Hakikat Cinta

By Syaefudin Simon

Hakikat Cinta

”Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?” seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ”Pernah, bahkan sering,” jawab Abu Dzar. ”Dirimu sendiri itu adalah orang yang paling kamu cintai. Dan kamu berbuat jahat terhadap dirimu bila durhaka kepada Allah,” jelasnya. Dengan mengacu pada pendapat Abu Dzar tadi, sebenarnya banyak di antara kita yang tega berbuat jahat terhadap ‘orang’ yang amat dicintainya. Tapi anehnya, kita — yang gemar berbuat dosa — lupa bahwa apa yang kita lakukan sesungguhnya merupakan perwujudan kebencian terhadap diri sendiri. Cinta adalah fitrah yang diberikan Allah untuk semua makhluk guna mempertahankan eksistensinya. Manusia berkembang biak karena cinta.

Kelestarian lingkungan menjadi kepedulian manusia karena cinta. Dan yang lebih penting, cinta — ini yang perlu kita sadari — merupakan refleksi keberadaan alam malakuti yang abadi. Itulah sebabnya, bila dua sejoli sedang dimabuk cinta, maka apa yang terbayangkan dan diangankannya, cinta mereka akan abadi. Tapi sayang, keabadian cinta yang diangankannya hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat duniawi, yang justru menghambat cinta malakuti.

Salah satu unsur penting yang menghambat perjalanan cinta malakuti adalah cinta dunia (hubb al-dunya). Cinta dunia, dilukiskan oleh Sayyidina Ali, sebagai biang dari segala bencana. Bila hati manusia sudah terperosok dalam cinta dunia, maka logika-logika aneh pun muncul dari pikirannya.

Salah satu logika anehnya, kata Abu Dzar, ia amat berharap rahmat dan ampunan dari Allah, padahal dalam hidup sehari-harinya, ia amat jauh denganNya. ”Rahmat dan ampunan Allah,” tegas Abu Dzar, ”tak dihambur-hamburkan begitu saja hingga setiap orang akan mendapatkannya.” Kata Abu Dzar, setan punya senjata pamungkas, berupa godaan pada manusia untuk mengharap rahmat Allah, sementara ia terus berusaha menjauhkannya dari ibadah dan amal saleh. Korban senjata pamungkas ini paling suka memaafkan dirinya sendiri. ”Rahmat Allah Mahaluas. Dosaku pasti dimaafkanNya,” kata korban. Padahal ia tetap saja tak mau bertobat.

Orang yang berbuat dosa, tulis Imam Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din, bukan hanya mencelakakan dirinya, tapi juga menghina Allah, karena ia menyelewengkan amanah yang telah diberikan kepadanya. Lidah dan tangan yang Allah berikan kepada manusia untuk dipakai berzikir serta beramal saleh, misalnya, ia diselewengkan untuk mengumpat dan mengambil hak orang lain. Meski demikian, bila kita segera bertobat dengan sungguh-sungguh, Allah masih membuka pintu maafNya. Tapi perlu diingat pula, menunda-nunda tobat termasuk sikap yang menghina Allah juga. Naudzubillah mindzal (Republika)

Hakikat Cinta

By Syaefudin Simon

Hakikat Cinta

”Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?” seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ”Pernah, bahkan sering,” jawab Abu Dzar. ”Dirimu sendiri itu adalah orang yang paling kamu cintai. Dan kamu berbuat jahat terhadap dirimu bila durhaka kepada Allah,” jelasnya. Dengan mengacu pada pendapat Abu Dzar tadi, sebenarnya banyak di antara kita yang tega berbuat jahat terhadap ‘orang’ yang amat dicintainya. Tapi anehnya, kita — yang gemar berbuat dosa — lupa bahwa apa yang kita lakukan sesungguhnya merupakan perwujudan kebencian terhadap diri sendiri. Cinta adalah fitrah yang diberikan Allah untuk semua makhluk guna mempertahankan eksistensinya. Manusia berkembang biak karena cinta.

Kelestarian lingkungan menjadi kepedulian manusia karena cinta. Dan yang lebih penting, cinta — ini yang perlu kita sadari — merupakan refleksi keberadaan alam malakuti yang abadi. Itulah sebabnya, bila dua sejoli sedang dimabuk cinta, maka apa yang terbayangkan dan diangankannya, cinta mereka akan abadi. Tapi sayang, keabadian cinta yang diangankannya hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat duniawi, yang justru menghambat cinta malakuti.

Salah satu unsur penting yang menghambat perjalanan cinta malakuti adalah cinta dunia (hubb al-dunya). Cinta dunia, dilukiskan oleh Sayyidina Ali, sebagai biang dari segala bencana. Bila hati manusia sudah terperosok dalam cinta dunia, maka logika-logika aneh pun muncul dari pikirannya.

Salah satu logika anehnya, kata Abu Dzar, ia amat berharap rahmat dan ampunan dari Allah, padahal dalam hidup sehari-harinya, ia amat jauh denganNya. ”Rahmat dan ampunan Allah,” tegas Abu Dzar, ”tak dihambur-hamburkan begitu saja hingga setiap orang akan mendapatkannya.” Kata Abu Dzar, setan punya senjata pamungkas, berupa godaan pada manusia untuk mengharap rahmat Allah, sementara ia terus berusaha menjauhkannya dari ibadah dan amal saleh. Korban senjata pamungkas ini paling suka memaafkan dirinya sendiri. ”Rahmat Allah Mahaluas. Dosaku pasti dimaafkanNya,” kata korban. Padahal ia tetap saja tak mau bertobat.

Orang yang berbuat dosa, tulis Imam Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din, bukan hanya mencelakakan dirinya, tapi juga menghina Allah, karena ia menyelewengkan amanah yang telah diberikan kepadanya. Lidah dan tangan yang Allah berikan kepada manusia untuk dipakai berzikir serta beramal saleh, misalnya, ia diselewengkan untuk mengumpat dan mengambil hak orang lain. Meski demikian, bila kita segera bertobat dengan sungguh-sungguh, Allah masih membuka pintu maafNya. Tapi perlu diingat pula, menunda-nunda tobat termasuk sikap yang menghina Allah juga. Naudzubillah mindzalik! – ahi

HADIRI!! Isra’ Mi’raj bersama Raja Dangdut

Satria Bergitar yang pandai berdakwah
Satria Bergitar yang pandai berdakwah

Isra’ Mi’raj adalah perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari masjidil Haram (di Makkah) ke masjidil Aqsha (di Palistina). Jarak nun jauh itu hanya ditempuh dalam sesaat. Salah satu wahyu yang diterima dalam peristiwa ini adalah perintah untuk menjalankan sholat lima waktu.

Di mata lawan-lawannya, apa yang dialami nabi Muhammad adalah kebohongan. Maka, Abu Jahal -salah satu musuh Nabi, mengatakan kalau Muhammad SAW adalah seorang pendusta karena tak mungkin bisa menempuh perjalanan jauh itu dalam sekejap. Namun, bagi kita, peristiwa itu merupakan tanda kebesaran Allah SWT.

Bagaimana makna Isra’ Mi’raj untuk saat ini? Adakah relevansinya dengan kehidupan kita? Semua pertanyaan akan dijawab oleh Raja Dangdut Haji Rhoma Irama. Bang Haji bukan hanya pandai memetik dawai gitar tetapi juga mahir berdakwah. Melalui lagu dan ceramahnya, ayah Ridho ini akan mengupas makna Israk Mi’raj di Masjid Al Ikhlas, Kebonduren, Kalimulya, Depok pada hari Minggu, 12 Juli 2009.

Acara yang diselenggarakan mulai pagi hari itu juga akan diisi dengan pentas seni dari murid TPA Al Iklhas dan pembacaan rawi oleh Majelis Taklim Hudaya.  Pastikan Anda hadir di tablig Akbar ini. Selain mendapat pencerahan rohani, Anda pun bisa menyaksikan dari dekat Si Raja Dangdut yang selama ini hanya Anda saksikan lewat layar kaca.

Makna Isra Mi’raj

al aqsa dan quba
Perlu pendekatan imaniy untuk memahami peristiwa Israj Mi'raj

Oleh: Dr. M. Quraish Shihab

Makna Isra’ dan Mi’raj Perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Bayt Al-Maqdis, kemudian naik ke Sidrat Al-Muntaha, bahkan melampauinya, serta kembalinya ke Makkah dalam waktu sangat singkat, merupakan tantangan terbesar sesudah Al-Quran disodorkan oleh Tuhan kepada umat manusia. Peristiwa ini membuktikan bahwa ‘ilm dan qudrat Tuhan meliputi dan menjangkau, bahkan mengatasi, segala yang finite (terbatas) dan infinite (tak terbatas) tanpa terbatas waktu atau ruang.

Kaum empirisis dan rasionalis, yang melepaskan diri dari bimbingan wahyu, dapat saja menggugat: Bagaimana mungkin kecepatan, yang bahkan melebihi kecepatan cahaya, kecepatan yang merupakan batas kecepatan tertinggi dalam continuum empat dimensi ini, dapat terjadi? Bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui oleh Muhammad saw. tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang merusak tubuh beliau sendiri? Bagaimana mungkin beliau dapat melepaskan diri dari daya tarik bumi? Ini tidak mungkin terjadi, karena ia tidak sesuai dengan hukum-hukum alam, tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, bahkan tidak dapat dibuktikan oleh patokan-patokan logika. Demikian kira-kira kilah mereka yang menolak peristiwa ini.

Memang, pendekatan yang paling tepat untuk memahaminya adalah pendekatan imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar AlShiddiq, seperti tergambar dalam ucapannya: “Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya.” Oleh sebab itu, uraian ini berusaha untuk memahami peristiwa tersebut melalui apa yang kita percayai kebenarannya berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang dikemukakan oleh Al-Quran.

Salah satu hal yang menjadi pusat pembahasan Al-Quran adalah masa depan ruhani manusia demi mewujudkan keutuhannya. Uraian Al-Quran tentang Isra’ dan Mi’raj merupakan salah satu cara pembuatan skema ruhani tersebut. Hal ini terbukti jelas melalui pengamatan terhadap sistematika dan kandungan Al-Quran, baik dalam bagian-bagiannya yang terbesar maupun dalam ayat-ayatnya yang terinci.

Tujuh bagian pertama Al-Quran membahas pertumbuhan jiwa manusia sebagai pribadi-pribadi yang secara kolektif membentuk umat.

Dalam bagian kedelapan sampai keempat belas, Al-Quran menekankan pembangunan manusia seutuhnya serta pembangunan masyarakat dan konsolidasinya. Tema bagian kelima belas mencapai klimaksnya dan tergambar pada pribadi yang telah mencapai tingkat tertinggi dari manusia seutuhnya, yakni al-insan al-kamil. Dan karena itu, peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan awal bagian ini, dan berkelanjutan hingga bagian kedua puluh satu, di mana kisah para rasul diuraikan dari sisi pandangan tersebut. Kemudian, masalah perkembangan ruhani manusia secara orang per orang diuraikan lebih lanjut sampai bagian ketiga puluh, dengan penjelasan tentang hubungan perkembangan tersebut dengan kehidupan masyarakat secara timbal-balik.

Kemudian, kalau kita melihat cakupan lebih kecil, maka ilmuwan-ilmuwan Al-Quran, sebagaimana ilmuwan-ilmuwan pelbagai disiplin ilmu, menyatakan bahwa segala sesuatu memiliki pendahuluan yang mengantar atau menyebabkannya. Imam Al-Suyuthi berpendapat bahwa pengantar satu uraian dalam Al-Quran adalah uraian yang terdapat dalam surat sebelumnya.204 Sedangkan inti uraian satu surat dipahami dari nama surat tersebut, seperti dikatakan oleh Al-Biqai’i.205 Dengan demikian, maka pengantar uraian peristiwa Isra’ adalah surat yang dinamai Tuhan dengan sebutan Al-Nahl, yang berarti lebah.

Mengapa lebah? Karena makhluk ini memiliki banyak keajaiban. Keajaibannya itu bukan hanya terlihat pada jenisnya, yang jantan dan betina, tetapi juga jenis yang bukan jantan dan bukan betina. Keajaibannya juga tidak hanya terlihat pada sarang-sarangnya yang tersusun dalam bentuk lubang-lubang yang sama bersegi enam dan diselubungi oleh selaput yang sangat halus menghalangi udara atau bakteri menyusup ke dalamnya, juga tidak hanya terletak pada khasiat madu yang dihasilkannya, yang menjadi makanan dan obat bagi sekian banyak penyakit. Keajaiban lebah mencakup itu semua, dan mencakup pula sistem kehidupannya yang penuh disiplin dan dedikasi di bawah pimpinan seekor “ratu”. Lebah yang berstatus ratu ini pun memiliki keajaiban dan keistimewaan. Misalnya, bahwa sang ratu ini, karena rasa “malu” yang dimiliki dan dipeliharanya, telah menjadikannya enggan untuk mengadakan hubungan seksual dengan salah satu anggota masyarakatnya yang jumlahnya dapat mencapai sekitar tiga puluh ribu ekor. Di samping itu, keajaiban lebah juga tampak pada bentuk bahasa dan cara mereka berkomunikasi, yang dalam hal ini telah dipelajari secara mendalam oleh seorang ilmuwan Austria, Karl Van Fritch.

Lebah dipilih Tuhan untuk menggambarkan keajaiban ciptaan-Nya agar menjadi pengantar keajaiban perbuatan-Nya dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Lebah juga dipilih sebagai pengantar bagi bagian yang menjelaskan manusia seutuhnya. Karena manusia seutuhnya, manusia mukmin, menurut Rasul, adalah “bagaikan lebah, tidak makan kecuali yang baik dan indah, seperti kembang yang semerbak; tidak menghasilkan sesuatu kecuali yang baik dan berguna, seperti madu yang dihasilkan lebah itu.”

Dalam cakupan yang lebih kecil lagi, kita melontarkan pandangan kepada ayat pertama surat pengantar tersebut. Di sini Allah berfirman: Telah datang ketetapan Allah (Hari Kiamat). Oleh sebab itu janganlah kamu meminta agar disegerakan datangnya.

Dunia belum kiamat, mengapa Allah mengatakan kiamat telah datang? Al-Quran menyatakan “telah datang ketetapan Allah,” mengapa dinyatakan-Nya juga “jangan meminta agar disegerakan datangnya”? Ini untuk memberi isyarat sekaligus pengantar bahwa Tuhan tidak mengenal waktu untuk mewujudkan sesuatu. Hari ini, esok, juga kemarin, adalah perhitungan manusia, perhitungan makhluk. Tuhan sama sekali tidak terikat kepadanya, sebab adalah Dia yang menguasai masa. Karenanya Dia tidak membutuhkan batasan untuk mewujudkan sesuatu. Dan hal ini ditegaskan-Nya dalam surat pengantar ini dengan kalimat: Maka perkataan Kami kepada sesuatu, apabila Kami menghendakinya, Kami hanya menyatakan kepadanya “kun” (jadilah), maka jadilah ia (QS 16:40).

Di sini terdapat dua hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, kenyataan ilmiah menunjukkan bahwa setiap sistem gerak mempunyai perhitungan waktu yang berbeda dengan sistem gerak yang lain. Benda padat membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan suara. Suara pun membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan cahaya. Hal ini mengantarkan para ilmuwan, filosof, dan agamawan untuk berkesimpulan bahwa, pada akhirnya, ada sesuatu yang tidak membutuhkan waktu untuk mencapai sasaran apa pun yang dikehendaki-Nya. Sesuatu itulah yang kita namakan Allah SWT, Tuhan Yang Mahaesa.

Kedua, segala sesuatu, menurut ilmuwan, juga menurut Al-Quran, mempunyai sebab-sebab. Tetapi, apakah sebab-sebab tersebut yang mewujudkan sesuatu itu? Menurut ilmuwan, tidak. Demikian juga menurut Al-Quran. Apa yang diketahui oleh ilmuwan secara pasti hanyalah sebab yang mendahului atau berbarengan dengan terjadinya sesuatu. Bila dinyatakan bahwa sebab itulah yang mewujudkan dan menciptakan sesuatu, muncul sederet keberatan ilmiah dan filosofis.

Bahwa sebab mendahului sesuatu, itu benar. Namun kedahuluan ini tidaklah dapat dijadikan dasar bahwa ialah yang mewujudkannya. “Cahaya yang terlihat sebelum terdengar suatu dentuman meriam bukanlah penyebab suara tersebut dan bukan pula penyebab telontarnya peluru,” kata David Hume. “Ayam yang selalu berkokok sebelum terbit fajar bukanlah penyebab terbitnya fajar,” kata Al-Ghazali jauh sebelum David Hume lahir. “Bergeraknya sesuatu dari A ke B, kemudian dari B ke C, dan dari C ke D, tidaklah dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa pergerakannya dari B ke C adalah akibat pergerakannya dari A ke B,” demikian kata Isaac Newton, sang penemu gaya gravitasi.

Kalau demikian, apa yang dinamakan hukum-hukum alam tiada lain kecuali “a summary o f statistical averages” (ikhtisar dari rerata statistik). Sehingga, sebagaimana dinyatakan oleh Pierce, ahli ilmu alam, apa yang kita namakan “kebetulan” dewasa ini, adalah mungkin merupakan suatu proses terjadinya suatu kebiasaan atau hukum alam. Bahkan Einstein, lebih tegas lagi, menyatakan bahwa semua apa yang terjadi diwujudkan oleh “superior reasoning power” (kekuatan nalar yang superior). Atau, menurut bahasa Al-Quran, “Al-‘Aziz Al-‘Alim”, Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Inilah yang ditegaskan oleh Tuhan dalam surat pengantar peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu dengan firman-Nya: Kepada Allah saja tunduk segala apa yang di langit dan di bumi, termasuk binatang-binatang melata, juga malaikat, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka) (QS 16:49-50).

Pengantar berikutnya yang Tuhan berikan adalah: Janganlah meminta untuk tergesa-gesa. Sayangnya, manusia bertabiat tergesa-gesa, seperti ditegaskan Tuhan ketika menceritakan peristiwa Isra’ ini, Adalah manusia bertabiat tergesa-gesa (QS 17:11). Ketergesa-gesaan inilah yang antara lain menjadikannya tidak dapat membedakan antara: (a) yang mustahil menurut akal dengan yang mustahil menurut kebiasaan, (b) yang bertentangan dengan akal dengan yang tidak atau belum dimengerti oleh akal, dan (c) yang rasional dan irasional dengan yang suprarasional.

Dari segi lain, dalam kumpulan ayat-ayat yang mengantarkan uraian Al-Quran tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, dalam surat Isra’ sendiri, berulang kali ditegaskan tentang keterbatasan pengetahuan manusia serta sikap yang harus diambilnya menyangkut keterbatasan tersebut. Simaklah ayat-ayat berikut: Dia (Allah) menciptakan apa-apa (makhluk) yang kamu tidak mengetahuinya (QS 16:8); Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS 16:74); dan Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit (QS 17:85); dan banyak lagi lainnya. Itulah sebabnya, ditegaskan oleh Allah dengan firman-Nya: Dan janganlah kamu mengambil satu sikap (baik berupa ucapan maupun tindakan) yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut; karena sesungguhnya pendengaran, mata, dan hati, kesemuanya itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban (QS 17:36).

Apa yang ditegaskan oleh Al-Quran tentang keterbatasan pengetahuan manusia ini diakui oleh para ilmuwan pada abad ke-20. Schwart, seorang pakar matematika kenamaan Prancis, menyatakan: “Fisika abad ke-19 berbangga diri dengan kemampuannya menghakimi segenap problem kehidupan, bahkan sampai kepada sajak pun. Sedangkan fisika abad ke-20 ini yakin benar bahwa ia tidak sepenuhnya tahu segalanya, walaupun yang disebut materi sekalipun.” Sementara itu, teori Black Holes menyatakan bahwa “pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3% saja, sedang 97% selebihnya di luar kemampuan manusia.”

Kalau demikian, seandainya, sekali lagi seandainya, pengetahuan seseorang belum atau tidak sampai pada pemahaman secara ilmiah atas peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini; kalau betul demikian adanya dan sampai saat ini masih juga demikian, maka tentunya usaha atau tuntutan untuk membuktikannya secara “ilmiah” menjadi tidak ilmiah lagi. Ini tampak semakin jelas jika diingat bahwa asas filosofis dari ilmu pengetahuan adalah trial and error, yakni observasi dan eksperimentasi terhadap fenomena-fenomena alam yang berlaku di setiap tempat dan waktu, oleh siapa saja. Padahal, peristiwa Isra’ dan Mi’raj hanya terjadi sekali saja. Artinya, terhadapnya tidak dapat dicoba, diamati dan dilakukan eksperimentasi.

Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard, tokoh eksistensialisme, menyatakan: “Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu.” Dan itu pula sebabnya, mengapa Immanuel Kant berkata: “Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya.” Dan itu pulalah sebabnya mengapa “oleh-oleh” yang dibawa Rasul dari perjalanan Isra’ dan Mi’raj ini adalah kewajiban shalat; sebab shalat merupakan sarana terpenting guna menyucikan jiwa dan memelihara ruhani.

Kita percaya kepada Isra’ dan Mi’raj, karena tiada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dan peristiwa yang terjadi berulang kali selama semua itu diciptakan serta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan Tuhan Yang Mahaesa.

Sebelum Al-Quran mengakhiri pengantarnya tentang peristiwa ini, dan sebelum diungkapnya peristiwa ini, digambarkannya bagaimana kelak orang-orang yang tidak mempercayainya dan bagaimana pula sikap yang harus diambilnya. Allah berfirman: Bersabarlah wahai Muhammad; tiadalah kesabaranmu melainkan dengan pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap (keingkaran) mereka. Jangan pula kamu bersempit dada terhadap apa-apa yang mereka tipudayakan. Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang orang yang berbuat kebajikan. (QS 16:127-128). Inilah pengantar Al-Quran yang disampaikan sebelum diceritakannya peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Agaknya, yang lebih wajar untuk dipertanyakan bukannya bagaimana Isra’ dan Mi ‘raj terjadi, tetapi mengapa Isra’ dan Mi ‘raj.

Seperti yang telah dikemukakan pada awal uraian, Al-Quran, pada bagian kedelapan sampai bagian kelima belas, menguraikan dan menekankan pentingnya pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan masyarakat beserta konsolidasinya. Ini mencapai klimaksnya pada bagian kelima belas atau surat ketujuh belas, yang tergambar pada pribadi hamba Allah yang di-isra’-kan ini, yaitu Muhammad saw., serta nilai-nilai yang diterapkannya dalam masyarakat beliau. Karena itu, dalam kelompok ayat yang menceritakan peristiwa ini (dalam surat Al-Isra’), ditemukan sekian banyak petunjuk untuk membina diri dan membangun masyarakat.

Pertama, ditemukan petunjuk untuk melaksanakan shalat lima waktu (pada ayat 78). Dan shalat ini pulalah yang merupakan inti dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, karena shalat pada hakikatnya merupakan kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan akal pikiran dan jiwa manusia, sebagaimana ia merupakan kebutuhan untuk mewujudkan masyarakat yang diharapkan oleh manusia seutuhnya. Shalat dibutuhkan oleh pikiran dan akal manusia, karena ia merupakan pengejawantahan dari hubungannya dengan Tuhan, hubungan yang menggambarkan pengetahuannya tentang tata kerja alam raya ini, yang berjalan di bawah satu kesatuan sistem.

Shalat juga menggambarkan tata inteligensia semesta yang total, yang sepenuhnya diawasi dan dikendalikan oleh suatu kekuatan Yang Mahadahsyat dan Maha Mengetahui, Tuhan Yang Mahaesa. Dan bila demikian, maka tidaklah keliru bila dikatakan bahwa semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang tata kerja alam raya ini, akan semakin tekun dan khusyuk pula ia melaksanakan shalatnya.

Shalat juga merupakan kebutuhan jiwa. Karena, tidak seorang pun dalam perjalanan hidupnya yang tidak pernah mengharap atau merasa cemas. Hingga, pada akhirnya, sadar atau tidak, ia menyampaikan harapan dan keluhannya kepada Dia Yang Mahakuasa. Dan tentunya merupakan tanda kebejatan akhlak dan kerendahan moral, apabila seseorang datang menghadapkan dirinya kepada Tuhan hanya pada saat dirinya didesak oleh kebutuhannya. Shalat juga dibutuhkan oleh masyarakat manusia, karena shalat, dalam pengertiannya yang luas, merupakan dasar-dasar pembangunan. Orang Romawi Kuno mencapai puncak keahlian dalam bidang arsitektur, yang hingga kini tetap mengagumkan para ahli, juga karena adanya dorongan tersebut. Karena itu, Alexis Carrel menyatakan: “Apabila pengabdian, shalat, dan doa yang tulus kepada Sang Maha Pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, maka hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut.” Dan, untuk diingat, Alexis Carrel bukanlah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama. Ia adalah seorang dokter yang telah dua kali menerima hadiah Nobel atas hasil penelitiannya terhadap jantung burung gereja serta pencangkokannya. Dan, menurut Larouse Dictionary, Alexis Carrel dinyatakan sebagai satu pribadi yang pemikiran-pemikirannya secara mendasar akan berpengaruh pada penghujung abad XX ini.

Apa yang dinyatakan ilmuwan ini sejalan dengan penegasan Al-Quran yang ditemukan dalam pengantar uraiannya tentang peristiwa Isra’ dalam surat Al-Nahl ayat 26. Di situ digambarkan pembangkangan satu kelompok masyarakat terhadap petunjuk Tuhan dan nasib mereka menurut ayat tersebut: Allah menghancurkan bangunan-bangunan mereka dari fondasinya, lalu atap bangunan itu menimpa mereka dari atas; dan datanglah siksaan kepada mereka dari arah yang mereka tidak duga (QS 16:26).

Kedua, petunjuk-petunjuk lain yang ditemukan dalam rangkaian ayat-ayat yang menjelaskan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat adil dan makmur, antara lain adalah: Jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mereka menaati Allah untuk hidup dalam kesederhanaan), tetapi mereka durhaka; maka sudah sepantasnyalah berlaku terhadap mereka ketetapan Kami dan Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS 17:16).

Ditekankan dalam surat ini bahwa “Sesungguhnya orang yang hidup berlebihan adalah saudara-saudara setan” (QS 17:27).

Dan karenanya, hendaklah setiap orang hidup dalam kesederhanaan dan keseimbangan: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu (pada lehermu dan sebaliknya), jangan pula kamu terlalu mengulurkannya, agar kamu tidak menjadi tercela dan menyesal (QS 17:29).

Bahkan, kesederhanaan yang dituntut bukan hanya dalam bidang ekonomi saja, tetapi juga dalam bidang ibadah. Kesederhanaan dalam ibadah shalat misalnya, tidak hanya tergambar dari adanya pengurangan jumlah shalat dari lima puluh menjadi lima kali sehari, tetapi juga tergambar dalam petunjuk yang ditemukan di surat Al-Isra’ ini juga, yakni yang berkenaan dengan suara ketika dilaksanakan shalat: Janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan jangan pula merendahkannya, tetapi carilah jalan tengah di antara keduanya (QS 17: 110).

Jalan tengah di antara keduanya ini berguna untuk dapat mencapai konsentrasi, pemahaman bacaan dan kekhusyukan. Di saat yang sama, shalat yang dilaksanakan dengan “jalan tengah” itu tidak mengakibatkan gangguan atau mengundang gangguan, baik gangguan tersebut kepada saudara sesama Muslim atau non-Muslim, yang mungkin sedang belajar, berzikir, atau mungkin sedang sakit, ataupun bayi-bayi yang sedang tidur nyenyak. Mengapa demikian? Karena, dalam kandungan ayat yang menceritakan peristiwa ini, Tuhan menekankan pentingnya persatuan masyarakat seluruhnya. Dengan demikian, masing-masing orang dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya, sesuai dengan kemampuan dan bidangnya, tanpa mempersoalkan agama, keyakinan, dan keimanan orang lain. Ini sesuai dengan firman Allah: Katakanlah wahai Muhammad, “Hendaklah tiap-tiap orang berkarya menurut bidang dan kemampuannya masing-masing.” Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya (QS 17:84).

Akhirnya, sebelum uraian ini disudahi, ada baiknya dibacakan ayat terakhir dalam surat yang menceritakan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini: Katakanlah wahai Muhammad: “Percayalah kamu atau tidak usah percaya (keduanya sama bagi Tuhan).” Tetapi sesungguhnya mereka yang diberi pengetahuan sebelumnya, apabila disampaikan kepada mereka, maka mereka menyungkur atas muka mereka, sambil bersujud (QS 17: 107).

Itulah sebagian kecil dari petunjuk dan kesan yang dapat kami pahami, masing-masing dari surat pengantar uraian peristiwa Isra ; yakni surat Al-Nahl, dan surat Al-Isra’ sendiri. Khusus dalam pemahaman tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, semoga kita mampu menangkap gejala dan menyuarakan keyakinan tentang adanya ruh intelektualitas Yang Mahaagung, Tuhan Yang Mahaesa di alam semesta ini, serta mampu merumuskan kebutuhan umat manusia untuk memujaNya sekaligus mengabdi kepada-Nya.

Sejahtera dengan Berwirausaha

Walaupun potensi di sebuah negeri terbilang minim, tapi umat diminta untuk jangan mudah menyerah.

Suatu hari, Rasulullah SAW menegur seseorang yang selalu berada di masjid, berzikir dan berdoa. Bukan karena terlampau banyak berdoa, tapi lantaran orang tersebut menjadi tidak ada usaha apapun, yang membuat Nabi menegurnya.

Rasulullah pun bertanya, bagaimana ia bisa mencukupi kebutuhan keluarganya? Orang itu menjawab, bahwa telah ada salah seorang keluarganya yang mencukupinya.

Maka, Rasul dengan tegas mengatakan, ”Saudaramu itu jauh lebih baik di mata Allah SWT dari pada engkau yang hanya diam berdoa dan berzikir.”

Dari peristiwa di atas, papar Ustadz Othman Shihab, Rasulullah hendak memberikan contoh nyata kepada umatnya agar selalu bekerja keras. Islam bahkan memberikan kedudukan mulia bagi para pekerja keras, pedagang maupun wirausahawan jujur, bahwa mereka berada di bawah lindungan Arsy-nya Allah SWT.

Jauh sebelum diangkat sebagai rasul yang mengemban misi dakwah, Nabi Muhammad terlebih dahulu dikenal sebagai pedagang yang jujur dan sukses. Selama hampir 15 tahun, dari usia 25 hingga 40 tahun, Nabi SAW telah berdagang ke banyak negeri.

Pada masa sekarang, semangat yang sama hendaknya dimiliki segenap umat, untuk mencapai kesejahteraan. Karena dari Nabi, ”Umat Islam mendapat pelajaran untuk melakukan ‘perjalanan jauh’ demi meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat,” papar Ustadz Othman.

Dan hendaknya, jangan ada halangan untuk itu. Meski potensi di sebuah negeri minim, umat tidak boleh berpangku tangan, jangan menyerah. ”Tapi harus kerja keras walaupun sampai bepergian jauh,” sambungnya.

Menurut Puspo Wardoyo, wirausahawan Muslim, Islam memandang berdagang atau berwirausaha sebagai bagian integral dari ajaran Islam. ”Terdapat sejumlah ayat dan hadis yang menjelaskan pentingnya aktifitas berusaha tersebut,” tandas Puspo.

Sayang, aktifitas ekonomi dan wirausaha belum berkembang secara memuaskan di kalangan masyarakat Muslim saat ini. Setidaknya, dalam amatan Wakil Ketua Dewan Pembina Yayasan Dakwah Malaysia Indonesia (Yadmi), Dato Nakhael Ahmad, kedua bidang tadi justru masih menjadi keunggulan kalangan non Muslim.

”Dalam kehidupan sehari-hari, kita masih tergantung dari sektor swasta yang dikuasai mereka. Ini harus diubah,” tegasnya, beberapa waktu lalu.

Kondisi tersebut amatlah ironis dengan kenyataan di masa lalu, ketika semangat kewirausahaan dan perniagaan umat sangat tinggi, bahkan dapat menyebarkan agama Islam. ”Kita harus mampu meningkatkan penguasaan ekonomi kembali,” papar Dato Nakhael lagi.

Kendala
Bagaimana caranya? Ada dua hal perlu dilakukan. Pertama, harus ada ikhtiar dan keseriusan terutama dalam bekerjasama. ”Dan kedua, sanggup memaksimalkan potensi yang ada,” ujarnya.

Pada kesempatan terpisah, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Sandiaga Salahuddin Uno, menegaskan bahwa umat harus selalu membangkitkan etos kewirausahaan, karena nilai luhur keislaman dan kewirausahaan sangatlah dekat.

Itulah yang kini diperlukan untuk membangun kesejahteraan umat dan bangsa. Dengan wirausaha, sambung Sandiaga, secara otomatis akan mendorong sektor riil, termasuk usaha kecil dan menengah, sehingga para pelakunya bisa ‘naik kelas’.

Hanya saja, tidak mudah menjalankannya. Ada sejumlah kendala, semisal sulitnya akses permodalan, kurangnya stimulus dari pemerintah, juga mental sumber daya manusia yang masih memilih jalur di luar wirausaha, dan sebagainya.

Akan tetapi, hendaknya berbagai hambatan itu tidak lantas menyurutkan langkah. Semangat kewirausahaan harus terus digelorakan, karena seperti dikatakan Sandiaga, ”Kita punya keunggulan dalam bidang ini, yakni dengan menerapkan wirausaha yang efisien, transparan, dan berkredibilitas, seperti pada masa Rasulullah SAW.” (Republika)

Berani Memaafkan

Abu Abdillah al-Jadali berkata, ”Aku pernah bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah. Ia menjawab bahwa beliau tidak pernah bicara dan berlaku kotor. Beliau tidak pernah mengangkat suara, sekalipun itu di pasar. Beliau tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Beliau pemaaf dan lapang dada.” (HR Tirmidzi dan Ahmad).

Memaafkan adalah pilihan yang cukup sulit untuk dilakukan, terutama bila berkenaan dengan kesalahan yang sangat berat dan menorehkan luka yang dalam di hati.

Padahal, tidak sedikit dalil, baik itu yang disebutkan dalam Alquran maupun yang dijelaskan langsung oleh Rasulullah SAW, yang menganjurkan sikap memaafkan orang lain.

Alquran menyebutkan bahwa memaafkan adalah perbuatan mulia. ”Tetapi, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS Asysyuura [42]: 43).

Saat bersama para sahabatnya, Rasulullah pernah bersabda, ”Maukah kalian aku beri tahu sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan dan meninggikan derajatmu?” Para sahabat menjawab, ”Tentu, wahai Rasulullah.” Rasulullah lalu bersabda, ”Bersabar terhadap orang yang membencimu, memaafkan orang yang menzalimimu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menyambung silaturahim dengan orang yang memutuskan silaturahim denganmu.” (HR Thabrani).

Bahkan, Allah berjanji akan melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada orang yang memaafkan orang lain. Allah berfirman, ”Dan, jika kamu maafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Attaghaabun [64]: 14).

Pada ayat lain, Allah menjelaskan bahwa orang yang memaafkan termasuk orang-orang yang mendapat surga seluas langit dan bumi. Allah berfirman, ”Dan, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran [3]: 133-134).

Dan, memang, memaafkan membutuhkan keberanian dan kekuatan mental yang tidak kecil. Alih-alih terhadap orang yang bersedia memaafkan, terhadap orang yang menahan marah saja, Rasulullah sudah menyebutnya sebagai orang yang pemberani. Rasulullah bersabda, ”Bukan dikatakan pemberani, orang yang cepat marah. Seorang pemberani adalah yang dapat menguasai dirinya sewaktu marah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, memaafkan bukanlah sikap lemah atau kalah. Memaafkan adalah sikap mulia dan ksatria. Bahkan, memaafkan adalah salah satu sifat Tuhan yang perlu kita imani dengan cara meneladaninya. Allah berfirman, ”Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa.” (QS Annisa [4]:149). (Yodi Indrayadi)

Malu itu Baik

Abu Mas’ud, Uqbah ibn Amr Anshari al Badri ra mengatakan bahwa Rasulullah saw berkata, ”Sabda Nabi paling pertama yang dikenal atau diketahui manusia adalah, ‘Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah semaumu’,” (HR Bukhari, Abu Dawud, Ahmad).

Jangan salah mengerti dengan hadis tersebut. Hadis di atas bukan berarti bahwa Rasulullah saw memberikan kebebasan tanpa batas pada manusia untuk bertindak semaunya. Sebaliknya, hadis itu merupakan sindiran bagi orang-orang yang tak punya malu berbuat kejahatan/kenistaan. Hadis yang disampaikan melalui Abu Mas’ud ra itu justru mengancam orang yang tidak mempunyai rasa malu dalam melakukan apa saja yang dia kehendaki dengan risiko ditanggung sendiri. Ungkapan seperti itu juga dinyatakan Allah dalam firman-Nya, ”Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,” (QS Al Fushshilat: 40).

Malu memang bisa mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nuraninya. Rasa malu pula yang membuat seseorang akan dikejar-kejar rasa bersalah. Karena itu, hakikatnya malu adalah salah satu perangkat yang diciptakan Allah untuk mencegah kita dari perbuatan dosa. Nabi Muhammad saw pernah bersabda, ”Malu hanya membawa kepada kebaikan,” (HR Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya rasa malu itu merupakan pagar yang paling kokoh untuk menjaga iman kita agar sendi-sendinya tidak tercerabut dan bangunannya tidak hancur. Sebagai contoh, bila ada orang melihat massa ramai-ramai menjarah dan membakar toko, lalu orang tersebut sadar bahwa perbuatan tersebut tergolong tindakan tercela, maka ia akan mencegah dirinya agar tak ikut-ikutan menjarah. Sebagai mukmin ia malu melakukannya.

Andai para pejabat malu melakukan praktek-praktek korupsi, kolusi, dan nepotis, tentu masyarakat kita tak akan serusak seperti sekarang ini. Di negara lain, Indonesia dikenal sebagai negara terkorup di Asia. Banyak pejabat, mungkin, selama ini merasa aman-aman saja ketika dia melakukan korupsi. Dalam hati mereka mungkin tak ada setitik pun rasa malu terhadap Allah yang jelas menyaksikan semua tindakan manusia. Mungkin mereka masih punya malu terhadap manusia lain, sehingga mereka merasa malu bila ketahuan. Tapi, rasa malu terhadap manusia pun mulai terkikis oleh anggapan, ”Ah, toh hampir semua pejabat melakukannya. Pejabat mana yang bisa kaya tanpa korupsi.”

Hilangnya rasa malu terhadap Allah ini sungguh menyedihkan. Orang yang tak punya malu terhadap Allah akan cuek melanggar perintah dan larangan-larangan-Nya. Semua itu dilakukan tanpa rasa dan tanpa malu. Semestinya kita bercermin pada sabda Rasulullah saw, ”Allah SWT itu lebih berhak untuk dimalui daripada manusia,” (HR Ashabu Sunan). Dengan memegang sikap ini — yakni lebih malu kepada Allah ketimbang kepada manusia — maka insya Allah kita terjaga dari jurang kemaksiatan dan kenistaan. (Republika)

TUKANG CUKUR DAN TUHAN

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya.

Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.

Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.

“Kenapa kamu berkata begitu?” timpal si konsumen.

Sahut si tukang cukur, “Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan…. untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Lalu katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, adakah orang yang sakit? Adakah anak yang terlantar?”

Lanjutnya, “Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan katanya Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah si konsumen meninggalkan ruangan itu, ia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar “mlungker-mlungker” (istilah Jawa-nya), kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

Lalu si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,”Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.”

Si tukang cukur tidak terima,” Kamu kok bisa bilang begitu? Saya ada di sini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”

“Tidak!” elak si konsumen. “Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana,” si konsumen menambahkan.

“Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!” sanggah si tukang cukur. “Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya,” jawab si tukang cukur membela diri.

“Cocok!” kata si konsumen menyetujui. “Itulah point utama-nya! Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA! Tapi apa yang terjadi? Orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”

Si tukang cukur pun akhirnya dengan malu-malu manggut-manggut menyetujui argumen ini.

Kajian Fiqih: Mengkombinasikan niat

Banyak pertanyaan seputar menggabung dua niat dalam satu ibadah, misalnya puasa membayar hutang (qadla) Ramadhan digabungkan dengan puasa Syawah enam hari. Sahkah ibadah seperti itu?

Para fuqoha membahas hal tersebut tersebut dalam masalah at-tasyriik fin niyyah
(mengkombinasikan niyat). Imam Suyuthi dalam kitabnya yang sangat masyhur al-Ashbah wan
Nadlair menyebutkan bahwa menggabung dua ibadah ada beberapa kriteria.

Kreiteria Pertama: meniatkan satu ibadah dengan disertai niat lain yang bukan ibadah dan
tidak boleh dimasukkan dalam ibadah tersebut, seperti menyembelih hewan ditujukan untuk
Allah dan lainnya, ini bisa menyebabkan haramnya sembelihan tadi, apalagi kalau
ditujukan untuk tujuan syirik. Namun ada juga yang tidak membatalkan ibadah tadi,
seperti berwudlu atau mandi namun dengan menertakan niat mendinginkan badan. Alasannya
karena mendinginkan badan tadi meskipun tanpa niat juga tercapai dengan wudlu dan mandi,
maka tidak mengurangi keikhlasan. Contoh lain masalah ini adalah puasa sunnah dengan
tujuan pengobatan dan haji dengan tujuan berdagang. Ibnu Abdussalam mengatakan ibadah
seperti itu tidak mendatangkan pahala, namun Imam Ghozali mengatakan dilihat dari mana
niat yang lebih banyak, kalau yang lebih besar adalah niat karena Allah maka tetap dapat
pahala.

Kriteria Kedua: meniatkan satu ibadah dengan ibadah lain. Ini ada beberapa bentuk,
Pertama: menggabung ibadah fardlu dengan fardlu lain. Ini tidak sah kecuali beberapa
masalah, yaitu haji qiran, dimana didalamnya digabung ibadah umrah wajib dan haji wajib.
Contoh lain adalah mandi sambil menyelam dengan niat wudlu juga. Adapun menggabung
sholat dhuhur dan ashar dalam satu amalan hukumnya tidak sah.
Kedua: menggabung ibadah fardlu dengan sunnah, ini ada yang sah dan ada yang tidak sah.
Contoh yang sah adalah: ketika masuk masjid dan jamaah telah dimulai, kemudian kita niat
sholat fardlu dan tahiyyatul masjid juga. Menurut mazhab Syafii keduanya sah dan
mendapatkan pahala. Begitu juga seseorang yang mandi junub hari jum’at, kemudian dia
niat mandi wajib dan jum’at sekaligus. Adapun contoh yang jadi adalah sunnahnya, seperti
seseorang memberi uang kepada fakir miskin dengan niat zakat dan sedekah, maka yang sah
sedekahnya bukan zakatnya. Pendapat Hanafi yang sah zakatnya.
Ada juga contoh yang sah fardlunya, seperti orang haji berniat fardlu dan wajib,
padahal dia belum pernah haji maka yang jadi wajibnya.
Ketiga: menggabung dua ibadah sunnah. Hukumnya menurut mayoritas ulama sah. Qaffal
diriwayatkan mengatakan hukumnya tidak sah. Contohnya seseorang mandi untuk shoat ied
dan jum’at sekaligas karena kebetulan harinya bersamaan, ini sah untuk keduanya. Contoh
lain orang masuk masjid dan sebentar lagi iqamah, lalu ia menggabung sholat qabliyah dan
tahiyyatul masjid, ini sah menurut semua madzhab.

Madzhab Hanafi mengatakan boleh menggabung dua niat dalam satu ibadah, apabila ibadah
itu masuk ibadah perantara seperti mandi. Adapun dalam ibadah yang substansi maka
menggabung dua fardlu tidak boleh, seperti sholat empat waktu dengan niat dhuhur dan ashar.
Permasalahan menggabung dua niyat dalam ssatu ibadah juga berlaku bagi mereka yang ingin
melakukan puasa qadla Ramadhan sambil melakukan sunnah Syawal. Apakah puasanya sah?
Ulama berbeda pendapat dalam masalah tersebut. Ada yang mengatakan jadi puasa qadla dan
puasa syawalnya tidak sah. Ada yang mengatakan yang sah puasa sunnahnya dan hutangnya
belum gugur. Bahkan ada yang mengatakan tidak sah keduanya dan amalnya sia-sia.

Namun demikian Imam Ramli salah seorang ulama besar madzhab Syafii berfatwa ketika
ditanyai tentang seseroang yang qadla Ramadhan di bulan Syawal sambil niat puasa enam
hari bulan Syawal apakah sah? Beliau menjawab, gugur baginya hutang puasa dan kalau dia
berniat juga sunnah syawal maka baginya pahala puasa sunnah tersebut. Imam Ramli
mengatakan bahwa itu pendapat beberapa ulama kontemporer.

Namun demikian, bagi yang mampu dan kuat, maka sebaiknya niat itu satu-satu. Artinya
kalau mampu, maka puasa qadla dulu baru melakukan sunnah syawal. Atau kalau kurang
mampu, maka puasa syawal dulu karena waktunya pendek hanya sebulan, lalu mengqadla
Ramadhan di bulan lain karena waktunya fleksibel selama setahun hingga Ramadhan
berikutnya. (Kalau terlambat terkena denda fidyah). Kalau merasa kurang mampu juga, maka
baru bisa melirik pendapat imam Ramli tadi. Wallahu a’lam bissowab.

Disusun: Ustadz Muhammad Niam, LLM
Dari berbagai sumber

Rahasia Kebangkitan Umat

Sebuah kebangkitan mutlak memerlukan kesiapan sekaligus permulaan yang cukup
mengagetkan. Jika kita analogikan dengan sebuah kelahiran seorang anak manusia, tentu
kelahiran tersebut tidak datang begitu saja, tapi selain memerlukan sebuah proses
minimal sembilan bulan untuk mencapai wujud kelahiran yang sempurna, ia juga hampir
menyisakan rasa nyeri bagi rahim yang mengandungnya. Demikianlah, analogi sebuah
kebangkitan, yang tidak lain ia adalah sebuah bentuk dari kelahiran baru.

Kebangkitan bukan suatu hal yang gratis, tapi ia harus diperjuangkan, dan membutuhkan
prasyarat yang mutlak diwujudkan. Jika analogi umat Islam ibarat satu raga, maka
sesungguhnya apa yang diderita oleh muslim di belahan dunia yang lain, hakekatnya juga
didera oleh sebagian muslim lainnya. Kita bisa lihat sekarang, hampir ada kesepakatan,
problem umat saat ini adalah tiga hal, yaitu, kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan.
Kalau kita bertanya, kenapa hampir tidak ada dunia muslim dewasa ini yang tidak
terjangkit tiga penyakit tersebut. Barangkali jawabannya, cukup jelas, bahwa
sesungguhnya raga kita sekalipun terpisah-pisah hakekatnya adalah satu. Jika yang satu
terkena penyakit, maka yang lain akan ikut terjangkit, contohnya, jika yang satu
menderita ektresme, radikalisme, fundamentalisme, maka yang lain akan ikut terserang,
atau jika yang lain terkena penyakit liberalisme, sekularisme, pluralisme, maka yang
satu pun akan ikut terkena. Maka munculnya kesadaran untuk melakukan perubahan sebagai
era kebangkitan baru umat, hakekatnya adalah mengenali lebih dulu hipotesa jenis-jenis
penyakit tersebut, barulah setelah itu harus ada terapi mengobatinya, lalu
mempertahankannya untuk selalu konstan

Ada banyak faktor dalam mengukur suatu gejala kebangkitan, paling tidak terdapat empat
hal yang patut kita renungkan. Pertama, adanya kondisi yang tidak mungkin lagi
dipertahankan (satus-quo), kedua, munculnya kesadaran merubah kondisi tersebut menjadi
lebih berperadaban, ketiga, kesiapan untuk mempertahankan kondisi yang berperadaban tadi
dengan menyediakan berbagai infra-sruktur di segala bidang. Dan keempat, menjadikan
human resources sebagai tolak ukur dan harapan bagi munculnya sebuah kebangkitan yang
lebih inovatif di masa mendatang.

Ada baiknya kita tengok ke empat hal tadi secara satu persatu. Yang pertama: adanya
kondisi yang tidak mungkin dipertahankan, maksudnya; perubahan kondisi meniscayakan
sebuah sebab komunal atau yang dirasakan secara nyata untuk dibenahi, akibat kondisi
status-qou yang telah memperparah deretan keterpurukan suatu umat. Kondisi status-quo
inilah yang sesungguhnya kita sebut sebagai kondisi tidak mungkin kita pertahankan.
Ranah yang terjangkit bisa pada politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan sosial.

Nah, Kalau kita membaca kembali secara seksama lembaran sejarah bangsa-bangsa terdahulu,
akan kita dapatkan betapa bangsa yang mulai menata atau tergugah untuk menata nasibnya,
harus terlebih dahulu mendasarkan pijakannya pada realitas faktual
kebangkrutan- kebangkrutan yang mereka alami saat itu. Ambil saja contohnya, kisah-kisah
perjuangan yang dilakukan oleh para al-Anbiya sebelum Nabi Muhammad Saw, selalu membawa
spirit kebangkitan dan perubahan, setelah mereka melihat berbagai kebangkrutan
multidimensional dalam masyarakat yang mereka hadapi.

Nabi Syuaib AS, mencoba melakukan perombakan total dalam bidang ekonomi, setelah
menyerap sekian bobroknya praktek ekonomi pada masyarakatnya ketika itu, ia secara
berani menyampaikan pesan Tuhan dengan menawarkan perbaikan-perbaikan di bidang ekonomi,
melalui transformasi konsep keadilan, kesamarataan dan kejujuran dalam berekonomi.
Demikian juga Nabi Musa yang rela berpisah dari kehidupan yang penuh kegermelapan dunia,
dengan menghirup kemegahan fasilitas tinggal di istana Fir’aun, dan lebih memilih hidup
sebagai pecundang namun terhormat dalam kaca mata Tuhan-Nya. Ia tidak takut melakukan
perombakan tradisi yang telah dianggap melawan arus ketika itu. Seperti arus perbudakan
yang merupakan sebuah fenomena sosial dan politik sekaligus sebagai budaya yang
berkembang saat itu, penindasan kalangan yang kuat terhadap yang lemah, berikut
penghargaan atas kemanusiaan manusia yang sama sekali tidak ada ketika itu, membuat Musa
yang hanya bermodalkan keyakinan akan janji Tuhan-Nya, berani menentang kondisi yang
diskriminatif tersebut. Demikian pula Isa AS, yang memilih hidup bersama
kalangan-kalangan yang tertindas oleh kediktatoran kerajaan Romawi yang kemudian bakal
menghukum dengan ancaman menyalibnya. Kebengisan dan kebencian yang dilakukan oleh
penguasa Romawi terhadap kalangan yang menentang kebijakannya telah mengarah kepada
pembunuhan karakter manusia yang seharusnya dihargai, tidak ada lagi kasih sayang dan
cinta kasih pada diri penguasa-penguasa tadi. Maka Isa al-Masih dengan modal firman
Tuhan-Nya berani menentang tirani tersebut, sehingga ia harus pasrah mati di tiang
gantungan menurut para pengikutnya. Termasuk perlawanan Muhammad Saw dan ketegasannya
menolak sistem sosial dan budaya yang tidak lagi menghargai persamaan gender, tindakan
diskriminatif antar ras dan suku begitu menonjol sehingga mengakibatkan ketidakadilan
dalam banyak tatanan sistem sosial yang berlaku kemudian. Matinya rasio dalam menuhankan
sesuatu yang tidak lebih mulia dari manusia kepada penuhanan secara total kepada Tauhid.
Adalah merupakan contoh perubahan yang didasari pada kondisi yang berlaku dan tidak
dapat lagi dipertahankan. Dengan mengetahui kondisi-kondisi tersebut, barulah akan ada
sasaran target perubahan yang terfokus dan tidak terfragmentasi.

Faktor kedua; munculnya kesadaran merubah kondisi tersebut menjadi lebih berperadaban.
Kondisi yang tidak bisa dipertahankan tadi, merupakan faktor pendorong perubahan
selanjutnya. Maka hakekatnya tanpa adanya kesadaran melakukan perubahan sama halnya
dengan meratapi nasib buruk tanpa mengambil langkah kongkrit untuk memperbaikinya. Pada
konteks inilah menjadi penting sebuah proses transformasi global. Artinya; reformasi ke
arah kondisi yang lebih baik, harus dimulai dari sekelompok agen pemikir yang memiliki
komitmen ketulusan berbuat demi maslahat umat, dan sekelompok itu terdidik melalui
sebuah pengalaman dari keberhasilan- keberhasilan kelompok manusia lainnya yang
betul-betul telah teruji secara sejarah.

Penting pula kita renungkan, akan adanya polemik boleh tidaknya umat Islam mengadopsi
nilai dan tatanan hidup dari bangsa lainnya dalam meraih sebuah kemajuan duniawi.
Sekelompok umat menentang hal ini, dengan alasan bahwa meniru pola hidup dan tata nilai
dari luar Islam, sama halnya dengan mengakui superioritas non-Islam atas Islam itu
sendiri. Sedangkan firman Allah selalu mengatakan, sesungguhnya hanya Islam lah agama
yang paling mulia, maka barangsiapa yang mencari kemuliaan di luar jalan Islam
hakekatnya ia tengah menuju jurang kenistaan. Padahal jika kita teliti secara seksama
dari sumber-sumber otentik Islam, begitu banyak ajaran berikut anjuran kepada umat ini
untuk selalu menemukan inovasi yang baru bagi kemaslahatan umat dari manapun saja
asalnya. Galian parit saat perang khandaq, perintah mempelajari bahasa asing bagi
kepentingan diplomasi, pendirian kantor-kantor administratif, pembuatan kitab
undang-undang sipil dan perdagangan, dll, merupakan diantara contoh betapa umat Islam
dulu begitu terbuka menerima nilai-nilai positif “luar” selama ia mengandung maslahat
bagi umat sendiri. Justru kelemahan umat sekarang, dengan segenap perasaan
inferioritasnya atas bangsa “luar”,
semakin memperdalam sikap ekslusifitasnya, sehingga
muncul kepasrahan untuk cukup dengan apa yang dimiliki oleh dunia Islam, lalu
membudayalah sikap anti pati atas dunia luar, dan keengganan mengambil nilai-nilai
positif darinya .Sungguh suatu pola interaktif yang sangat bertolak belakang dengan
tradisi yang kita miliki dulu

Faktor Ketiga, kesiapan seluruh elemen untuk mempertahankan kondisi yang berperadaban
tadi dengan menyediakan berbagai infra-sruktur di segala bidang. layaknya mempersiapkan
sebuah kelahiran baru, maka segala kebutuhan dan apa yang menjadi talian ikatan atasnya
harus telah dipersiapkan. Jika dalam konteks kebangkitan umat, maka orientasi perubahan
tidak boleh hanya terbatas pada destruction of evil power, tetapi juga construction of
good power..Inilah tugas dan kewajiban para pembaharu yang paling penting. Sekali lagi,
bahwa perubahan, reformasi, pembaharuan atau revolusi sekalipun, tidak berorientasi
jarak dekat, atau kebutuhan sesaat, sebab jika demikian, gerakan itu lambat laun akan
mati suri.

Adapun faktor Keempat: menjadikan human resources sebagai tolak ukur dan harapan bagi
munculnya sebuah kebangkitan yang lebih inovatif di masa mendatang. Pada tahap ini, yang
menjadi stressing adalah melakukan proyek human investment untuk mengawal langgengnya
perubahan tersebut. Dapat kita lihat sebuah negara yang konsen terhadap peningkatan
fasilitas human resources melalui agenda education for all umpamanya, merasa lebih siap
membuka diri terhadap setiap perkembangan dan inovasi-inovasi baru. Ketertinggalan
mayoritas umat kita, diantaranya dapat dilihat dari aspek ini. Betapa lemahnya fasilitas
intelectual enrichment yang kita miliki, sementara iklim sosial-politik tidak selalu
berpihak pada penghargaan atas proses daya cipta yang baru, bahkan seakan suatu
pembaruan dianggap sebagai sebuah tindakan anti kemapanan yang lacur dilabelkan sebagai
musuh stabilitas.

AKHIRNYA, langkah yang lebih tepat untuk memulai perubahan adalah dengan melihat
kebutuhan-kebutuhan local kebangsaan, menguasai permasalahan- permasalahnya, menemukan
aspek tantangan dan peluangnya, menggugah civilitas melakukan pencarian solusinya, dan
yang tidak kalah pentingnya adalah menjalin kerjasama global intra-bangsa melalui frame
work keumatan guna mengais kemaslahatan hidup sebagai pemakmur dunia. Paling tidak kita
masih punya keyakinan, kalau dunia ini tidak akan diserahkan kepada orang-orang rendah
iman dan lemah kualitas kerjanya. Yang menjadi persoalan, apakah modal keimanan kita
saat ini telah mampu menggugah etos kerja yang lebih baik, ataukah kerja kita selama ini
telah didasari oleh rasa iman kita pada hukum alam yang tidak pernah pilih kasih itu.

Pada akhirnya, sebuah kebangkitan umat sekalipun ia menyimpan rasa sakit pada awalnya,
ia mutlak mensinergiskan seluruh kecerdasan dan potensi umat, ialah kerjasama kolektif
yang selalu berdimensi sosial, yang selalu bertolak dari kepentingan “kita” bukan lagi
“Aku,” bergerak secara pasti menyentuh harapan komunal bukan lagi individual, dirasakan
hasilnya bukan hanya secara regional namun juga kawasan bahkan multilateral. Dengan
melandasi kebangkitan umat seperti ini, insya Allah kita semakin yakin bahwa Islam
benar-benar dapat menjadi (rahmatan lil ‘alamin); rahmat bagi semesta alam. Insya Allah,
kita pasti bisa. (Oleh: Ustadz Muladi Mufhni, Lc / Pesantren Virtual)