Menabung untuk akhirat

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al Ikhlas yang dihadiri oleh Ustadz Jefry Al Bukhori dan pejabat teras Kota Depok sudah setahun berlalu (peletakan batu pertama Kamis, 24 April 2008). Namun, pembangunan masjid seluas 18 m X 18 meter itu belum juga usai. Kendala utama terletak pada pendanaan.

Memang, masjid yang terdiri dari dua lantai itu dirancang juga sebagai gedung serba guna. Bagian atas untuk menjalankan aktifitas keagamaan, sedangkan lantai dasar akan menjadi gedung serba guna untuk berbagai keperluan seperti hajatan, pertemuan warga atau aktifitas publik lainnya.

Tentunya, konsep tersebut membawa konsekuensi pada tingginya biaya pembangunan masjid yang diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp 2,8 miliar. Bantuan dana dari berbagai pihak seperti pengembang Taman Anyelir, Telkom dan pengusaha sekitarnya belum juga menuntaskan pembangunan tersebut.

Berbagai upaya penggalangan dana telah ditempuh. Menyebarkan proposal dan surat kesediaan menjadi donatur tetap belum menghasilkan dana yang diharapkan. Kini, panitia memfokuskan pada penggalangan dana ke warga setempat. Walau mungkin hasilnya tak sebesar bantuan dari pihak luar, namun dana rutin itu diharapkan akan mempercepat proses pembangunan.

Cara yang ditempuh tak lagi menyodorkan proposal atau surat sejenis, tetapi dengan menyebarkan celengan pada setiap keluarga. Celengan itu diambil panitia setiap awal bulan. Celengan ini diyakini mempunyai daya jangkau lebih luas ketimbang proposal karena semua pihak bisa berpartisipasi.

“Mengisi celengan masjid menjadi tanggung jawab semua penghuni. Dua anak saya wajib menyisihkan uang jajannya dan memasukkannya ke celengan,” ujar seorang warga. Istrinya pun bisa memasukkan uang sisa belanja ke tabungan akhirat itu.

Makin banyak yang mengisi tentunya isinya pun lebih banyak dari biasanya. Dan yang penting, lanjut warga itu,   “Saya mengajari anak untuk beramal dan bertanggung jawab terhadap pembangunan masjid.” Menurutnya, pembangunan masjid bukan menjadi tanggungjawab pihak luar, pemerintah atau pengusaha antah berantah tetapi menjadi beban warga sekitar. Toh, mereka juga akan memanfaatkan masjid tersebut.

Celengan masjid itu akan menumbuhkan kesadaran untuk beramal dan kesadaran bahwa tanggung jawab pembangunan masjid adalah tanggung jawab bersama warga. Kesadaran seperti ini harus ditumbuhkan sejak kecil agar mental dan moral mereka dididik untuk mandiri dan tidak menggantungkan pada pihak lain.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: