• Arsip

  • http://picasion.com/
  • Terjemahkan ke dalam Bahasa:

  • April 2008
    S S R K J S M
    « Mar   Jul »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

Merenungkan Makna Maulid

Kembali kita memperingati Maulid Nabi, hari kelahiran Rasulullah SAW. Tradisi tersebut dimulai oleh Salahuddin al Ayyubi, panglima perang Mesir kelahiran Kurdi yang humanis. Sejak itu, di mana-mana umat Islam memperingatinya dengan kegiatan pengajian atau ceramah. Ada juga yang menganggapnya sebagai bid’ah (yang dilarang karena diperintahkan oleh Nabi).

Memperingati Maulid atau tidak, UJE yakin umat Islam tetap mencintai dan menghormati beliau. Beliau telah membimbing umat Islam mengenal Allah SWT dan menjalani kehidupan yang tidak mempertentangkan dunia dan akhirat, tetapi memadukan keduanya. Kita memperingati Maulid dengan merenungkan makna mencintai Rasulullah.

Kecintaan kepada Rasulullah (dan keluarganya) diungkapkan dalam berbagai bentuk. Shalawat untuk Nabi diciptakan oleh para ulama terdahulu, dan diyakini bahwa setiap shalawat mengandung keutamaan tertentu. Kasidah digubah oleh sastrawan terkemuka seperti Kasidah Barzanji.

Menurut UJE, cara paling utama menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah dengan meneladani perilaku beliau yang mulia terhadap Allah SWT dan sesama manusia. Bahkan juga kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Perilaku mu’amalah Rasulullah sungguh mulia. Beliau adalah seorang pemimpin yang cerdas, egaliter, adil, dan tidak mendahulukan kepentingan pribadi. Beliau tegas dan berani, tetapi halus dalam komunikasi.

Orientasi beliau bukan pada kekuasaan atau harta, tetapi betul-betul pada kemaslahatan umat dan kejayaan Islam. Kita tahu beliau ditawari jabatan oleh para tokoh Qurais dengan syarat tidak boleh menyiarkan Islam, tetapi beliau menolak. Bandingkan dengan kebanyakan kita yang mengejar jabatan dengan cara-cara yang justru dilarang oleh agama.

Beliau juga tidak pernah menumpuk kekayaan. Saat-saat terakhir kehidupan beliau, dalam keadaan kritis, beliau masih teringat mempunyai uang simpanan sebanyak tujuh dinar. Siti Aisyah RA, istri beliau, diminta mengambil uang itu untuk dibagikan kepada fakir miskin. Beliau berkata, “Bagaimana gerangan persangka Muhammad terhadap Tuhannya sekiranya dia menemui Tuhannya sedang di tangannya masih tergenggam benda ini.”

Bandingkan beliau dengan kita yang masih tergiur harta sampai tua, bahkan hingga menjelang ajal. Bukan tidak mungkin harta itu diperoleh secara tidak halal dan seharusnya disedekahkan supaya tidak mengganggu perjalanan kita menghadap Sang Pencipta. Mari kita renungkan makna Maulid Nabi. (diambil dari UJE CENTRE)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: