• Arsip

  • http://picasion.com/
  • Terjemahkan ke dalam Bahasa:

  • Juni 2010
    S S R K J S M
    « Mei   Jul »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

Memakmurkan Masjid*

Ust. Syaifuddin Siddiq, MA(oleh Ustadz Syaifuddin Siddiq, MA – Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidyatullah Jakarta)

Masjid tak boleh dipakai untuk kampanye karena kampanye banyak kebohongan. Masjid adalah tempat untuk pengajian yang membawa kebenaran berdasar Alquran dan Hadist.

Dalam kuliah duha  yang diselenggarakan Minggu, 27 Juni 2010 di Masjid Al Ikhlas, Kebonduren, Kelurahan Kalimulya, Depok, Jawa Barat, Ustadz Syaiffudin mengawali penjelasannya dengan menerangkan kata makmur. Makmur berasal dari Bahasa Arab yang berarti meramaikan. “Jadi  makmur bukan berarti  badan yang subur, “ jelasanya. Dengan demikian memakmurkan masjid berarti meramaikan masjid.

Dengan kata lain, masjid harus dipakai untuk shalat berjamaah bagi warga selama lima waktu. Fenomena yang banyak berkembang adalah bangunan masjidnya banyak, tetapi selalu kosong saat waktu shalat tiba. Lalu, siapa yang memakmurkan masjid?  “Pertama, orang beriman. Dan kedua orang yang mendirikan shalat’” lanjut ustadz yang sedang mengambil pendidikan  S3 itu.

Ustadz membedakan menjadi dua kategori karena keduanya memang berlainan. Orang beriman adalah orang yang menjalankan shalat dan syariat lain serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan orang yang sekedar mendirikan shalat adalah STMJ. “Bukan Susu Telor Madu dan Jahe, tetapi Shalat Terus Maksiat Jalan,” lanjutnya. Jadi, mereka menjalankan shalat sekedar memenuhi kewajiban. Hanya formalitas.

Majelis Duha Masjid Al IkhlasUstadz menekankan bahwa masjid memiliki tiga fungsi yaitu tempat bersujud, majelis ilmu, serta tempat bermusyawarah. Sebagai majelis ilmu, masjid adalah tempat menimba ilmu yang bermanfaat. Jadi bukan sekedar ilmu agama saja. “Matematika ilmu bermanfaat, kedokteran ilmu bermanfaat. Jadi boleh saja menimba ilmu seperti itu di masjid,” tekannya.

Menimba ilmu wajib hukumnya bagi muslim. Karena ilmu akan menjaga kita, kalau diberikan pada orang lain makin bertambah, dan dengan ilmu akan memperbanyak kawan. Sebaliknya, harta memiliki sifat yang berlainan. Kita yang harus menjaga harta. “Mana ada orang menaruh mobil di jalanan. Takut hilang,” jelasnya. Harta, kalau kita berikan kepada orang lain, akan berkurang. Dan dengan harta pula kita bisa dibenci orang dan memiliki banyak musuh jika kita tak mau bersedekah dan berbagi dengan sesama.

Untuk mengukur tingkat keimanan seseorang, bisa dirasakan saat mereka memasuki masjid. Jika dirinya merasa seperti ikan yang masuk ke dalam air, berarti dia termasuk golongan orang beriman. “Ikan akan senang ketika masuk air karena di situlah habitatnya,” tambah Syaiffudin. Sebaliknya, jika saat memasuki masjid mereka merasa bagai burung di dalam sangkar, berarti tingkat keimanannya masih dipertanyakan. Burung selalu ingin lepas dari sangkar karena dirinya merasa dipenjara dan dikekang kebebasannya. (Materi diberikan saat kuliah duha yang diselenggarakan setiap bulan di Masjid Al Ikhlas, RW 08 Kebonduren, Kalimulya, Depok, Jawa Barat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: