• Arsip

  • http://picasion.com/
  • Terjemahkan ke dalam Bahasa:

  • April 2017
    S S R K J S M
    « Des    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930

Masjid Al Ikhlas Ikut Kegiatan Sejuta Maulid Nabi Muhammad SAW

Maulid Nabi Muhammad SAW

Masjid Al Ikhlas di Jalan Kencana I, Kebonduren, Kelurahan Kalimulya, Kota Depok ikut ambil bagian dalam kegiatan ‘Sejuta Maulid Nabi Muhammad SAW’ yang diselenggarakan oleh Pemkot Depok pada Minggu, 11 Desember 2016 mulai pukul 19.30 WIB. Kegiatan tersebut berpusat di Masjid Balikota Depok yang diikuti secara online oleh 63 masjid di setiap kelurahan. Masjid Al Ikhlas ditunjuk mewakili Kelurahan Kalimulya.

Sebelum acara dibuka oleh Walikota Depok Muhammad Idris, jamaah masjid Al Ikhlas menyaksikan penampilan siswa TPA Al Ikhlas mulai dari pembacaan doa sampai hafalan surat pendek. Setelah itu, jamaah mendengarkan sambutan dari walikota secara online dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua DKM Al Ikhlas Ustadz Nizar Salim dan Kepala Kelurahan Kalimulya.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh Qori Ustadz Wildan Zamzami sebelum memasuki ceramah agama oleh Ustadz KH Asep Hidayat Sadi, MM. Perayaan Maulid Nabi Muhammad ditutup dengan makan tumpengan bersama. Berikut foto-foto kegiatan tersebut.

Pelatihan Fotografi Bagi Jamaah Masjid Al Ikhlas

Peserta pelatihan fotografi. (Foto: Alvin)

Peserta pelatihan fotografi. (Foto: Alvin)

DKM Masjid Al Ikhlas bekerja sama dengan Dipa Photography menggelar Pelatihan Fotografi bagi jamaah masjid pada Ahad, 4 Desember 2016. Pelatihan yang diselenggarakan dari pukul 10:30 WIB hingga sore hari itu dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan memotret dari jamaah. Dengan adanya acara ini diharapkan setiap kegiatan masjid bisa diabadaikan dengan baik oleh para jamaah.

Spanduk Pelatihan Fotografi

Spanduk Pelatihan Fotografi

Ustadz Nizar Salim, dalam pidato pembukaan, menyambut baik diselenggarakannya acara ini. Meski jumlah peserta belum memenuhi harapan, dia meminta panitia tidak menyerah agar minat generasi muda untuk datang ke masjid terus meningkat.

Joko Harismoyo, Kepala Bida Humas Masjid Al Ikhlas, menargetkan jumlah peserta pada pelatihan ini mencapai 30 orang. Harapan tersebut, sebenarnya, masuk akal karena jumlah remaja di sekitar masjid cukup banyak. Apalagi, remaja tersebut memiliki komunitas pecinta fotografi.

Pada saat pembukaan, jumlah peserta pelatihan hanya lima orang. Namun, sehabis dhuhur, peserta bertambah hingga 15 orang. Kendala utama untuk mengikuti pelatihan tersebut adalah banyak di antara remaja yang belum memiliki kamera sesuai standar (DSLR).

Materi pelatihan terdiri dari dua. Pertama, sejarah dan berbagai jenis kamera. Materi ini dibawakan oleh Joko Harismoyo, wartawan dan fotografer. Kedua, teknis pemotretan. Materi ini dibawakan oleh Dipa Mulya, mantan wartawan yang kini menjadi fotografer profesional.

Setelah mengikuti teori, peserta diminta praktik memotret. Obyeknya, selain teman sendiri, adalah pedagang rujak keliling yang sedang mangkal di depan masjid. Berikut beberapa foto hasil bidikan peserta yang mendapatkan nilai baik dari Dipa Mulya.

 

Laporan Keuangan Pembangunan Masjid

Laporan Keuangan Pembangunan Masjid Al Ikhlas Kebonduran, Kalimulya dari 2008-2012.

Laporan Keuangan 2008-2012

 

Laporan Keuangan Pembangunan Masjid Al Ikhlas Kebonduran, Kalimulya dari 2013-2016.

lap-kau-2013-2016

 

Santuan Anak Yatim

Masjid Al Ikhlas kembali memberikan santunan kepada anak yatim di lingkungan masjid. Kepedulian sosial itu dilaksanakan setelah pengajian rutin setiap Sabtu malam. Santunan diberikan pada Sabtu, 15 Oktober 2016 kepada anak yatim di lingkungan RW 08, RW 04 dan RW 03 Kelurahan Kalimulya, Kota Depok, Jawa Barat. Berikut foto-foto pengajian dan pemberian santunan.

Idul Adha 2016: Lima Sapi dan 19 Kambing

Jamaah menunggu dimulainya Sholat Idul Adha 2016.

Jamaah menunggu dimulainya Sholat Idul Adha 2016.

Pada perayaan Idul Adha 12 September 2016, jamaah Masjid Al Ikhlas, Kebonderen, Kelurahan Kalimulya, Kota Depok menyembelih lima ekor sapi dan 19 kambing. Seluruh daging, tulang, kulit, kepala dan jeroan dibagikan kepada warga RW 08 dalam 480 kantong. Jumlah hewan kurban tahun ini meningkat dibanding Idul Adha 2015, di mana hanya terdapat 3 sapi dan 23 kambing.

“Alhamdulillah jumlah hewan kuban meningkat dibanding tahun lalu. Ini menunjukkan ketaqwaan jamaah masjid,” kata Ustad Samlawi, selaku ketua panitia. Sholad Idul Adha dipmpin oleh imam Ustad Agus Suprayogi,  bilal Ustad Dede Harun, dan khotib Ustad Nisar Salim.

Dalam khotbahnya, Nisar Salim mengatakan umat Islaam harus mencontoh keteladanan Nabi Ibrahim AS. Meski diuji dengan berbagai cobaan, beliau tetap tabah dan taat menjalankan perintah Allah SWT. Godaan terberat yang dialami Nabi Ibrahim adalah ketika ia diminta menyembelih anaknya, Ismail AS. Padahal, penantian memiliki anak sangat lama. Berkat ketaatannya, saat akan menyembelih, Allah mengganti Ismail dengan seekor domba.

Prosesi penyembelihan dimulai pukul 08:30 WIB dipimpin Ustad Agus dan Ustad Syafruddin. Berkat gotong-royong seluruh jamaah, pukul 14:00 WIB, pembagian daging kurban sudah selesai. (*)

Berikut foto-foto perayaan Idul Adha 2016:

 

Puasa dan Kesalehan Sosial

RZ Berikan Paket Berbagi  Buka Puasa

 REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr A Ilyas Ismail.

Puasa memang ibadah yang amat istimewa. Hikmah dan kebajikannya bersifat multidimensional, tak hanya moral dan spiritual, tetapi juga sosial. Puasa tak hanya membentuk kesalehan pribadi (individual), tetapi sekaligus juga kesalehan sosial.

Puasa memiliki dua semangat yang sangat baik dilihat dari perspektif pendidikan akhlak. Pertama, semangat pencegahan (kaffun wa tarkun)dari hal-hal yang destruktif (al-muhlikat). Semangat yang pertama ini menjadi basis kesalehan individual.

Lalu, kedua, semangat pengembangan alias motivasi dan dukungan (hatstsun wa `amalun) terhadap hal-hal yang memuliakan, konstruktif, atau dalam bahasa Imam Ghazali, dukungan terhadap hal-hal yang menyelamatkan manuisa (hatstsun ila al-munjiyat). Semangat yang kedua ini menjadi pangkal kepedulian sosial yang pada gilirannya membentuk kesalehan sosial.

Dimensi sosial dalam ibadah puasa sangat kentara ditilik dari beberapa hal ini. Pertama, orang yang puasa harus menahan diri dari rasa haus dan lapar.

Ini merupakan latihan agar kita mampu mengendalikan diri dari dorongan syahwat yang berpusat di perut (syahwat al-bathn). Ia juga merupakan sarana agar kita bisa berempati kepada orang-orang miskin.

Orang yang tak pernah lapar, ia tidak bisa berempati kepada orang lain. Mungkin itu sebabnya, ketika Malaikat Jibril AS menawarkan kepada Rasulullah SAW kekayaan melimpah (bukit emas), beliau menolaknya, seraya bekata: “Biarlah aku kenyang sehari dan lapar sehari.”

Penting diketahui, lapar itu ada dua macam, yaitu lapar biologis dan lapar psikologis. Lapar biologis lekas sembuh dengan makan. Lapar psikologis, seperti lapar kekuasaan, kehormatan, dan kekayaan, tak gampang disembuhkan.

Puasa menyembuhkan kedua macam lapar itu sehingga kita bisa terbebas dari penyakit vested interest, untuk selanjutnya lebih peduli dan sadar akan kepentingan orang lain (sosial).

Kedua, orang yang puasa disuruh banyak bederma. Nabi SAW menyebut, bulan puasa sebagai Syahr al-Muwasah atau bulan kepedulian sosial. Rasulullah SAW sendiri merupakan orang yang paling banyak bederma, dan dalam bulan Ramadhan, beliau lebih kencang lagi bederma, melebihi angin barat. (HR Hakim dari Aisyah).

Ketiga, pada penghujung puasa, kita disuruh mengeluarkan zakat fitrah, di luar zakat mal, tentu saja. Kewajiban ini seakan melengkapi dimensi sosial dari ibadah puasa. Karena, tanpa zakat, pahala puasa kita belum sampai kepada Allah. Ia masih bergantung dan berputar-putar di atas langit.

Di luar semua itu, puasa melatih dan mendidik kita agar menjadi manusia bermental giver (pemberi), bukan taker (peminta-minta). Ungkapan take and give yang populer di masyarakat kita, tentu tidak sejalan dengan sepirit puasa. Ungkapan itu semestinya berbunyi,giving and receiving.

Orang puasa sejatinya sedang meneladani Allah SWT, sejalan dengan doktrin, “Takhallaqu bi akhlaq Allah.” Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Nabi Muhammad SAW juga demikian.

Maka, orang yang berpuasa diminta meneruskan kasih sayang Allah dan Rasul itu kepada umat manusia dengan cara berbuat baik dan berbagi kegembiraan. Dengan begitu, puasa membuat kita cerdas, baik secara moral, spiritual, maupun sosial, dan inilah karakter orang takwa. Wallahu a`lam. (Sumber: Republika)

Pembangunan Masjid Al Ikhlas sampai 5 Juni 2016

Pembangunan masjid Al Ikhlas, Kebonduren, Kelurahan Kalimulya, Kota Depok, Jawa Barat sampai dengan tanggal 5 Juni 2016 masih membutuhkan penyelesaian untuk plafon lantai atas. Alhamdulillah, usen dan kaca  jendela di lantai atas, serta finishing tembok (aci) bagian teras depan sudah selesai. Berikut foto kondisi masjid per 10 Januari 2016.