Egoisme

Disadari atau tidak, bahwa egoisme manusia sangatlah terkait dengan keimanannya. Egoisme atau kecintaan manusia terhadap dirinya, tidak jarang dapat menguasai kepribadian seseorang. Bahkan mungkin sering kita lihat dalam kehidupan, betapa manusia asyik berjuang memenangkan ego masing-masing.

Egoisme dipastikan akan memunculkan persaingan yang pada gilirannya akan memunculkan saling berselisih antara satu dengan lainnya di dalam memenuhi kepentingan yang menjadi ego masing-masing. Bahkan tidak jarang, dalam upaya persaingan dalam memenuhi ego memanfaatkan sebagian orang dengan menghalalkan segala macam cara, baik dalam bentuk kolusi, korupsi, nepotisme, pencurian, perampokan, dan lain sebagainya.

Sudah sejak awal Allah SWT memperingatkan kepada kita apa yang telah terjadi pada manusia pertama, Adam. Kisah Adam dan Hawa, mengantarkan kita ke dalam keyakinan bahwa tidak mungkin kita meragukan keimanan Adam dan Hawa. Bagaimana mungkin kita bisa meragukan keimanan keduanya, karena mereka berdua langsung berjumpa dan berdialog dengan Allah.

Pertanyaan yang muncul kemudian, kenapa keimanan Adam dan Hawa harus gugur dengan mengikuti godaan Iblis untuk melanggar satu aturan Allah, yaitu memakan buah Khuldi. Bila saja kita simak secara seksama, ternyata kalahnya keimanan Adam dan Hawa ini setelah Iblis berhasil mengetahui titik lemah manusia yang lalu Iblis bisikkan pikiran jahatnya dengan menyatakan, “Hai Adam, maukah kamu saya tunjukkan sebuah pohon Khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa” (Thaahaa, 20 : 120).
Pada satu sisi Allah mengingatkan kepada Adam dan Hawa, sekaligus menekankan bahwa keduanya dilarang memakan buah tersebut, bahkan jangankan untuk memakannya, mendekatinya pun dilarang. Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim’ (Al Baqarah, 2:35).
Sementara Iblis menyatakan, maukah kamu aku “tunjukkan” sebuah pohon. Pohon yang hakikatnya Allah SWT nyatakan kepada Adam dan Hawa agar mereka berdua tidak mendekatinya, apalagi memakan buahnya.

Ini yang sebenarnya harus menjadi “Tazkirah” (peringatan), di satu sisi Allah melarang, tapi di sisi yang lain Iblis malah berusaha “menunjukkan” pohon itu. Masalahnya kemudian mengapa keimanan Adam dan Hawa tiba-tiba menjadi lemah untuk kemudian keduanya melanggar aturan Allah dengan memakan buah terlarang tersebut?
Di sinilah titik lemah manusia yang kemudian diketahui Iblis, di mana Iblis menyatakan, maukah saya tunjukkan kamu sebuah pohon yang kalau kamu makan buahnya maka kamu akan mendapatkan “dua” perkara. Yang pertama, “Khuld”(kekal). Yang kedua, mendapatkan kerajaan atau kekayaan yang berlimpah ruah.
Dengan kata lain Iblis berusaha memperdaya Adam dan Hawa dengan meyakinkan mereka berdua, bahwasanya Allah melarang memakan buah itu tidak lain karena Allah takut tersaingi, jika karena kalian  memakan buah tersebut maka kalian akan sama-sama kekal dan sama akan punya kekuasaan. Dua hal inilah, yakni mengharapkan “Kekekalan” kekuasaan dan harta yang berlimpah ruah yang telah mengantarkan runtuhnya keimanan Adam dan Hawa, keimanan dua insan yang langsung berjumpa dan berdialog dengan Allah SWT.

Satu pelajaran yang luar biasa sangat berharga bagi kita anak cucu Adam, bahwa kalau kita lihat keberhasilan Iblis menyesatkan manusia terbanyak dari dua sisi ini. Yakni dari sisi kekuasaan dan ingin hidup kekal lalu berusaha untuk bisa melanggengkan kekuasaan dan lain sebagainya. Kekal tidak hanya dari segi umur, tetapi dari sisi jabatan, kedudukan, dan lain sebagainya. Dari sisi inilah peluang Iblis untuk menggoda dan menyesatkan manusia.

Allah SWT mengingatkan, hanya keimananlah sebenarnya yang bisa mengendalikan kecenderungan tersebut. Dalam Islam seseorang tidak diperintahkan untuk mematikan kecenderungan hawa nafsunya sepanjang dalam memenuhinya masih dalam aturan yang benar menurut Allah SWT.
Tidak salah kalau seseorang ingin kaya, punya ambisi kedudukan, jabatan dan lain-lain sepanjang bisa ditempuh dengan jalan yang diridhai-Nya. Yang tidak dimungkinkan dalam Islam adalah, bila dalam memenuhi keinginannya ia tempuh dengan menghalalkan segala macam cara dengan melanggar aturan dan hukum-Nya.

Ada sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Ummu Salmah, istri Rasulullah SAW, tentang bagaimana keimanan itu bisa mengendalikan ego seseorang. Dikisahkan ada dua orang laki-laki, mereka bertengkar memperebutkan harta waris, masing-masing tidak memiliki bukti kepemilikan harta yang diperebutkan itu. Lantas keduanya menghadap Rasulullah SAW untuk meminta keputusan Beliau.
Rasulullah SAW kepada mereka berdua menyatakan: Saya ini hanyalah seorang manusia, sementara kalian mencoba meminta penyelesaian proses hukum ini kepada saya, padahal boleh jadi seseorang di antara kalian akan mampu dengan dalil-dalil dan pendekatannya meyakinkan kepada saya bahwa dialah yang paling benar, sehingga saya bisa memutuskan bahwa itu milik dia, padahal itu belum tentu benar. Kalau itu yang terjadi maka berarti saya telah memberikan kepada dia peluang untuk menyiapkan bara api neraka jahnnam sepenuh perut dia. “Mereka yang memakan harta anak yatim dengan cara yang zalim maka sama dengan dia telah menyiapkan bara api sepenuh perutnya” (An Nissa’, 4 : 10).
Mendengar pernyataan Rasulullah SAW ini, maka kedua laki-laki tadi kemudian masing-masing mengatakan kepada yang lain, kalau memang itu adalah hak saya, maka saya ikhlas untukmu, silakan ambil. Yang satu seperti itu yang lain pun demikian. Akhirnya mereka sama-sama tidak mau mengambil haknya. (HR. Sunan Abu Daud).

Seperti inilah jika keimanan yang menjadi pijakan hidup seseorang. Ada kisah lain yang serupa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi SAW pernah mengisahkan kepada para sahabat tentang dua orang mu’min yang satu menjual tanah kepada yang lain. Usai proses pembelian, si pembeli kembali lagi dengan membawa satu kotak peti berisi emas dengan mengatakan;  Setelah saya membeli tanah kebetulan saya menggali tanah itu kutemukan satu kotak peti berisi Emas. Karena saya hanya membeli dan membayar harga tanah, berarti tidak termasuk emas yang ada di dalam peti ini. Maka dari itu saya kembalikan kotak peti berisi emas ini.

Si penjual tanah tidak mau menerima dengan mengatakan, saya sudah menjual tanah dengan segala yang ada di dalamnya. Akhirnya, keduanya sepakat untuk menemui seseorang untuk meminta keputusan. Maka berkatalah orang yang dipercayakan oleh kedua orang itu, adakah kalian berdua punya anak ? Yang satu menyatakan, saya punya anak laki-laki. Yang satunya lagi, saya punya anak perem-puan. Lebih lanjut, seseorang yang dipercaya itu mengatakan, kalau begitu nikahkan saja anak kalian berdua dan emas itu untuk modal anak kalian berdua. Maka barulah keduanya sepakat.

Alangkah luar biasa dampak keimanan dalam  mengendalikan egoisme manusia. Dan alangkah indahnya hidup dan kehidupan ini jika masing-masing manusia memiliki keimanan yang kuat sehingga dia mampu mengendalikan kecenderungan “ego” yang ada dalam dirinya sekaligus mementahkan bisikan Iblis yang menyesatkan. Wallahu a’lam bish-shawab. (Republika)

Menabung untuk akhirat

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al Ikhlas yang dihadiri oleh Ustadz Jefry Al Bukhori dan pejabat teras Kota Depok sudah setahun berlalu (peletakan batu pertama Kamis, 24 April 2008). Namun, pembangunan masjid seluas 18 m X 18 meter itu belum juga usai. Kendala utama terletak pada pendanaan.

Memang, masjid yang terdiri dari dua lantai itu dirancang juga sebagai gedung serba guna. Bagian atas untuk menjalankan aktifitas keagamaan, sedangkan lantai dasar akan menjadi gedung serba guna untuk berbagai keperluan seperti hajatan, pertemuan warga atau aktifitas publik lainnya.

Tentunya, konsep tersebut membawa konsekuensi pada tingginya biaya pembangunan masjid yang diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp 2,8 miliar. Bantuan dana dari berbagai pihak seperti pengembang Taman Anyelir, Telkom dan pengusaha sekitarnya belum juga menuntaskan pembangunan tersebut.

Berbagai upaya penggalangan dana telah ditempuh. Menyebarkan proposal dan surat kesediaan menjadi donatur tetap belum menghasilkan dana yang diharapkan. Kini, panitia memfokuskan pada penggalangan dana ke warga setempat. Walau mungkin hasilnya tak sebesar bantuan dari pihak luar, namun dana rutin itu diharapkan akan mempercepat proses pembangunan.

Cara yang ditempuh tak lagi menyodorkan proposal atau surat sejenis, tetapi dengan menyebarkan celengan pada setiap keluarga. Celengan itu diambil panitia setiap awal bulan. Celengan ini diyakini mempunyai daya jangkau lebih luas ketimbang proposal karena semua pihak bisa berpartisipasi.

“Mengisi celengan masjid menjadi tanggung jawab semua penghuni. Dua anak saya wajib menyisihkan uang jajannya dan memasukkannya ke celengan,” ujar seorang warga. Istrinya pun bisa memasukkan uang sisa belanja ke tabungan akhirat itu.

Makin banyak yang mengisi tentunya isinya pun lebih banyak dari biasanya. Dan yang penting, lanjut warga itu,   “Saya mengajari anak untuk beramal dan bertanggung jawab terhadap pembangunan masjid.” Menurutnya, pembangunan masjid bukan menjadi tanggungjawab pihak luar, pemerintah atau pengusaha antah berantah tetapi menjadi beban warga sekitar. Toh, mereka juga akan memanfaatkan masjid tersebut.

Celengan masjid itu akan menumbuhkan kesadaran untuk beramal dan kesadaran bahwa tanggung jawab pembangunan masjid adalah tanggung jawab bersama warga. Kesadaran seperti ini harus ditumbuhkan sejak kecil agar mental dan moral mereka dididik untuk mandiri dan tidak menggantungkan pada pihak lain.

PENGERTIAN ANAK YATIM DAN KEDUDUKANNYA DALAM ISLAM

Siapakah yang dimaksud dengan anak yatim? Apakah perbedaan antara anak yatim dan anak piatu? Lalu bagaimana dengan anak yatim-piatu?
Secara bahasa “yatim” berasal dari bahasa arab. Dari fi’il madli “yatama” mudlori’ “yaitamu”  dab mashdar ” yatmu” yang berarti : sedih. Atau bermakana : sendiri.

Adapun menurut istilah syara’ yang dimaksud dengan anak yatim adalah anak yang ditinggal mati oleh ayahnya sebelum dia baligh. Batas seorang anak disebut yatim adalah ketika anak tersebut telah baligh dan dewasa, berdasarkan sebuah hadits yang menceritakan bahwa Ibnu Abbas r.a. pernah menerima surat dari Najdah bin Amir yang berisi beberapa pertanyaan, salah satunya tentang batasan seorang disebut yatim, Ibnu Abbas menjawab:

وكتبت تسألنى عن اليتيم متى ينقطع عنه اسم اليتم ، وإنه لا ينقطع عنه اسم اليتم حتى يبلغ ويؤنس منه رشد
( رواه مسلم )

Dan kamu bertanya kepada saya tentang anak yatim, kapan terputus predikat yatim itu, sesungguhnya predikat itu putus bila ia sudah baligh dan menjadi dewasa

Sedangkan kata piatu bukan berasal dari bahasa arab, kata ini dalam bahasa Indonesia dinisbatkan kepada anak yang ditinggal mati oleh Ibunya, dan anak yatim-piatu : anak yang ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.

Didalam ajaran Islam, mereka semua mendapat perhatian khusus melebihi anak-anak yang wajar yang masih memiliki kedua orang tua. Islam memerintahkan kaum muslimin untuk senantiasa memperhatikan nasib mereka, berbuat baik kepada mereka, mengurus dan mengasuh mereka sampai dewasa.  Islam juga memberi nilai yang sangat istimewa bagi orang-orang yang benar-benar menjalankan perintah ini.

Secara psykologis, orang dewasa sekalipun apabila ditinggal ayah atau ibu kandungnya pastilah merasa tergoncang jiwanya, dia akan sedih karena kehilangan salah se-orang yang sangat dekat dalam hidupnya. Orang yang selama ini menyayanginya, memperhatikannya, menghibur dan menasehatinya. Itu orang yang dewasa, coba kita bayangkan kalau itu menimpa anak-anak yang masih kecil, anak yang belum baligh, belum banyak mengerti tentang hidup dan kehidupan, bahkan belum mengerti baik dan buruk suatu perbuatan, tapi ditinggal pergi oleh Bapak atau Ibunya untuk selama-lamanya.

Betapa agungnya ajaran Islam, ajaran yang universal ini menempatkan anak yatim dalam posisi yang sangat tinggi, Islam mengajarkan untuk menyayangi mereka dan  melarang melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyinggung perasaan mereka. Banyak sekali ayat-ayat Al-qur’an dan hadits-hadits Nabi saw yang menerangkan tentang hal ini. Dalam surat Al-Ma’un misalnya, Allah swt berfirman:

(( أرأيت الذي يكذب بالدين ، فذلك الذي يدع اليتيم ، ولا يحض على طعام المسكين ))
.
“Tahukah kamu orang yang mendustakan Agama, itulah orang yang menghardik anak  yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin “
{QS. Al-ma’un : 1-3}

Orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada fakir miskin, dicap sebagai pendusta Agama yang ancamannya berupa api neraka
Dalam ayat lain, Allah juga berfirman :

(( فأما اليتيم فلا تقهر ، وأما السا ئـل فلا تنهر ))

“Maka terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap   pengemis janganlah menghardik”.{QS.  Ad-Dhuha : 9 – 10 )

Sedangkan hadits-hadits Nabi saw yang menerangkan tentang keutamaan mengurus anak yatim diantaranya sabda beliau :

أنا وكافل اليتيم فى الجنة هكذا وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئا
(رواه البخاري ، كتاب الطلاق ، باب اللعان )

Aku dan pengasuh anak yatim berada di Surga seperti ini, Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah-nya dan beliau sedikit  merengganggangkan kedua jarinya

Dan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw bersabda :

عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” من قبض يتيما من بين المسلمين إلى طعامه وشرابه أدخله الله الجنة إلا أن يعمل ذنبا لا يغفر له  ( سنن الترمذي )

Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw bersabda : barang siapa yang memberi makan dan minum seorang anak yatim diantara kaum muslimin, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga, kecuali dia melakukan satu dosa yang tidak diampuni.

Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan dari Abu Hurairoh r.a. hadits yang berbunyi :

عن أبي هريرة أن رجلا شكا إلى النبي صلى الله عليه وسلم قسوة قلبه فقال إمسح رأس اليتيم وأطعم المسكين (رواه أحمد )

Dari Abu Hurairoh, bahwa seorang laki-laki mengadu kepada Nabi saw akan hatinya yang keras, lalu Nabi berkata: usaplah kepala anak yatim dan berilah makan orang miskin

Dan hadits dari Abu Umamah yang berbunyi :
عن أبى أمامة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من مسح رأس يتيم أو يتيمة لم يمسحه إلا لله كان له بكل شعرة مرت عليها يده حسنات ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم عنده كنت أنا وهو فى الجنة كهاتين وقرن بين أصبعيه (رواه أحمد )
Dari Abu Umamah dari Nabi saw berkata: barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim laki-laki atau perempuan karena Allah, adalah baginya setiap rambut yang diusap dengan  tangannya itu terdapat banyak kebaikan, dan barang siapa berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau laki-laki yang dia asuh, adalah aku bersama dia disurga seperti ini, beliau mensejajarkan dua jari-nya.

Demikianlah, ajaran Islam memberikan kedudukan yang tinggi kepada anak yatim dengan memerintahkan kaum muslimin untuk berbuat baik dan memuliakan mereka. . Kemudian memberi balasan pahala yang besar bagi yang benar-benar menjalankannya, disamping mengancam orang-orang yang apatis akan nasib meraka apalagi semena-mena terhadap harta mereka. Ajaran yang mempunyai nilai sosial tinggi ini, hanya ada didalam Islam. Bukan hanya slogan dan isapan jempol belaka, tapi dipraktekkan oleh para Sahabat Nabi dan kaum muslimin sampai saat ini. Bahkan pada jaman Nabi saw dan para Sahabatnya, anak-anak yatim diperlakukan sangat istimewa, kepentingan mereka diutamakan dari pada kepentingan pribadi atau keluarga sendiri. Gambaran tentang hal ini, diantaranya dapat kita lihat dari hadits berikut ini :

عن ابن عباس قال لما أنزل الله عز وجل ( ولا تقربوا مال اليتيم إلا بالتى هي أحسن ) و (إن الذين يأكلون أموال اليتامى ظلما) الأية انطلق من كان عنده يتيم فعزل طعامه من طعامه وشرابه من شرابه فجعل يفضل من طعامه فيحبس له حتى يأكله أو يفسد فاشتد ذلك عليهم فذكروا ذلك لرسول الله صلى الله عليه وسلم فأنزل الله عز وجل (ويسألونك عن اليتامى قل إصلا ح لهم خير وإن تخالطوهم فإخوانكم) فخلطوا طعامهم بطعامه وشرابهم بشرابه

Dari Ibnu Abbas, ia berkata : ketika Allah Azza wa jalla menurunkan ayat “janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang hak” dan “sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim dengan dzolim” ayat ini berangkat dari keadaan orang-orang yang mengasuh anak yatim, dimana mereka memisahkan makanan mereka dan makanan anak itu, minuman mereka dan minuman anak itu, mereka  mengutamakan makanan anak itu dari pada diri mereka, makanan anak itu diasingkan disuatu tempat sampai dimakannya atau menjadi basi, hal itu sangat berat bagi mereka kemudian mereka mengadu kepada Rasulullah saw. Lalu Allah menurunkan ayat “dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang anak yatim. katakanlah berbuat baik kepada mereka adalah lebih baik, dan jika kalian bercampur dengan mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu” kemudian orang-orang itu menyatukan makanan mereka dengan anak yatim. (Sumber: http://abufarhi.multiply.com/journal/item/1/anak_yatim)

Santunan bagi kaum dhuafa

Walau pembangunan masjid Al Ikhlas di Kebonduren, Kalimulya, Depok belum seluruhnya selesai, namun aktifitas masjid sudah berjalan seperti halnya masjid yang lain. Di bulan Muharam ini, tepatnya tanggal 10 Muharam (Minggu, 27 Desember 2009), masjid Al Ikhlas memberikan santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa. Bantuan diberikan kepada 60 orang, termasuk jamaah dari masjid lain.

Acara santunan dimulai dengan shalat Isya berjamaah dilanjutkan dengan tausyiah dari tiga ustadz. Tausyiah terakhir diberikan oleh ustadz Dr Abu Bakar Madris dari Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Para ustadz menguraikan pentingnya beramal, terutama kepada anak yatim dan kaum dhuafa.

Sebelum tausyiah, Ketua DKM Masjid Al Ikhlas Hasbullah Rahmat menekankan pentingnya peran masjid dalam membantu anak yatim dan kaum dhuafa. “Kewajiban muslim untuk membantu anak yatim di sekitarnya, katanya. Untuk membantu pendidikan, Masjid sudah menyelenggarakan Taman Pendidikan Alquran yang dilaksanakan setiap hari.

Santunan anak yatim itu diberikan setiap tahun. Dan alhmadulillah, jumlah dana yang diperoleh panitia terus meningkat. Tahun ini, menurut ketua panitia Ustadz Nizar Salim, masjid memperoleh amal sebesar 12 juta rupiah. Delapan juta digunakan untuk santunan, sedangkan sisanya dipakai untuk kas masjid.

Setelah pemberian santunan secara simbolis, acara ditutup dengan makan bersama. Turut hadir di acara ini adalah Lurah Kalimulya beserta Ketua RW 08 dan Ketua RT di lingkungan itu. Selain jamaah masjid Al Ikhlas, sebagian jamaah Masjid Irsyadatul Ummah juga menghadiri acara tersebut.

Mudah-mudahan Allah SWT melimpahkan rejeki dan rahmat kepada jamaah Masjid Al Ikhlas sehingga bisa memberikan amal untuk membantu kaum papa yang kurang beruntung.

Menyantuni Anak Yatim

Menyantuni Anak YatimSetiap 10 Muharam atau yang dikenal Asyura, Rasulullah saw mengingatkan umatnya untuk berpuasa. ”Sesungguhnya hari Asyura adalah termasuk hari yang dimuliakan Allah. Barangsiapa yang suka berpuasa, maka berpuasalah” (Muttafaq ‘alaih). Anjuran Rasulullah saw tersebut sering dipandang sebagai wujud penghormatan kepada hari kemerdekaan kaum lemah/dhuafa, khususnya anak yatim. Karena itu, dalam tradisi umat Islam Indonesia, Asyura sering pula disebut sebagai hari raya anak yatim.

Kata yatim berasal dari bahasa Arab berupa fail pelaku, berbentuk tunggal dengan jamaknya yatama atau aitam yang berarti anak (laki/perempuan) yang belum dewasa dan orangtuanya telah meninggal dunia. Karena ketidakmampuan mereka secara fisik dan sosial inilah maka umat Islam sangat dianjurkan untuk menyantuni dan memberdayakan mereka agar kelak mampu dalam menghadapi kehidupan dunia ini.

Menyantuni dan memberdayakan mereka ini penting karena Alquran sendiri mengingatkan hal tersebut sebanyak 22 kali, antara lain, pada surah Al Baqarah (2) ayat 83, 177, 215, 220, An Nisaa’ (4) ayat 2, 3, 6, 8, 10, 36, dan 127, Al An’aam (6) ayat 152. Program ini, bagi umat Islam secara keseluruhan adalah wajib, dan bukan terbatas pada hal-hal yang bersifat fisik, seperti harta, tetapi secara umum juga mencakup hal-hal yang bersifat psikis (QS 93:9 dan 107:2). Sedangkan anjuran membela dan menyantuni anak yatim tampak lewat berbagai hadis Rasulullah saw. ”Sering-seringlah mengusap kepala anak yatim,” kata Nabi yang dijadikan yatim oleh Allah SWT. ”Hiasilah rumahmu dengan (memelihara) anak yatim.”

Dalam menyantuni anak yatim, terutama mereka yang memiliki harta haruslah dengan penuh tanggung jawab dan profesional. Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka) (QS An Nisaa’: 10). Juga, Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa … (QS Al An’aam: 152).

Kendati demikian Alquran juga membolehkan wali miskin memakan harta anak yatim dan tidak membolehkan wali kaya memakannya (QS An Nisaa: 6). Adapun dalam sebuah hadis, Rasulullah saw menjelaskan masalah ini. Pada suatu hari datang seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: ”Ya, Rasulullah, aku ini orang miskin, tapi aku memelihara anak yatim dan hartanya, bolehkah aku makan dari harta anak yatim itu?” Rasulullah saw menjawab, ”Makanlah dari harta anak yatim sekadar kewajaran, jangan berlebih-lebihan, jangan memubazirkan, jangan hartamu dicampurkan dengan harta anak yatim itu,” (HR Abu Dawud, an Nasa’i, Ahmad, dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar bin Khattab).

Berkaca dari pesan Alquran dan Sunah Rasul tersebut, dalam situasi krisis berkepanjang seperti ini, maka menyantuni anak yatim merupakan perbuatan sangat terpuji. Semua itu kita lakukan agar kita terhindar dari ancaman Alquran sebagai pendusta agama (QS al-Maun: 1-3).  (Republika)

Tanah Suci

Tanah Suci

Umat Islam Indonesia yang menunaikan ibadat haji tiap tahun begitu membludak, sampai melebihi daya tampung salah satu tempat pelaksanaan ibadat itu, yaitu Mina. Timbul pertanyaan, mengapa minat masyarakat begitu besar. Jawabannya, ditinjau dari sudut agama, paling kurang dua hal.

Pertama, ketakwaan umat makin meningkat. Tetapi terdengar kritik, mengapa korupsi juga semakin menggila. Untuk menerangkan fenomena itu, sabda Nabi ketika ditanya tentang seorang pemuda yang rajin salat tetapi berzina juga, dapat dianalogkan, Salatnya akan mencegahnya (dari berzina itu)! Ternyata pemuda itu memang bertobat tidak lama kemudian. Berarti bahwa korupsi itu pada suatu saat akan hilang, paling sedikit akan terus berkurang.

Kedua, daya tarik Tanah Suci (Makkah dan Madinah). Daya tarik itu paling kurang dua hal pula, menurut yang dipahami dari Alquran. Pertama, Tanah suci itu relatif aman. Allah pernah membantah alasan sebagian kaum musyrikin, bahwa jika mereka masuk Islam mereka akan diculik (dirampok, dibunuh, dsb), dengan mengemukakan pertanyaan bantahan, Bukankah Kami telah meneguhkan bagi mereka Tanah Suci itu aman, ke sana didatangkan persembahan segala macam buah-buahan sebagai rezeki pemberian kami? (Q.S. 28:57). Kebiasaan culik-menculik dan bunuh-membunuh di zaman jahiliah memang kenyataan, tetapi itu tidak mungkin terjadi di Tanah Suci, karena semua suku Arab menghormatinya.

Ayat itu diperptegas lagi oleh ayat lain, Tiadakah mereka lihat bahwa Kami telah membuat Tanah Suci itu aman, sedang orang culik menculik di sekitarnya? Maka apakah mereka percaya kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah? (Q.S. 29:67). Sekalipun Ka’bah pernah rusak dihantam peluru pada zaman Khalifah Yazid bin Mu’awiyah, Tanah Suci relatif aman. Bahkan keamanan itu dapat dilihat pada kawasan Saudi Arabia pada umumnya sampai sekarang, dibanding kawasan-kawasan sekelilingnya.

Kedua, adanya keistimewaan pada Masjidil Haram dan Ka’bah sendiri. Masjidil Haram, di samping istimewa dengan besarnya nilai ibadah yang dikerjakan di dalamnya, paling kurang istimewa pula karena menjadi kiblat, yaitu titik pusat ibadat. Sebagaimana diketahui kiblat sebelumnya adalah Masjidil Aqsa. Enam bulan lamanya Nabi berdoa kepada Tuhan untuk menunjukkan kiblat yang sebenarnya itu.

Dan mengenai Ka’bah, Allah melukiskannya sebagai al-Bayt al- ‘Atiq, yaitu rumah ibadat yang antik dan agung. Keantikannya kembali ke zaman Nabi Ibrahim yang mendirikannya jauh sebelum agama-agama besar (Yahudi, Nasrani, dan Islam) ini ada. Dan keagungannya kiranya dapat terlukis dari sabda Nabi menyapanya dalam tawaf beliau, Betapa tinggi kebesaranmu, betapa agung martabatmu, namun martabat seorang muslim lebih tinggi dari martabatmu itu. Ketinggian martabat Ka’bah adalah bahwa doa akan dikabulkan di sisinya. Dan ketinggian martabat seorang muslim adalah bahwa hak-hak asasinya tidak boleh dilecehkan sedikit pun.

Kepergian seorang muslim ke Tanah Suci, di samping untuk menyempurnakan keislamannya, yaitu mengerjakan rukun Islam kelima, agaknya juga untuk memperoleh damainya Tanah Suci, laba beribadat di dalam Masjidil Haram, dan harapan doanya akan terkabul di bawah naungan martabat Ka’bah yang besar itu. (Republika)

Idul Adha 1430 H: Lembaran baru Masjid Al Ikhlas

Jumat, 27 November 2009 atau 10 Zulhijah 1430 H adalah momen penting bagi jamaah Masjid Al Ikhlas di Jalan Kencana I, Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, Kota Depok. Bukan karena mereka tengah merayakan Idul Adha, tetapi lebih dari itu. Pada saat Lebaran Haji ini, masjid yang proses pembangunannya belum selesai tersebut, mulai dipakai untuk menyelenggarakan Sholat Jumat perdana. Inilah tonggak sejarah baru bagi Masjid Al Ikhlas.

Selama ini warga yang tinggal di Kampung Kebonduren harus menyeberang jalan ke kampung sebelah untuk mengikuti Sholat Jumat. Padahal masjid di situ (Masjid Irsyadu Ummah) sudah terlalu penuh untuk menampung jamaah dari luar daerahnya. Akibatnya, warga harus rela sholat di beranda masjid.

Namun mulai Jumat ini, warga Jalan Kencana sudah bisa menyelenggarakan Sholat  Jumat sendiri. Masjid berukuran 18 X 18 meter  itu mampu menampung seluruh warga. Untuk mencari imam dan khotib, warga tak perlu bingung. Daerah ini memiliki banyak ustads dan mereka yang berpotensi menjadi ulama besar. Insya Allah, kegiatan Sholat Jumat akan berjalan lancer sesuai rencana.

Pagi harinya, masjid tersebut juga dipakai untuk menggelar Sholat Idul Adha. Bertindak sebagai imam adalah Ustadz Enjang Hermawan, sedang Ustadz Syaffrudin bertindak sebagai khotib. Dalam ceramahnya, Syaffrudin mengingatkan agar kita selalu meneladani tindakan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam menjalankan perintah Allah SWT. Kita pun harus rela mengorbankan apa yang paling kita cintai untuk menegakkan iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Berkaitan dengan perayaan Idul Adha, Masjid Al Ikhlas menerima dua sapi dan sebelas kambing. Hewan kurban itu disembelih pada Sabtu, 28 November 2009 dan langsung dibagikan kepada mereka yang berhak.  Dari kotak amal yang diedarkan pada saat Sholat Ied, panitia mendapatkan infaq sebesar Rp 1,6 juta. Mudah-mudahan amal tersebut  bisa mempercepat proses pembangunan masjid. Dan bagi mereka yang beramal mendapatkan limpahan Rahmat dan Anugerah dari Allah SWT. Amin.

 

 

Tips Memilih Hewan Kurban

Dinas Peternakan Kota Semarang mengingatkan masyarakat agar hati-hati memilih hewan kurban untuk Idul Adha. Kepala Dinas Peternakan Kota Semarang, Ayu Enthis Wahyu memberi tips bagaimana memilih hewan kurban yang sehat.

“Harus hati-hati karena tidak semua hewan bisa dan layak menjadi hewan kurban,” kata Ayu saat dihubungi Tempo, Kamis (19/11). Ayu menjelaskan beberapa indikasi sederhana yang bisa diamati secara kasat mata untuk membedakan hewan kurban yang sakit dan sehat.

Beberapa ciri yang dimaksud yakni:

- Bulu hewan terlihat mengkilat,

- Badan hewan harus berisi atau tidak kurus,

- Alat kelamin hewan tidak boleh selir (berat sebelah),

- Mata tidak berbelek (banyak kotoran mata) atau harus bercahaya dan jernih,

- Tidak menderita penyakit scabies dan tidak pincang,

- Kondisi tubuh hewan normal,

- Liur tidak berlebihan

- Suhu badan hewan normal.

 

Sedangkan persyaratan dari segi agama, lanjut Ayu, lain lagi. Persyaratan usia menurut agama Islam ialah minimal satu tahun untuk kambing dan domba, serta berusia minimal dua tahun untuk sapi dan kerbau. Setelah hewan disembelih juga harus diperiksa kondisi organ-organ tubuhnya. Harus dicek hati, paru, ususnya, apakah rusak atau tidak. Yang tidak kalah penting, harus dipastikan bersih dari cacing.

Sebelum hewan disembelih juga harus diistirahatkan terlebih dulu. Apalagi, hewan yang baru selesai perjalanan jauh. “Agar darahnya tidak beku,” katanya. Pengistirahatan ini berguna agar pada saat hewan disembelih semua darah bisa keluar dari tubuhnya. Dinas Peternakan Kota Semarang telah mengeluarkan surat keputusan yang berisi kewajiban pemilik atau penjual hewan kurban harus mengantongi surat keterangan sehat dari dokter hewan.  (TEMPO Interaktif)

Kurban dan Kesetiakawanan

HAMPIR enam puluh tahun sudah bangsa kita merdeka, namun mayoritas rakyatnya masih belum bisa keluar dari jeratan kemiskinan. Bahkan sejak diterpa badai krisis, jumlah pengangguran dan angka kemiskinan terus melambung.

Musibah dan penderitaan rakyat datang silih berganti dan yang ironis adalah sebagian pemimpinnya masih tega “memaksa” rakyatnya yang sudah menderita untuk tetap berkorban. Sementara sebagian pemimpin tersebut tidak memberikan teladan yang baik untuk berkorban menolong kaum fakir miskin yang semakin besar jumlahnya.

Meski demikian, sebagai anak bangsa dan generasi penerus bangsa kita tidak boleh pesimistis. Perayaan Hari Raya Idul Adha yang akan dirayakan tanggal 10 Januari 2006 mendatang dapat kita jadikan momentum untuk dapat keluar dari belenggu kemiskinan dan krisis berkepanjangan dengan menghayati sejarah pengorbanan Nabi Ibrahim AS.

Dalam sejarah dijelaskan, setelah Nabi Ibrahim bermimpi dalam tidurnya bahwa Ia harus menyembelih anak laki-laki satu-satunya, Ismail, dan setelah ia yakin kalau mimpinya itu perintah Tuhan, kemudian Nabi Ibrahim mengatakan kepada anaknya tentang mimpinya itu dan minta pendapatnya.

”Ayah,” kata anaknya Ismail merespon permintaan Ibrahim, ”lakukanlah apa yang diperintahkan-Nya.” Lalu Ismail berkata: ”Ayah, kalau ayah akan menyembelihku, kuatkanlah ikatan itu supaya darahku nanti tidak kena ayah dan akan mengurangi pahalaku. Aku tidak menjamin bahwa aku tak akan gelisah bila dilaksanakan. Tajamkanlah pisau itu supaya dapat memotong aku sekaligus. Bila ayah sudah merebahkan aku untuk disembelih, telungkupkan aku dan jangan dimiringkan. Aku khawatir bila ayah kelak melihat wajahku akan jadi lemah, sehingga akan menghalangi maksud ayah melaksanakan perintah Allah. Kalau ayah berpendapat akan membawa bajuku ini kepada ibu kalau-kalau menjadi hiburan baginya, lakukanlah, ayah.”

”Anakku,” ‘’sikapmu ini merupakan bantuan besar dalam menjalankan perintah Allah.” Dan sekarang Ayah pun sudah bersiap. Diikatnya kuat-kuat tangan anak itu lalu dibaringkan keningnya untuk disembelih. Tetapi ketika itu juga Tuhan memanggilnya: ”Wahai Ibrahim ! Engkau telah melaksanakan mimpi itu.” Anak itu kemudian ditebusnya dengan seekor domba besar yang terdapat tidak jauh dari tempat itu. Lalu disembelihnya dan dibakarnya. Demikian kisah penyembelihan dan penebusan itu dalam imajinasi karya sastra yang pernah ditulis budayawan Ali Audah.

Berdasarkan kisah singkat pengorbanan di atas, penyembelihan hewan kurban yang rutin dilaksanakan umat Islam hakikatnya tidak lebih dari bentuk ibadah yang meniscayakan arti pentingya kesetiakawanan sosial dan wujud ketakwaan seorang hamba kepada Tuhannya.

Hal tersebut terlihat jelas dari pesan dalam kisah di atas dan diperkuat firman Allah dalam Alquran: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (QS Al-Kautsar : 1-2).

Ibadah kurban hakikatnya adalah perintah Tuhan untuk mengorbankan dan menyembelih sifat egois, sikap mementingkan diri sendiri, rakus dan sikap serakah yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah yang diwujudkan dalam bentuk solidaritas dan kesetiakawanan sosial.

Fenomena kecintaan pada Allah yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dengan kesediaan menyembelih putra kesayangannya sesungguhnya disamping ujian keimanan juga sarat pesan-pesan sosial kemanusiaan. Kepekaan sosial, kesetiakawanan sosial dan keberpihakan kepada kaum dhuafa adalah nilai sekaligus moral sosial yang terkandung dalam ibadah kurban.

Ibadah kurban juga mengajarkan kepada umat Islam untuk menolak segala bentuk egoisme dan keserakahan. karena kedua sifat itu hanya akan merampas hak dan kepentingan kaum dhuafa.

Di sisi lain ibadah kurban dapat menjadi solusi terhadap berbagai bentuk ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang masih mewarnai di sekitar kita.

Perintah berkurban bagi mereka yang diberi kelebihan rizeki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin dan dhuafa, mengandung pesan penting ajaran Islam: “bahwa Anda bisa dekat dengan Allah SWT hanya ketika Anda bisa mendekati dan menolong saudara-saudara kita yang serba kekurangan”.

Semangat menyembelih hewan kurban yang dagingnya harus dibagikan kepada kaum fuqara dan masakin (fakir dan miskin), jelas dimaksudkan agar terjadi solidaritas dan tolong menolong antar-anggota masyarakat. Yang kaya menolong si miskin dan sebaliknya yang miskin menolong si kaya. Sikap solidaritas ini akan mengurangi kesenjangan sosial dan menjaga suasana yang harmonis diantara sesama warga.

Bagi masyarakat pedesaan, suasana saling tolong-menolong dan solidaritas sosial masih bisa kita rasakan, meskipun sudah mulai berkurang akibat virus materialisme yang di bawa arus globalisasi. Sementara di wilayah perkotaan sikap individualistis, kurang peduli dengan orang lain sangatlah menonjol, sehingga solidaritas sosial dan tolong menolong saat ini semakin menjadi “barang langka” di negeri ini.

Meski perayaan idul kurban di rayakan setahun sekali, namun semangat berkurban tersebut seharusnya tidak boleh hanya muncul ketika datang Idul Adha. Ia harus terus -menerus hidup dalam diri kita. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, kesetiakawanan sosial mutlak kita perlukan. Tentu saja, di luar Idul Adha, kurban itu tidak harus berbentuk penyembelihan hewan. Ia dapat berupa apa saja yang bisa mendorong terwujudnya kesetiakawanan sosial.

Kebobrokan negeri ini, termasuk merajalelanya perilaku KKN, sesungguhnya lebih disebabkan telah hilangnya rasa solidaritas dan tolong menolong atau kesetiakawanan sosial. Para pelaku KKN adalah mereka yang jauh dari rasa solidaritas dan tolong -menolong itu. Kalaupun ada rasa solidaritas dan tolong – menolong dalam diri mereka, itu hanya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya.

Mereka tidak peduli jika perbuatannya tersebut merugikan orang lain dan merusak budaya bangsa. Dengan kata lain menari diatas penderitaan rakyat miskin adalah hal biasa.

Kita semua berharap dengan perayaan Idul Adha akan muncul semangat berkurban di antara anggota masyarakat. Semangat berkurban yang sangat diperlukan dalam rangka membangun masa depan bangsa dan negara ke arah yang lebih maju, lebih baik, dan lebih sejahtera.

Makna utama hari raya Idul Adha yang berupa kesediaan untuk berkorban sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, dapat dijadikan inspirasi untuk bagaimana kita bisa saling berbagi dan saling menolong dengan sesama umat manusia dari suku dan agama apa pun.

Sikap empati dan simpati terhadap nasib sesama manusia yang merupakan hakikat dari perayaan hari raya Idul Adha, perlu lanjutkan dalam pola kehidupan sehari-hari. Sikap peduli, tolong-menolong, dan gotong – royong yang masih menjadi budaya masyarakat pedesaan perlu di budayakan di kota metropolitan.

Dengan budaya tolong – menolong dipraktikkan masyarakat tradisional ternyata dapat mengilangkan kesenjangan sosial. Berbeda dengan kehidupan masyarakat metropolitan, setiap orang umumnya lebih mengutamakan kepentingan sendiri, sehingga di daerah perkotaan jurang antara kelompok masyarakat miskin dan kaya lebih terlihat.

Sesungguhnya masih banyak makna yang bisa diangkat dari maksud Allah mensyariatkan ibadah kurban. Melalui ibadah kurban, nurani manusia diasah. Melalui ibadah kurban kerakusan manusia digugat. Pendek kata, segala bentuk ketidakadilan sosial digugat. Di situlah pula relevansinya umat Islam untuk memelihara nyala api ibadah kurban dalam menyelesaikan banyak persoalan bangsa ini. (Drs. M Iqbal Wibisono, SH, MH, ketua Komisi E DPRD Jawa Tengah – Suara Merdeka)

Memahami Makna Idul Adha

Bulan ini merupakan bulan bersejarah bagi umat Islam. Pasalnya, di bulan ini kaum muslimin dari berbagai belahan dunia melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji adalah ritual ibadah yang mengajarkan persamaan di antara sesama. Dengannya, Islam tampak sebagai agama yang tidak mengenal status sosial. Kaya, miskin, pejabat, rakyat, kulit hitam ataupun kulit putih semua memakai pakaian yang sama. Bersama-sama melakukan aktivitas yang sama pula yakni manasik haji.

Selain ibadah haji, pada bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Lantunan takbir diiringi tabuhan bedug menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam.

Pada hari itu, kaum muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rekaat, juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail.

Peristiwa ini memberikan kesan yang mendalam bagi kita. Betapa tidak. Nabi Ibrahim yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun ternyata diuji Tuhan untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya. Sebuah pilihan yang cukup dilematis. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhanpun dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba. Legenda mengharukan ini diabadikan dalam al Quran surat al Shaffat ayat 102-109.

Kisah tersebut merupakan potret puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk kita teladani.

Dari berbagai media, kita bisa melihat betapa budaya korupsi masih merajalela. Demi menumpuk kekayaan rela menanggalkan ”baju” ketakwaan. Ambisi untuk meraih jabatan telah memaksa untuk rela menjebol ”benteng-benteng” agama. Dewasa ini, tata kehidupan telah banyak yang menyimpang dari nilai-nilai ketuhanan. Dengan semangat Idul Adha, mari kita teladani sosok Nabi Ibrahim. Berusaha memaksimalkan rasa patuh dan taat terhadap ajaran agama.

Di samping itu, ada pelajaran berharga lain yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa perintah menyembelih Nabi Ismail ini pada akhirnya digantikan seekor domba. Pesan tersirat dari adegan ini adalah ajaran Islam yang begitu menghargai betapa pentingnya nyawa manusia.

Hal ini senada dengan apa yang digaungkan Imam Syatibi dalam magnum opusnya al Muwafaqot. Menurut Syatibi, satu diantara nilai universal Islam (maqoshid al syari’ah) adalah agama menjaga hak hidup (hifdzu al nafs). Begitu pula dalam ranah fikih, agama mensyari’atkan qishosh, larangan pembunuhan dll. Hal ini mempertegas bahwa Islam benar-benar melindungi hak hidup manusia. (hlm.220 )

Nabi Ismail rela mengorbankan dirinya tak lain hanyalah demi mentaati perintahNya. Berbeda dengan para teroris dan pelaku bom bunuh diri. Apakah pengorbanan yang mereka lakukan benar-benar memenuhi perintah Tuhan demi kejayaan Islam atau justru sebaliknya?.

Para teroris dan pelaku bom bunuh diri jelas tidak sesuai dengan nilai universal Islam. Islam menjaga  hak untuk hidup, sementara mereka—dengan aksi bom bunuh diri— justru mencelakakan  dirinya sendiri. Di samping itu, mereka juga membunuh rakyat sipil tak bersalah, banyak korban tak berdosa berjatuhan. Lebih parah lagi, mereka  bukan membuat Islam berwibawa di mata dunia, melainkan menjadikan Islam sebagai agama yang menakutkan, agama pedang dan sarang kekerasan. Akibat aksi nekat mereka ini justru menjadikan Islam laksana ”raksasa” kanibal yang haus darah manusia.

Imam Ghazali dalam Ihya ’Ulumuddin pernah menjelaskan tentang tata cara melakukan amar ma’ruf nahi munkar.  Menurutnya, tindakan dalam bentuk aksi pengrusakan, penghancuran tempat kemaksiatan adalah wewenang negara atau badan yang mendapatkan legalitas negara. Tindakan yang dilakukan Islam garis keras dalam hal ini jelas tidak prosedural. (vol.2 hlm.311)

Sudah semestinya dalam melakukan amar makruf nahi munkar tidak sampai menimbulkan kemunkaran yang lebih besar. Bukankah tindakan para teroris dan pelaku bom bunuh diri ini justru merugikan terhadap Islam itu sendiri ?. Merusak citra Islam yang semestinya mengajarkan kedamaian dan rahmatan lil ’alamin. Ajaran Islam yang bersifat humanis, memahami pluralitas dan menghargai kemajemukan semakin tak bermakna.

Semoga dengan peristiwa eksekusi mati Amrozi cs, mati pula radikalisme Islam, terkubur pula Islam yang berwajah seram. Pengorbanan Nabi Ismail yang begitu tulus menjalankan perintahNya jelas berbeda dengan pengorbanan para teroris.

Di hari Idul Adha, bagi umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban. Pada dasarnya, penyembelihan binatang kurban ini mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental. Kurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan.

Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan  terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama.

Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yang disampaikan teks, bukan memahami teks secara literal. Oleh karenanya, semangat untuk terus ’berkurban’ senantiasa kita langgengkan pasca Idul Adha.

Saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Sebuah fenomena yang menyedihkan. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Selamat berhari raya ! (Yusuf Fatawie, Koordinator Forum Kajian ’Beras’ (Bengkel Turas) Kediri, pesantrenvirtual.com)