• Arsip

  • http://picasion.com/
  • Terjemahkan ke dalam Bahasa:

  • Desember 2018
    S S R K J S M
    « Sep    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Iklan

Puasa dan Kesalehan Sosial

RZ Berikan Paket Berbagi  Buka Puasa

 REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr A Ilyas Ismail.

Puasa memang ibadah yang amat istimewa. Hikmah dan kebajikannya bersifat multidimensional, tak hanya moral dan spiritual, tetapi juga sosial. Puasa tak hanya membentuk kesalehan pribadi (individual), tetapi sekaligus juga kesalehan sosial.

Puasa memiliki dua semangat yang sangat baik dilihat dari perspektif pendidikan akhlak. Pertama, semangat pencegahan (kaffun wa tarkun)dari hal-hal yang destruktif (al-muhlikat). Semangat yang pertama ini menjadi basis kesalehan individual.

Lalu, kedua, semangat pengembangan alias motivasi dan dukungan (hatstsun wa `amalun) terhadap hal-hal yang memuliakan, konstruktif, atau dalam bahasa Imam Ghazali, dukungan terhadap hal-hal yang menyelamatkan manuisa (hatstsun ila al-munjiyat). Semangat yang kedua ini menjadi pangkal kepedulian sosial yang pada gilirannya membentuk kesalehan sosial.

Dimensi sosial dalam ibadah puasa sangat kentara ditilik dari beberapa hal ini. Pertama, orang yang puasa harus menahan diri dari rasa haus dan lapar.

Ini merupakan latihan agar kita mampu mengendalikan diri dari dorongan syahwat yang berpusat di perut (syahwat al-bathn). Ia juga merupakan sarana agar kita bisa berempati kepada orang-orang miskin.

Orang yang tak pernah lapar, ia tidak bisa berempati kepada orang lain. Mungkin itu sebabnya, ketika Malaikat Jibril AS menawarkan kepada Rasulullah SAW kekayaan melimpah (bukit emas), beliau menolaknya, seraya bekata: “Biarlah aku kenyang sehari dan lapar sehari.”

Penting diketahui, lapar itu ada dua macam, yaitu lapar biologis dan lapar psikologis. Lapar biologis lekas sembuh dengan makan. Lapar psikologis, seperti lapar kekuasaan, kehormatan, dan kekayaan, tak gampang disembuhkan.

Puasa menyembuhkan kedua macam lapar itu sehingga kita bisa terbebas dari penyakit vested interest, untuk selanjutnya lebih peduli dan sadar akan kepentingan orang lain (sosial).

Kedua, orang yang puasa disuruh banyak bederma. Nabi SAW menyebut, bulan puasa sebagai Syahr al-Muwasah atau bulan kepedulian sosial. Rasulullah SAW sendiri merupakan orang yang paling banyak bederma, dan dalam bulan Ramadhan, beliau lebih kencang lagi bederma, melebihi angin barat. (HR Hakim dari Aisyah).

Ketiga, pada penghujung puasa, kita disuruh mengeluarkan zakat fitrah, di luar zakat mal, tentu saja. Kewajiban ini seakan melengkapi dimensi sosial dari ibadah puasa. Karena, tanpa zakat, pahala puasa kita belum sampai kepada Allah. Ia masih bergantung dan berputar-putar di atas langit.

Di luar semua itu, puasa melatih dan mendidik kita agar menjadi manusia bermental giver (pemberi), bukan taker (peminta-minta). Ungkapan take and give yang populer di masyarakat kita, tentu tidak sejalan dengan sepirit puasa. Ungkapan itu semestinya berbunyi,giving and receiving.

Orang puasa sejatinya sedang meneladani Allah SWT, sejalan dengan doktrin, “Takhallaqu bi akhlaq Allah.” Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Nabi Muhammad SAW juga demikian.

Maka, orang yang berpuasa diminta meneruskan kasih sayang Allah dan Rasul itu kepada umat manusia dengan cara berbuat baik dan berbagi kegembiraan. Dengan begitu, puasa membuat kita cerdas, baik secara moral, spiritual, maupun sosial, dan inilah karakter orang takwa. Wallahu a`lam. (Sumber: Republika)

Iklan

Dua Kegembiraan Mereka yang Berpuasa

Umat Islam mengisi waktu siang hari saat berpuasa dengan membaca kitab suci Alquran. (foto: Antara/Yusran Uccang/ca)

Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan, yaitu saat berbuka puasa dia bergembira dengan makanannya, dan jika bersua Rabbnya dia bergembira dengan puasanya.” (HR Bukhari Muslim)
Kegembiraan orang yang berpuasa saat berbuka merupakan kegembiraan yang alami karena dia mendapatkan kebebasannya kembali dari apa yang tadinya dilarang. Kegembiraan berbuka puasa juga merupakan kegembiraan yang religius karena dia berhasil menyelesaikan ibadah puasanya.

Berbuka puasa adalah momentum yang sangat efektif untuk meningkatkan kebersamaan antara sesama anggota keluarga dalam sebuah rumah tangga.

Kalau pada hari-hari biasa sangat sulit untuk mencari waktu makan bersama antara suami istri karena kesibukan masing-masing, apalagi makan bersama lengkap dengan anak-anak, dalam bulan Ramadhan ini kesempatan itu datang lebih banyak—kalau bukan setiap hari—tatkala buka puasa.

Kesempatan kebersamaan itu lebih banyak lagi, bahkan mungkin bisa setiap hari tatkala makan sahur. Kebersamaan antara seluruh anggota keluarga pada waktu berbuka dan sahur akan meningkatkan soliditas keluarga tersebut.

Begitu juga acara buka bersama yang diadakan dalam komunitas tertentu, seperti di masjid untuk lingkungan RT, di kantor untuk lingkungan kerja, di kampus untuk civitas akademika, di organisasi massa atau lingkungan para pejabat negara, tentu juga akan meningkatkan kebersamaan.

Kegembiraan waktu berbuka, gelak tawa, dan canda serta obrolan-obrolan ringan menjelang berbuka puasa tentu sangat bermanfaat untuk meningkatkan kebersamaan. Sekat, sumbat, dan hambatan komunikasi yang hari-hari biasa sukar dihilangkan, dalam suasana berbuka bersama akan mudah terpecahkan.

Di samping acara buka puasa bersama yang diadakan dalam komunitas tertentu, juga tidak sedikit para muhsinin yang menjamu orang-orang miskin dan anak-anak yatim untuk berbuka puasa bersama.

Ada yang menjamu langsung ke rumah yang bersangkutan, dan ada juga yang mengadakannya di panti-panti asuhan atau cukup mengirim paket buka puasa dalam jumlah tertentu.

Tidak sedikit juga yang di samping jamuan buka puasa, mereka membagikan tanda mata atau rupa-rupa hadiah berupa barang-barang keperluan harian, perlengkapan shalat, dan perlengkapan sekolah.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menjamu dan membagi-bagikan bantuan untuk kaum yang tidak berpunya itu adalah cara menyampaikannya.

Harus diberikan dengan cara-cara yang mulia, artinya tetap memuliakan mereka yang tidak beruntung secara finansial tersebut. Jangan lagi terjadi kecerobohan dalam membagi-bagikan bantuan sehingga tidak hanya terkesan merendahkan martabat fuqara dan masakin, tapi juga dapat membahayakan nyawa mereka seperti sudah pernah terjadi beberapa kali.

Penulis terkesan pernah mendampingi wali kota dan wakil wali kota suatu kota, bersama pejabat sipil dan militer mengantarkan paket bantuan ke rumah-rumah orang-orang miskin.

Data orang-orang miskin beserta alamat mereka dikumpulkan oleh para reporter media yang biasa meliput di kantor-kantor pemerintahan setempat. Ini merupakan kerja sama yang indah dan bermanfaaat. Demikianlah sekelumit gambaran kebersamaan dalam bulan Ramadhan yang dapat meningkatkan solidaritas umat. (Sumber Republika, Penulis: Yunahar Ilyas)

Kesenangan dan ketenangan

Manusia hidup di dunia umumnya pasti mendamba kesenangan. Bermacam usaha yang dilakukan manusia tujuannya tidak lain adalah agar memperoleh kesenangan hidup itu. Persoalannya, apakah kesenangan hidup otomatis mendatangkan ketenangan hidup?

Islam membedakan antara kesenangan dan ketenangan. Buktinya banyak orang hidup senang tetapi justru tidak tenang. Jika meminjam pendapat Imam Ghazali dalam Al-Munqidz min Al-Dhalal, ada empat faktor yang menjadi sumber kesenangan.

Pertama, ilmu pengetahuan. Terlebih di zaman modern ini, orang berilmu berpeluang lebih besar mendapat kesenangan ketimbang orang bodoh. Contohnya, yang bergelar sarjana lebih mudah mendapat pekerjaan mapan daripada yang tidak bergelar.

Kedua, kesehatan. Pasti tidak ada orang yang ingin sakit. Sehat membuat hidup menyenangkan, sakit membuat hidup menggelisahkan. Saat sakit, kita tidak boleh makan sembarangan. Semakin kompleks penyakitnya, semakin banyak pula pantangannya. Juga kita tidak bebas melakukan apa saja seperti ketika sehat.

Ketiga, kekayaan. Orang bekerja, sampai menghalalkan segala cara, maksudnya adalah supaya segera kaya. Orang kaya lebih berpeluang untuk senang ketimbang orang miskin. Dengan harta, orang mudah membeli apa saja, rekreasi kemana saja, bahkan berangkat haji ke Tanah Suci.

Keempat, kesenangan bersumber dari jabatan. Jabatan menjadi jaminan kemudahan-kemudahan dalam hidup. Orang yang punya jabatan tinggi juga lebih dihormati ketimbang orang rendahan. Jabatan membuat hidup jadi mentereng, dan karenanya, menjadi sumber kesenangan.

Persoalannya, punya empat hal itu pasti menjamin hidup kita tenang dan tentram? Tidak. Empat hal di atas belum cukup untuk mendatangkan ketenangan. Ketenangan baru didapat ketika kita punya yang kelima, yaitu hubungan baik dengan Allah.

Batin yang terhubung dengan Allah inilah yang membuat hidup jadi tenang, tenteram. Dan sarana untuk membuat kita connect dengan Allah adalah ibadah. Ibadah secara ikhlas, benar, istiqamah akan menjadi sumber ketenangan. “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (Ar-Ra’du: 28).

Ibadah juga potensial menghalangi kita dari dosa (Al-Ankabut: 45), membersihkan jiwa kita (At-Taubah: 103). Dengan aktif beribadah, hidup kita terbimbing. Selalu merasa kehadiran Allah. Tidak sombong saat mendapat nikmat, tidak putus asa ketika ditimpa musibah.

Sebagai Mukmin, tidak salah kita mendapat ilmu pengetahuan, kesehatan, kekayaan, dan jabatan. Tapi itu semua harus kita topang dengan ibadah. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat kesenangan sekaligus ketenangan. Kesenangan plus ketenangan itulah kebahagiaan.

(Penulis: Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya, dimuat di republika.co.id)

Bahaya Menuduh Kafir

Menuduh adalah suatu perbuatan yang tidak menyenangkan. Orang yang dituduh akan terluka hatinya, apalagi tuduhan yang dialamatkan kepada dirinya tidak disertai dengan bukti-bukti yang benar. Tentu ia akan merasa sangat terzholimi. Tuduhan seperti ini biasanya akan menimbulkan efek-efek negatif, seperti jalinan persaudaraan yang tidak harmonis, penceraian dalam rumah tangga, hilangnya kepercayaan dan harga diri, hilangnya pekerjaan dan jabatan dan sebagainya. Namun efek yang paling berbahaya adalah kerusakan akidah bagi pelakunya.

Oleh sebab itu, Islam telah memperingatkan kepada umatnya supaya tidak melakukan sembarang tuduhan  kepada saudara seagamanya. Peringatan ini bisa dilihat dari beratnya hukuman atas seorang yang menuduh suatu perbuatan keji terhadap sesama saudaranya sendiri. Seperti menuduh melakukan perbuatan zina (qadzaf) sedangkan dia tidak mampu menghadirkan empat orang saksi, maka hukuman bagi orang yang menuduh itu adalah didera sebanyak 80 kali dera. (QS. An-Nur:4-5).

Demikian pula menuduh kafir tanpa keterangan yang dapat dipercaya adalah suatu perbuatan yang tidak dibenarkan dalam Islam. Tuduhan inilah yang menimbulkan efek paling berbahaya tadi, yaitu rusaknya akidah.

Berdasarkan kaidah asas Islam dalam perkara akidah disebutkan, bahwa tidak dibolehkan mengkafirkan seseorang dari golongan ahli kiblat, kecuali dengan bukti yang jelas dan akurat. Sebab pada dasarnya, sosok seorang muslim adalah iman, maka mengkafirkan seorang muslim dengan tanpa alasan yang kuat adalah perbuatan yang dilarang. Sekiranya tuduhan tersebut tidak benar, maka sebaliknya orang yang menuduh itu adalah kafir. Hal ini menunjukan betapa kerasnya larangan melakukan perbuatan menuduh dan saling melemparkan tuduhan kafir tanpa dalil. (Lihat: Dr Wahbah Zuhaili, Akhlakul Muslim: ‘Alaqatuhu bin Nafsi wal Kaun, Darul Fikr al-Mu’asir, Beirut Lubnan, h. 298).

Pendapat di atas didasarkan kepada dalil Alquran surat al-Ruum ayat 44, Allah SWT. berfirman, “Siapa yang kafir, maka dia sendirilah yang menanggung akibat kekafirannya itu; dan barang siapa yang mengerjakan kebajikan, maka mereka menyiapkan untuk diri mereka sendiri (tempat yang menyenangkan).”

Dalam menafsirkan ayat di atas, Prof  Dr Wahbah Zuhaili menjelaskan, bahwa sang penuduh (tanpa bukti yang valid) itu adalah kafir, yaitu entah dia itu fasik karena menutup kebenaran atau ia benar-benar kafir ( kafir mutlak). Sedangkan kufur mutlak, maknanya lebih luas dari fasik. Allah berfirman: “Barang siapa yang kafir setelah datang keterangan-keterangan yang jelas, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS  Al-Nuur: 55).

Sedangkan, Nabi SAW telah menegaskan, bahwa orang yang menyifatkan saudara muslimnya dengan sifat kekufuran, maka hal itu adalah dosa. Bahkan tuduhan itu berbalik kepada dirinya. Sebagaimana diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim dari Abi Dzar RA., bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda: “Barang siapa yang memanggil seseorang dengan kata-kata kafir, atau berkata: wahai musuh Allah, sedangkan tidaklah demikian halnya, maka tuduhan dan kata-kata itu kembali dan berlaku  kepada dirinya.”  (HR  Bukhari dan Muslim)

Keterangan nash Alquran dan Hadis di atas hendaknya menjadi perhatian dan pelajaran bagi setiap muslim supaya lebih berhati-hati dan waspada untuk tidak mudah atau tergesa-gesa melemparkan sebuah tuduhan. Apalagi menuduh kafir terhadap sesama saudara muslim sendiri dengan tanpa bukti atau informasi yang valid.  Sebab, tuduhan tersebut hanya akan membawa akibat yang membahayakan terhadap banyak pihak, terutama pelakunya sendiri. Di mana kemurnian akidahnya bisa rusak, gara-gara menuduh kafir terhadap saudaranya tanpa bukti dan kebenaran yang jelas dan nyata. Wallahu ‘Alam bi Shawab.

(Oleh: Imron Baehaqi Lc – Penulis adalah Pengurus Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia, Bidang Dakwah dan Tarjih. Dimuat di Harian Republika)

Ihsan dan Itqan-lah dalam Mengemban Tugas

Ihsan dan Itqan-lah dalam Mengemban TugasIhsan dan itqan adalah dua istilah yang terdapat dalam Alquran dan sunah yang berkaitan dengan amal perbuatan seorang Muslim yang harus dilakukannya dalam hidup dan kehidupannya di dunia ini. Ihsan berarti optimalisasi dalam kebaikan. Artinya, kebaikan apa pun yang dilakukan seorang Muslim harus selalu optimal dalam persiapan dan pelaksanaannya, agar hasilnya didapat secara optimal pula.

Allah SWT berfirman dalam QS al-Mulk [67]: 2: “(Dia) Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya (optimal). Dan, Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.”

Jika seorang Muslim sedang melakukan ibadah maka dipersiapkan dan dilakukan dengan baik, baik ilmu pengetahuan yang berkaitan dengannya maupun teknis pelaksanaannya. Ketika melaksanakan ibadah haji, misalnya, ilmunya dipersiapkan, tata cara pelaksanaannya disempurnakan, juga menjaga kesehatan jasmani rohani, sehingga betul-betul predikat haji mabrur dapat diraih, termasuk menjaga dan mempertahankannya ketika ia sudah kembali ke kampung halamannya.

Seorang Muslim yang sedang mendapatkan amanah jabatan publik di wilayah eksekutif, legislatif, ataupun yudikatif, ia penuhi amanah tersebut dengan semaksimal mungkin agar betul-betul mampu mempersembahkan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat dan bangsa di wilayah pekerjaannya tersebut. Amanah dan profesionalitas merupakan ciri utama dari pejabat Muslim tersebut. Karena disadarinya, semuanya akan dipertanggungjawabkan kepada konstituennya di dunia ini dan terutama kepada Allah SWT kelak kemudian hari, dan selalu berusaha menjauhi sifat khianat.

Allah SWT berfirman dalam QS al-Anfal [8]: 27: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui.”

Sedangkan, itqan berarti kesungguhan dan kemantapan dalam melaksanakan suatu tugas, sehingga dikerjakannya secara maksimal, tidak asal-asalan, sampai dengan pekerjaan tersebut tuntas dan selesai dengan baik. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melaksanakan suatu pekerjaan, maka pekerjaaan tersebut dilakukannya dengan itqan.” (HR Thabrani).

Karena itu, ihsan dan itqan harus selalu menjadi ruh dan spirit bagi setiap Muslim dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya, baik yang berhubungan dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia, sehingga pekerjaannya itu akan selalu bernilai ibadah dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Wallahu a’lam. (Oleh Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MSc, Republika)

Buah Kesombongan

Buah KesombonganAlquran banyak memaparkan kisah pemimpin dan bangsa-bangsa besar serta kuat yang kemudian dihancurleburkan. Seperti kisah Firaun, Qarun, kaum ‘Ad, Tsamud, serta umat Nabi Nuh. Mereka semua adalah manusia yang menyombongkan diri kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.

Manusia, apa pun status dan jabatannya, tidak memiliki ruang sedikit pun untuk menjadi sombong. Karena secara hakiki, manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan dari bahan yang hina (sperma). Ia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT semata, menjauhi segala larangan-Nya dan menjalankan segala perintah-Nya.

Kemampuan dan kelebihan yang ada pada setiap manusia atau suatu bangsa, tidak lebih dari anugerah Allah yang diamanahkan untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. Bukan untuk dibangga-banggakan, kemudian menganggap rendah yang lain serta dengan sesuka hati berbuat kerusakan di muka bumi. Sebagaimana Firaun telah berbuat brutal terhadap rakyatnya.

“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu (Musa) dari (Firaun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan …. (QS [2]: 49).

Atas perbuatan Firaun yang biadab itulah, Allah kemudian mengutus Musa sebagai pemberi peringatan. Tetapi karena kesombongannya, Allah mengutuk Firaun dan menenggelamkannya bersama seluruh tentaranya. Firaun menolak seruan Nabi Musa karena gengsi sebagai raja, sementara Musa hanya rakyat biasa.

Allah sangat murka kepada manusia yang memiliki sifat sombong. Siapa pun dia, raja ataupun rakyat biasa. Kesombongan yang dilakukannya, akan memperberat timbangan dosa-dosanya. “Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS [44]: 37).

Dalam hubungan antarsesama manusia, kesombongan juga sering terjadi bahkan setiap hari. Kesombongan seperti ini jika terus dipertahankan akan melahirkan sikap angkuh. Keduanya adalah sifat yang sangat berbahaya dan membinasakan.

Luqman al-Hakim memberi nasihat kepada anak-anaknya. “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS [31]: 18).

Ancaman bagi mereka yang sombong tidaklah main-main. Allah SWT akan memasukkan mereka ke dalam Neraka Jahannam selama-lamanya. “Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam, sedangkan kamu kekal di dalamnya. Maka, itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong.” (QS [40]: 76).

Manusia tidak boleh memelihara kesombongan dalam dirinya. Dalam sebuah hadis Qudsi Allah berfirman, “Kebesaran (kesombongan atau kecongkakan) adalah pakaian-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barang siapa merampas salah satu (dari keduanya), Aku lempar dia ke neraka (jahanam). (HR Abu Dawud). Wallahu a’lam. (Oleh Dr Abdul Mannan, Republika)

Ikhlas dalam Bersedekah

Ikhlas dalam Bersedekah Sedekah merupakan salah satu teori yang diberikan oleh Allah SWT untuk melipatgandakan harta yang dimiliki. Entah itu dilipatgandakan di dunia ataupun di akhirat kelak. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir, seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang ia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah [2]: 261).

Sangat menggiurkan sekali iming-iming yang ditawarkan oleh Allah dalam ayat tersebut. Di mana satu berbanding dengan tujuh. Hal inilah yang belum bisa disadari oleh umat Islam. Sebuah teori ekonomi untuk menginvestasikan harta yang dimiliki dengan hasil yang berlipat-lipat.

Ayat di atas pun dijadikan pijakan oleh beberapa ekonom Muslim dalam mengalokasikan hartanya. Di mana dalam konsumsi sehari-hari (konsumsi total) seorang Muslim merupakan penjumlahan dari konsumsi untuk ibadah dengan konsumsi untuk duniawi atau dapat diformulasikan sebagai berikut: Ct = Ci+Cw.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari setiap harta yang dimiliki oleh seorang Muslim terdapat hak orang lain (mustahik) sebagai sebuah solidaritas untuk menolong perekonomian orang-orang yang berkesusahan agar orang-orang yang berkesusahan bisa khusyuk beribadah kepada Allah SWT, tanpa harus menggadaikan akidahnya pada pihak misionaris. “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS as-Saba’: 39).

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata: “Shalat mengantarkanmu setengah jalan, puasa mengantarkanmu ke depan pintu Al-Malik (Sang Maha Raja), dan sedekah memasukkanmu ke hadapan-Nya.”Ibnu Mas’ud menuturkan: “Syahdan, ada seorang laki-laki yang beribadah kepada Allah selama tujuh puluh tahun, kemudian ia melakukan perbuatan zina, maka Allah pun menghapus seluruh amalnya. Setelah itu, ia berpapasan dengan seorang fakir miskin, lalu memberi sedekah kepadanya roti, maka Allah pun mengampuni dosanya dan memuliakan kembali pahala ibadah tujuh tahunnya.

Ubaid bin Umar pun mengatakan: “Pada hari kiamat kelak manusia dikumpulkan dalam kondisi lapar yang belum pernah mereka alami sebelumnya, haus yang belum pernah mereka alami sebelumnya, maka barang siapa memberi makan (orang) demi Allah, Allah akan mengenyangkannya, barang siapa memberi minum (orang) demi Allah, Allah akan meminuminya, dan barang siapa memberi sandang (orang) demi Allah, Allah akan membusanainya.”

Demikianlah keutamaan sedekah. Tidak sepatutnya kita bersifat kikir dan bakhil kepada sesama manusia, apalagi untuk membantu saudara kita yang sedang mengalami keterpurukan ekonomi. Dengan bersedekah, kita berbagi kebahagiaan dengan sesama dan niscaya Allah juga akan memuliakan orang yang senantiasa ikhlas dalam bersedekah. (Oleh Hamli Syaifullah, Republika)