• Arsip

  • http://picasion.com/
  • Terjemahkan ke dalam Bahasa:

  • April 2008
    S S R K J S M
    « Mar   Jul »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

Maulid Nabi: Melahirkan Kembali Idola Sejarah

“Eropa menyusui bayi-bayi dengan sejarah negeri dan nenek moyangnya,” tulis Muhyiddin al-Khayyath dalam kata pengantar Durus al-Tarikh al-Islamiy. Al-Khayyath menulis sebuah titik balik peradaban Barat, di mana penciptaan identitas bangsa dapat “melahirkan” sebuah peradaban yang memukau.

Sejarah melahirkan satu segi dari sekian banyak identitas seseorang. Identitas seseorang sebagai bagian dari bangsa akan lahir jika ia membaca sejarah bangsanya. Begitu pula identitas dia sebagai penganut agama akan ditemukan—di antaranya—melalui sejarah agamanya.

Sejarah melahirkan banyak tokoh idola di luar dunia empirik. Tokoh idola adalah bagian penting dari identitas yang paling sejati dari seseorang. Figur idola menjadi miniatur dari idealisme, kristalisasi dari berbagai falsafah hidup yang diyakini.

Tradisi keyakinan selalu mengupayakan pengidolaan. Tanpa itu, keyakinan akan kehilangan muara. Di dunia Islam, ada tradisi maulid: momen yang diciptakan untuk “menghidupkan” idola melalui teks-teks sejarah.

Dalam bentuknya sebagai ritual-seremonial, memang masih ada perdebatan panjang soal keabsahan maulid. Tapi, perdebatan itu berada di seputar bentuk dan cara, bukan pada esensi “penghijauan sejarah” dan “penyegaran ketokohan” yang diupayakan lewat tradisi peringatan maulid.

“Sedekah, berhias dan kegembiraan pada tanggal kelahiran Nabi Muhammad saw merupakan ekspresi hati seseorang akan kecintaan, pengagungan dan penghormatannya terhadap beliau. Ini juga ekspresi syukur atas karunia Allah mengutus beliau untuk membawa rahmat bagi segenap umat manusia,” demikian tulis Syihab al-Din Abu Muhammad al-Syafi’i dalam al-Ba’its ala Inkar al-Bida’.

Apa yang ditulis Syihab al-Din tidak lebih dari upaya mencari titik paling akar dari peringatan maulid Nabi: bahwa tradisi tersebut merupakan bentuk riil dari upaya untuk melahirkan kembali idola tertinggi bagi generasi umat ini.

Sebagai sebuah seremonial, peringatan Maulid Nabi memang baru dilakukan pada pertengahan Abad ke-6 Hijriah. Tradisi ini dimulai di Mosul oleh Syaikh Umar bin Muhammad al-Mala, kemudian dikembangkan oleh Muzhaffar al-Din bin Zaynuddin (549 – 630), penguasa Irbil. Tapi, esensi maulid sebagai penghadiran tokoh sejarah secara praktis sudah sangat mengakar sejak generasi pertama umat Islam. Para shahabat adalah orang-orang yang paling “gemar” menghadirkan sejarah Rasulullah dalam ruang kehidupan mereka, mulai dari urusan rumah tangga sampai masalah politik dan militer.

Kehadiran sejarah Rasulullah menjadi inspirasi paling sempurna bagi seorang muslim dalam menjalani apapun dalam realitas hidupnya. Shalah al-Din al-Ayyubi, panglima agung muslimin dan teman perjuangan Muzhaffar dalam Perang Salib, menggunakan tradisi pembacaan sejarah Nabi sebagai strategi untuk menggedor motivasi pasukannya. Ada sisi-sisi sejarah Nabi yang memberikan gambaran sempurna sebuah jiwa heroik dan ksatria. Maka, al-Ayyubi meletakkan Rasulullah sebagai idola militer tentaranya melalui tradisi pembacaan sejarahnya.

Upaya al-Ayyubi membangkitkan heroisme muslimin vis a vis Pasukan Salib dalam bentuknya paling suspens. Dan itu mutlak diperlukan sebagai urat nadi dari sebuah perlawanan dan perjuangan. Al-Ayyubi memenangkan Perang Salib, mengusir mereka dari Baytul Maqdis dan daerah-daerah muslimin yang lain—mungkin salah satu berkat pengidolaan sejarah dan motivasi historik yang terus ditanamkan dalam ruang pikiran, jiwa dan pandangan hidup mereka.

Sejarah dibaca memang untuk melahirkan tokoh di masa lampau. Ini menjadi salah satu filosofi dari displin sejarah itu sendiri. Dalam tradisi maulid kita, hal itu sangat kental. Bahkan, tidak hanya melahirkan tapi juga menyegarkan kembali bahwa hanya ada satu tokoh kunci dalam keyakinan kita: Nabi Muhammad saw.

Menciptakan idola dari tokoh dalam sejarah adalah hal yang cukup sulit. Tokoh sejarah hanya digambarkan dalam bentuk cerita-cerita, tidak bersentuhan secara empirik dengan realitas yang sedang kita alami. Gambaran dalam sejarah tidak sekongkrit ketika seseorang secara langsung bertemu atau merasakan sendiri bagaimana sepak terjang tokoh itu. Diperlukan penciptaan momen yang tepat agar sejarahnya hadir, menyentuh dan meninggalkan pengaruh semi-empirik terhadap seseorang. Di sinilah, peringatan sejarah secara serentak seperti Maulid Nabi menemukan urgensitasnya yang paling esensial.

Seseorang lebih mudah mencintai ayah, ibu, saudara atau temannya daripada mencintai Rasulullah, karena ada interaksi langsung dengan mereka. Lebih mudah mengidolakan tokoh yang berada di sekeliling kita daripada mengidolakan tokoh sejarah seperti Rasulullah saw. Kita bisa bersentuhan langsung dengan kiprah dan kepribadian orang-orang yang berada di sekeliling kita. Mereka lebih mudah mengisi ruang pikiran dalam hidup kita daripada tokoh sejarah.

Sulitnya menghadirkan tokoh sejarah di detak dada, diakui oleh Rasulullah sendiri. Beliau memberikan posisi istemewa untuk orang-orang yang mempercayai beliau padahal mereka tidak pernah melihat beliau. “Mereka saudara-saudaraku,” sabda beliau dalam sebuah hadits. Untuk para shahabat, Rasulullah tidak menyebut “saudara”, tapi “teman”.

Keyakinan terhadap tokoh sejarah menjadi salah satu bagian paling inti dari agama. Dalam al-Durr al-Mantsur, al-Suyuthi menyebutnya sebagai keimanan terhadap al-ghayb—dalam arti tidak hadir dalam realitas hidup. Kepercayaan terhadap al-ghayb ini merupakan point pokok dari religiusisme.

Makna Maulid Nabi yang dalam dunia kita terus diperingati setiap tanggal kelahiran beliau bukan lagi sebuah kesemarakan seremonial, tapi sebuah momen spiritual untuk mentahbiskan beliau sebagai figur tunggal yang mengisi pikiran, hati dan pandangan hidup kita.

Dalam maulid kita tidak sedang membikin sebuah upacara, tapi perenungan dan pengisian batin agar tokoh sejarah tidak menjadi “fiktif” dalam diri kita, tapi betul-betul secara kongkrit tertanam, mengakar, menggerakkan detak-detak jantung dan aliran darah ini. Maka—seperti al-Ayyubi yang menghadirkan Nabi Muhammad di medan perang—kita mesti menghadirkan beliau dalam ruang hidup yang lain. Tidak hanya dalam bentuk cerita-cerita yang mengagumkan, tapi juga semangat keteladanan dalam menjalani realitas hidup ini.

Selamat melantunkan gubahan syair-syair maulid Simth al-Durar atau al-Dayba’i. Semoga tidak hanya menjadi “lagu wajib” dalam sebuah upacara, tapi juga not-not ajaran yang menggerakkan pikiran, hati, pandangan hidup dan sikap kita—tanpa henti.

(A. Dairobi Naji (dairobi@telkom.net), santri pondok pesantren Sidogiri. Tulisan ini disadur utuh-utuh dari situs http://www.sidogiri.com )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: