Taskhir

Taskhir atau ketundukan alam semesta kepada manusia sebagai khalifah disebut dalam surah Alhajj [22] ayat 65. ”Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya?” Konsep taskhir menarik untuk dikaji karena kita sering melihat bencana alam yang menyebabkan jatuhnya korban manusia. Di mana letak ketundukan alam dalam hal ini?

Taskhir dalam Islam mempunyai prasyarat. Alam raya tunduk sepanjang manusia menjalankan fungsi kekhalifahannya dengan benar. Manakala manusia melakukan eksplorasi alam yang melampaui ambang daya dukungnya dan sesama mereka saling menghujat dan menyebabkan pertumpahan darah; tidak ada jaminan alam semesta akan tunduk (QS Arrum [30]: 41).

Ketika para pemimpin masyarakat tidak lagi memihak keadilan dan kemaslahatan, masyarakat mengabaikan akal sehat dan hati nurani, para pebisnis tidak lagi mengindahkan etika bisnis, para ulama dan ilmuwan sudah kehilangan pertimbangan objektivitas; ketika itu bencana senantiasa mengintai manusia.

Wabah dan bencana sering kali diawali oleh berbagai penyimpangan perilaku masyarakat. Perilaku alam raya makrokosmos sering kali berbanding lurus dengan perilaku manusia mikrokosmos. Umat Nuh yang keras kepala (QS Annajm [53]: 52) ditimpa bencana banjir (QS Hud [11]: 40).

Umat Shaleh yang hedonistik (QS Asysyu’ara [26]: 146-149) ditimpa keganasan virus dan gempa bumi (QS Hud [11]: 67-68). Umat Luth yang dilanda penyimpangan seksual (QS Hud [11]: 78-79) pun ditimpa gempa dahsyat (QS Hud [11]: 82).

Hujan yang tadinya menjadi sumber air bersih dan pembawa rahmat (QS Al-An’am [6]: 99) tiba-tiba menyebabkan banjir yang memusnahkan areal kehidupan manusia (QS Albaqarah [2]: 59). Angin, yang tadinya berperan dalam proses penyerbukan dalam dunia tumbuh-tumbuhan (QS Alkahfi [18]: 45) dan mendistribusi awan (QS Albaqarah [2]: 164), tiba-tiba tampil ganas meluluhlantakkan segala sesuatu yang dilewatinya (QS Fushshilat [41]: 16). Laut yang tadinya jinak melayani mobilitas manusia (QS Alhajj [22]: 65) tiba-tiba mengamuk dan menggulung apa saja yang dilaluinya (QS Attakwir [81]: 6).

Disparitas flora dan fauna tadinya tumbuh seimbang mengikuti hukum-hukum ekosistem (QS Arra’ad [13]: 4). Namun, tiba-tiba berkembang menyalahi pertumbuhan deret ukur kebutuhan manusia sehingga kesulitan memenuhi komposisi kebutuhan karbohidrat dan proteinnya secara seimbang (QS Al-A’raf [7]: 132). Ini semua menjadi isyarat bahwa taskhir tidak sepantasnya membuat manusia menjadi angkuh. (Prof Dr Nasaruddin Umar – Republika)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: