya                                                                              Rp. 350.160.000

DOKUMENTASI PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN MASJID AL IKHLAS PADA Maret 2008 – OKTOBER 2009

1. Perspektif Bangunan

2. Peletakan batu pertama dan pengukuran arah kiblat

3. Perkembangan pembangunan sampai saat ini

4. Sekilas Peringatan Isra’ Mi’raj 1430 H oleh H. Rhoma Irama

Takdir Allah

http://sandibayuperwira.files.wordpress.com/2009/05/takdir_200.jpgSuatu ketika orang bertanya kepada saya tentang takdir Allah. Ia mempertanyakan tentang nasibnya, yang selalu dirundung malang. Di antara pertanyaannya, apakah takdir Allah bagi seseorang dipengaruhi oleh cara orang tersebut berpikir, berperilaku, dan berusaha?

Ia juga mengatakan, ada orang yang saling menyayangi sampai bertahun-tahun, tapi mereka tidak sampai menikah, hubungan mereka terputus tanpa sebab yang kuat. Dan sebaliknya, ada orang yang bertemu dengan seseorang, dalam waktu singkat mereka menikah.

Lalu, lanjutnya, ada orang yang berusaha mencari rezeki dengan susah payah dan mengikuti ketentuan agama secara ketat, menjaga yang halal dan haram, tapi pendapatannya hanya cukup untuk hidup sederhana saja. Di lain pihak, ada orang yang berusaha tanpa modal, dan pekerjaannya tidak berat, namun hasilnya sangat menakjubkan, dalam waktu singkat ia memperoleh laba puluhan juta. Apakah ini Takdir Allah atau tidak?

Memang untuk menjawab beberapa pertanyaan tersebut tidaklah mudah. Yang penting dan harus kita yakini adalah, bahwa Allah menentukan sesuatu atas kehendak-Nya, tidak ada yang dapat mempengaruhi-Nya. Yang dapat dilakukan oleh manusia, hanya memohon dan berdoa kepada-Nya. Jika Dia mau mengabulkan permohonan hamba-Nya itu akan diberi-Nya apa yang dimohonkan hamba-Nya itu. Sesungguhnya Allah berjanji akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Nya.

Allah berfirman: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (Q. S. 2 : 186) Jadi, takdir Allah tidak dipengaruhi oleh kemauan manusia. Namun demikian, Allah membuka kesempatan bagi manusia untuk berdoa dan memohon kepada-Nya. Hanya Allah menuntut agar manusia itu mematuhi segala perintah-Nya dan beriman kepada-Nya.

Dari tinjauan psikologi, sesungguhnya manusia membutuhkan iman kepada Allah, terutama bila manusia itu dihadapkan kepada kekecewaan yang amat sangat, apabila yang diharapkannya tidak tercapai, atau yang tidak diinginkannya terjadi.

Manusia hanya tahu apa yang telah terjadi dan dialaminya, akan tetapi ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa datang. Karena itu manusia perlu mendasarkan semua yang diinginkan dan diusahakannya menurut ketentuan Allah dan dalam batas-batas yang diridlai-Nya. Segala sesuatu yang terjadi, tidak ada yang di luar kehendak Allah. Orang yang teguh imannya kepada Allah, ia yakin bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, faktor X dan sebagainya.

Oleh karena itu orang beriman tidak mengenal putus asa. Jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan atas dirinya, ia segera ingat kepada Allah. Boleh jadi ada hikmahnya, yang saat ini ia belum mengetahuinya, ia dapat menghindari rasa kecewa. Firman Allah: Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (Q. S. 4 : 19) Jadi iman kepada Takdir Allah, dapat menjadi obat bagi gangguan kejiwaan dan dapat pula mencegah terjadinya gangguan kejiwaan. (Republika)

Rasa malu

maluRasa malu bagi seseorang merupakan daya kekuatan yang mendorongnya berwatak ingin selalu berbuat pantas dan menjauhi segala perilaku tidak patut. Orang yang memiliki watak malu adalah orang yang cepat menyingkiri segala bentuk kejahatan. Sebaliknya, yang tidak memiliki rasa malu berarti ia akan dengan tenang melakukan kejahatan, tidak peduli omongan, bahkan, cercaan orang lain. ”Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu,” begitu mottonya.

Islam menilai, watak malu itu merupakan bagian dari iman. Dengan demikian, orang yang tidak mempunyai rasa malu adalah orang yang hilang imannya. Orang hidup bermasyarakat sudah tentu harus mendengarkan apa kata masyarakat tentang dirinya. Masyarakat tak pelak lagi sebenarnya mengetahui apa yang dilakukan anggotanya. Masyarakat pula yang berhak mengoreksi apa-apa kelakuan yang tidak baik atau tak pantas anggotanya. Bagi yang tak punya malu, omongan atau koreksi masyarakat akan dianggapnya angin lalu.

Ada sebuah ungkapan warisan para nabi, yang menyatakan bahwa sudah rahasia umum, orang yang hilang perasaan malunya tak lain dari orang yang sudah terbiasa berbuat kemungkaran dan kemaksiatan dalam segala jenis dan bentuknya. Ia mau melakukan kejahatan, kelaliman dan kekejian.

Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya, yang dapat diambil sebagai pelajaran dari para nabi terdahulu ialah, apabila kamu sudah tidak mempunyai perasaan malu maka berbuatlah semaumu;” riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Itu berarti, orang yang demikian sulit untuk mau mawas diri, meski berhadapan dengan umpatan dan kecaman orang banyak pun.

Berdasar riwayat Ibnu Umar, Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung, bila berkehendak menjatuhkan seseorang maka Allah cabut dari orang itu rasa malunya. Ia hanya akan menerima kesusahan (dari orang banyak yang marah kepadanya). Melalui ungkapan kemarahan itu, hilang pulalah kepercayaan orang kepadanya.

Bila kepercayaan kepadanya sudah hilang maka ia akan jadi orang yang khianat. Dengan menjadi khianat maka dicabutlah kerahmatan dari dirinya. Bila rahmat dicabut darinya maka jadilah ia orang yang dikutuk dan dilaknati orang banyak. Dan bila ia menjadi orang yang dilaknati orang banyak maka lepaslah ikatannya dengan Islam.” (Republika)

Komponen Penting dalam Doa

berdoaAllah SWT telah menurunkan keteladanan yang sangat istimewa pada diri Nabi Nabi Ayub AS. Begitu pentingnya keteladanan itu menjadikan sisa peninggalan berupa makam nabi yang sangat terkenal dengan kesabarannya itu banyak dikunjungi orang. Makam itu berada di tengah kampung terpencil yang dikelilingi kebun zaitun, di Suriah. Sekelompok kecil warga bersedia mendedikasikan diri untuk menjaganya. Mereka terus menghiasi makam sang nabi dengan tadarus yang begitu nikmat untuk diresapi.

Pada mulanya, Nabi Ayub hidup dengan kekayaan dan keturunan yang penuh barokah. Hartanya berlimpah, dan anak-anaknya menjadi teladan yang sangat menawan. Kemudian Allah SWT memberinya ujian yang menurut ukuran kita saat ini sangat berat. Harta kekayaannya diambil Allah SWT sebagai ujian pertama. Setelah itu, anak-anaknya dipanggil menghadap-Nya satu per satu.

Kedua ujian tersebut tetap membuat Nabi Ayub bersabar. Ujian berikutnya adalah tubuh nabi Ayub didera luka yang terus membusuk. Sampai akhirnya beliau diusir dari kampung halamannya. Sungguh ujian yang sangat berat. Sampailah, Rahmah, istri Nabi Ayub, teruji keimanannya. Dia meminta suaminya untuk berdoa kepada Allah SWT agar penyakit yang sudah bertahun-tahun mendera itu segera disembuhkan.

Bagaimana Nabi Ayub menanggapi permintaan ini? Sungguh mengharukan. Beliau justru terlihat begitu marah dengan permintaan itu. Nabi Ayub merasa keimanan istrinya mulai terkikis. Beliau juga merasa malu untuk mengajukan permintaan itu karena Allah sudah memberikan kenikmatan yang begitu banyak.

Sungguh sebuah keteladanan yang membuat kita malu. Saat ini, begitu banyak keluhan dan permintaan yang selalu kita ungkapkan dalam setiap kesempatan berdoa. Sementara keimanan kita saat ini pada umumnya masih sangat jauh dibanding keimanan Nabi Ayub.

Seorang pelukis ternama, Jeihan pernah berpesan dalam sebuah kesempatan mengenai tema-tema penting yang tidak boleh tertinggal saat berdoa. Selama ini, kata Jeihan, dirinya setiap berdoa ada dua pesan yang tidak pernah tertinggal, yakni: berterima kasih dan mohon diampuni dosanya. (Republika)

SYAWALAN

SYAWALAN Syawalan, dari kata Syawal, nama bulan sesudah Ramadhan, ialah amalan yang dilakukan di bulan Syawal, jelasnya puasa enam hari di bulan Syawal. Orang Jawa menyebutnya ‘nyawal’. Puasa ini dibandingkan dengan puasa-puasa sunat lainnya mempunyai sedikit keunikan, yaitu bisa menyempurnakan nilai puasa Ramadhan menjadi setahun penuh. Sebagaimana disabdakan baginda Rasulullah saw, ”Siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti puasa enam hari di bulan Syawal, maka (nilainya) sama dengan puasa setahun penuh,” (HR Muslim).

Di samping itu, puasa Syawal dapat menutup berbagai kekurangan dalam puasa Ramadhan, sebagaimana umumnya amalan-amalan sunat. Ini ditegaskan dalam sebuah hadis, ”Pertama-tama amalan manusia yang akan dihisab oleh Allah di hari kiamat ialah shalatnya. Tuhan berkata kepada malaikat-Nya, padahal Dia Maha Tahu, ‘Lihatlah shalat hamba-Ku, apakah sudah sempurna ataukah masih ada kekurangannya? Kalau sudah sempurna maka tulislah ‘’sempurna”, dan kalau ada kekurangnnya barang sedikit, maka lihatlah apakah dia mempunyai cadangan sunat. Kalau ada, sempurnakanlah kekurangannya itu dengan cadangan sunatnya tadi. Setelah itu, semua amal akan diambil (diperhitungkan) dengan perhitungan seperti ini’.” (HR Abu Dawud).

Hadis di atas sekalipun berbicara dalam konteks shalat, tetapi karena diakhiri dengan ”kemudian semua amal akan diambil/diperhitungkan dengan perhitungan seperti ini”, maka oleh para ulama fikih dijadikan acuan bahwa semua amalan wajib dalam Islam akan diperiksa dengan standar nilai dasar, kemudian jika ada kekurangannya akan ditutup dengan pahala amalan sunat.

Sayid Sabiq, dalam Fiqhus Sunnah, mengatakan, ”Disyari’atkannya amalan sunat adalah untuk menutupi kekurangan yang barangkali ada dalam amalan wajib.” (Juz I, hlm 153). Justru itu dalam semua amalan wajib pasti di sana ada amalan sunatnya. Sehingga, dalam daftar ibadah wajib pasti akan kita jumpai ibadah sunat, misalnya: Shalat wajib juga shalat sunat, puasa wajib juga puasa sunat, haji wajib juga haji sunat, zakat wajib juga sedekah sunat, dsb.

Dari segi lain, amalan sunat juga dapat mengangkat derajat ke posisi yang lebih baik bagi orang-orang yang amalan wajibnya sudah sempurna, sebagai penghargaan Allah untuk hamba-Nya yang muttaqin.

Dilihat dari segi ini, maka puasa enam hari di bulan Syawal (syawalan) mempunyai tiga fungsi: melipatkan pahala, menggenapi kekurangan, dan menempatkan seseorang pada posisi lebih tinggi. Dan, kalau kita kaitkan dengan tujuan puasa serta makna Id adalah peningkatan takwa, maka puasa enam hari Syawal merupakan indikator ketakwaan. Dan, kalau kita kaitkan dengan arti Syawal, yaitu ‘bangkit’, maka puasa enam hari Syawal adalah indikator kebangkitan dalam mengemban misi agama, yang dalam pelaksanaannya tidak ‘pilah’ dan ‘pilih’. Semuanya akan dilaksanakan dengan tuntas.

Kini, Syawal masih beberapa hari lagi, sementara pelaksanaan nyawal tidak harus langsung sesudah Id dan berturut-turut. Mari kita lipatkan pahala, tutup kekurangan dan raih posisi yang tinggi. (By Mu’ammal Hamaidy – Republika)

Keutamaan Puasa Enam Hari Syawal

Ramadhan_Kareem_by_Ali_Imran786Abu Ayyub al-Anshari radhiallaahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim).

Imam Ahmad dan an-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa Ramadhan ganjarannya sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hubban dalam “Shahih” mereka)

Dari Abu Hurairah radhallaahu ‘anhu, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun.” (HR. al-Bazzar)

Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa enam hari penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali kelipatannya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfa’at, di antaranya:

1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.

2. Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawathib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.

3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta’ala menerima amal seseorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan, “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan sesuatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk, maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.

Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lalu. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya Iedul Fithri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.

Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampuan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia justru mengggantinya dengan perbuatan maksiat, maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai lagi.” (QS. an-Nahl: 92)

5. Dan di antara manfa’at puasa enam hari di bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup. Orang yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang berbahagia dengan berlalunya Ramadhan, sebab mereka merasa berat, jenuh dan lama berpuasa Ramadhan.

Barangsiapa yang mereka demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah Iedul Fithri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak merasa bosan dan berat apalagi benci.

Seorang ulama Salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya di bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal Allah Ta’ala secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh di sepanjang tahun.”

Oleh karena itu sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu akan mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan hutangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal. Dengan demikian telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.

Ketahuilah amal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta.a’a berfirman, “Dan sembahlah Tuhan-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. al-Hijr: 99)

Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa serta shadaqah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala pada bulan Ramadhan adalah disyari’atkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat, diantaranya; ia sebagai pelengkap dari kekuarangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada Hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapuskannya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.

Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan, shalawat dan salam semoga tercurahkan selalu keharibaan Nabi, segenap keluar dan sahabat beliau. (Sumber: Risalah Ramadhan, Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah.-alsofwah.or.id)

Bulan Aktualisasi

bulanDalam kalender hijriyah, bulan yang mengiringi Ramadhan dinamai bulan Syawal. Pada zaman dahulu, masyarakat Arab pra-Islam memiliki pandangan negatif mengenai bulan ini. Mereka, misalnya, menolak atau melarang melangsungkan pernikahan di dalamnya. Namun, tradisi ini dibatalkan oleh datangnya Islam. Nabi Muhammad SAW sendiri, seperti dikutip Ibnu Mandhur dalam Lisan al-Arab, menikahi Aisyah pada bulan Syawal dan memulai hidup bersama dengannya juga pada bulan Syawal. Kenyataan ini dibanggakan sendiri oleh Aisyah. Katanya, ”Siapa di antara isteri-isteri Nabi seberuntung aku di sisinya?”

Kata Syawal berasal dari kata Syala, berarti naik atau meninggi (irtafa’a). Dikatakan menaik atau meninggi, boleh jadi karena dua alasan. Pertama, karena pada bulan ini, kedudukan dan derajat kaum muslimin meninggi di mata Tuhan setelah mereka menjalankan puasa Ramadhan sebulan lamanya, seperti dijanjikan Nabi SAW dalam sekian banyak hadis. Kedua, karena secara moral kaum muslimin dituntut untuk dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan nilai-nilai yang mereka tempa selama bulan Ramadhan. Semangat Ramadhan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti kejujuran, kesabaran, disiplin, takwa, dan kesetiakawanan sosial harus tetap nyata pada bulan Syawal ini dan bulan-bulan berikutnya sepanjang hidup kita. Jadi, Syawal, sesuai dengan makna hafiahnya, dapat disebut sebagai bulan aktualisasi nilai-nilai.

Peningkatan dan aktualisasi nilai-nilia di atas, agaknya memang perlu kita ingat. Tidak semua kaum muslimin mampu mempertahankan nilai-nilai Ramadhan itu. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang kemudian mengabaikannya bersamaan dengan berlalunya bulan suci itu. Kenyataan ini tidak saja berlawanan dengan prinsip istiqamah, sikap keberagamaan yang stabil dan konstan, tetapi juga bertentangan dengan hakekat agama itu sendiri yang dalam Kitab Suci disimbolkan dengan istilah-istilah seperti shirath, sabil, syari’ah, dan minhaj, yang kesemuanya berarti jalan.

Ini mengandung makna bahwa keberagamaan itu adalah suatu perjalanan panjang tanpa henti dan tanpa kenal lelah. Tujuan akhir agama itu adalah perjumpaan dengan Tuhan itu sendiri dalam perkenan-Nya. Dalam perjalanan itulah terdapat suatu dinamika dan kebahagiaan yang sungguh sangat sejati bagi orang yang menempuhnya, terutama ketika ia semakin dekat (taqarrub) dengan Tuhannya.

Sikap dan semangat keberagamaan seperti itulah agaknya yang dipesan Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW dan selanjutnya kepada seluruh kaum muslimin dalam ayat ini: ”Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu menuju dan berharap.” (Q. S. 94: 7-8). (By A Ilyas Ismail – Republika)

Doa membayar dan menerima zakat

Niat zakat mal atau fitrah cukup di dalam hati dengan mengatakan “Aku memberikan harta ini sebagai zakat mal atau fitrah, karena Allah”.

Sangat baik ketika memberikan zakat membaca do’a :

Kemudian yang menerima dianjurkan membaca do’a :