• Arsip

  • http://picasion.com/
  • Terjemahkan ke dalam Bahasa:

  • November 2008
    S S R K J S M
    « Jul   Apr »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930

Kajian Fiqih: Mengkombinasikan niat

Banyak pertanyaan seputar menggabung dua niat dalam satu ibadah, misalnya puasa membayar hutang (qadla) Ramadhan digabungkan dengan puasa Syawah enam hari. Sahkah ibadah seperti itu?

Para fuqoha membahas hal tersebut tersebut dalam masalah at-tasyriik fin niyyah
(mengkombinasikan niyat). Imam Suyuthi dalam kitabnya yang sangat masyhur al-Ashbah wan
Nadlair menyebutkan bahwa menggabung dua ibadah ada beberapa kriteria.

Kreiteria Pertama: meniatkan satu ibadah dengan disertai niat lain yang bukan ibadah dan
tidak boleh dimasukkan dalam ibadah tersebut, seperti menyembelih hewan ditujukan untuk
Allah dan lainnya, ini bisa menyebabkan haramnya sembelihan tadi, apalagi kalau
ditujukan untuk tujuan syirik. Namun ada juga yang tidak membatalkan ibadah tadi,
seperti berwudlu atau mandi namun dengan menertakan niat mendinginkan badan. Alasannya
karena mendinginkan badan tadi meskipun tanpa niat juga tercapai dengan wudlu dan mandi,
maka tidak mengurangi keikhlasan. Contoh lain masalah ini adalah puasa sunnah dengan
tujuan pengobatan dan haji dengan tujuan berdagang. Ibnu Abdussalam mengatakan ibadah
seperti itu tidak mendatangkan pahala, namun Imam Ghozali mengatakan dilihat dari mana
niat yang lebih banyak, kalau yang lebih besar adalah niat karena Allah maka tetap dapat
pahala.

Kriteria Kedua: meniatkan satu ibadah dengan ibadah lain. Ini ada beberapa bentuk,
Pertama: menggabung ibadah fardlu dengan fardlu lain. Ini tidak sah kecuali beberapa
masalah, yaitu haji qiran, dimana didalamnya digabung ibadah umrah wajib dan haji wajib.
Contoh lain adalah mandi sambil menyelam dengan niat wudlu juga. Adapun menggabung
sholat dhuhur dan ashar dalam satu amalan hukumnya tidak sah.
Kedua: menggabung ibadah fardlu dengan sunnah, ini ada yang sah dan ada yang tidak sah.
Contoh yang sah adalah: ketika masuk masjid dan jamaah telah dimulai, kemudian kita niat
sholat fardlu dan tahiyyatul masjid juga. Menurut mazhab Syafii keduanya sah dan
mendapatkan pahala. Begitu juga seseorang yang mandi junub hari jum’at, kemudian dia
niat mandi wajib dan jum’at sekaligus. Adapun contoh yang jadi adalah sunnahnya, seperti
seseorang memberi uang kepada fakir miskin dengan niat zakat dan sedekah, maka yang sah
sedekahnya bukan zakatnya. Pendapat Hanafi yang sah zakatnya.
Ada juga contoh yang sah fardlunya, seperti orang haji berniat fardlu dan wajib,
padahal dia belum pernah haji maka yang jadi wajibnya.
Ketiga: menggabung dua ibadah sunnah. Hukumnya menurut mayoritas ulama sah. Qaffal
diriwayatkan mengatakan hukumnya tidak sah. Contohnya seseorang mandi untuk shoat ied
dan jum’at sekaligas karena kebetulan harinya bersamaan, ini sah untuk keduanya. Contoh
lain orang masuk masjid dan sebentar lagi iqamah, lalu ia menggabung sholat qabliyah dan
tahiyyatul masjid, ini sah menurut semua madzhab.

Madzhab Hanafi mengatakan boleh menggabung dua niat dalam satu ibadah, apabila ibadah
itu masuk ibadah perantara seperti mandi. Adapun dalam ibadah yang substansi maka
menggabung dua fardlu tidak boleh, seperti sholat empat waktu dengan niat dhuhur dan ashar.
Permasalahan menggabung dua niyat dalam ssatu ibadah juga berlaku bagi mereka yang ingin
melakukan puasa qadla Ramadhan sambil melakukan sunnah Syawal. Apakah puasanya sah?
Ulama berbeda pendapat dalam masalah tersebut. Ada yang mengatakan jadi puasa qadla dan
puasa syawalnya tidak sah. Ada yang mengatakan yang sah puasa sunnahnya dan hutangnya
belum gugur. Bahkan ada yang mengatakan tidak sah keduanya dan amalnya sia-sia.

Namun demikian Imam Ramli salah seorang ulama besar madzhab Syafii berfatwa ketika
ditanyai tentang seseroang yang qadla Ramadhan di bulan Syawal sambil niat puasa enam
hari bulan Syawal apakah sah? Beliau menjawab, gugur baginya hutang puasa dan kalau dia
berniat juga sunnah syawal maka baginya pahala puasa sunnah tersebut. Imam Ramli
mengatakan bahwa itu pendapat beberapa ulama kontemporer.

Namun demikian, bagi yang mampu dan kuat, maka sebaiknya niat itu satu-satu. Artinya
kalau mampu, maka puasa qadla dulu baru melakukan sunnah syawal. Atau kalau kurang
mampu, maka puasa syawal dulu karena waktunya pendek hanya sebulan, lalu mengqadla
Ramadhan di bulan lain karena waktunya fleksibel selama setahun hingga Ramadhan
berikutnya. (Kalau terlambat terkena denda fidyah). Kalau merasa kurang mampu juga, maka
baru bisa melirik pendapat imam Ramli tadi. Wallahu a’lam bissowab.

Disusun: Ustadz Muhammad Niam, LLM
Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: