Peletakan batu pertama Masjid Al-Ikhlas dan tausyiah ustadz Jeffry Al Buchori

Kamis, 24 April 2008 adalah hari yang paling membahagiakan bagi warga Kebonduren, Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Sukmajaya, Depok, Jawa Barat. Tiga hari menjelang ulang tahun Kota Depok yang kesembilan, warga RT 04 dan RT 05, RW 04 Kalimulya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus peletakan batu pertama pembangunan Masjid Al-Ikhlas di atas tanah seluas 400 M2.

Meski bertepatan dengan hari kerja, banyak warga yang mengambil cuti atau ijin tidak masuk kantor untuk menyambut acara tersebut. Apalagi, tausyiah diberikan oleh ustadz gaul Jeffry Al Buchori alias Uje. Warga yang biasanya hanya menyaksikan Uje melalui televisi, bisa berjabat langsung dengan sang ustadz.

Ribuan ummat muslim, yang mayoritas ibu-ibu dan remaja putri, tumpek blek di lapangan. Selain ingin melihat Uje, mereka juga ingin bertatap muka dengan Ketua DPRD Depok Naming D Bothin dan juga Wakil Walikota Depok Yuyun Wirasaputra. Selain pejabat pemda, Kapolsek Sukmajaya, Camat Sukmajaya, Lurah Kalimulya dan staf kelurahan hadir pula pada kegiatan itu.

Sebelum Uje tampil, warga menggelar berbagai kegiatan yang melibatkan anak-anak dari TPA Al-Ikhlas, dai cilik Qory dan Mifhatul Fadil, pembacaan rawi oleh ibu-ibu majelis taklim Hudaya, pembacaan ayat suci Alquran, pembacaan doa ahli kubur oleh Ustadz H Edi Main, serta tausyiah dari ustadz Nisar Salim.

Berhubung Naming D Bothin yang memberikan sambutan mewakili tokoh masyarakat ada kegiatan lain maka dia meninggalkan acara sebelum tuntas. Tapi, sebelum itu dia berjanji untuk memberikan bantuan finansial kepada panitia. Begitu pula dengan Yuyun Wirasaputra yang harus menghadiri rapat di balai kota. Sebelum menutup kata sambutan, Yuyun menyerahkan cek senilai lima juta rupiah. Pengusaha minyak dan gas, Haji Yahman, juga membantu uang lima juta rupiah. Sementara ustadz Edi Main memberikan satu truck pasir. (Jumlah bantuan yang masuk akan dilaporkan tersendiri dalam laporan keuangan)

Alhamdulillah warga antusias memberikan amal setelah mendapat sentilan dari dai cilik Mifhatul Fadil. ”Jangan karena beda warna kaos, terus gak mau membantu,” pekik Fadil yang disambut tepuk tangan seluruh hadirin. Maklum, acara itu melibatkan banyak tokoh partai. Hasbullah Rahmat, anggota DPRD Depok dan Ketua DPD PAN, menjadi penanggung jawab pembangunan masjid karena dia tinggal di kampung itu. Sementara Naming D Bothin, ketua DPRD Depok, menjabat sebagai ketua DPC Golkar Depok. Yuyun, selain sebagai wakil walikota, dia juga aktifis Partai Kebangkitan Bangsa.

”Contohlah pemain sepakbola. Meski ada sebelas orang, tujuannya sama. Makanya saya tunggu operannya (maskudnya bantuan uang). Mana operannya,” tambah Fadil. Fadil pun menceritakan sepuluh kyai bertemu untuk membangun masjid tidak akan jadi karena mereka semua membuka kitab. Tapi kalau satu kyai dan satu konlomerat bertemu, pembangunan masjid pasti jadi. ”Yang satu buka kitab, yang satu buka cek,” lanjutnya.

Bagaimana sentilan ustadz Jeffry? Tunggu tulisan berikutnya. Kalau mau lihat foto-fotonya, klik aja http://www.flickr.com/photos/masjidalikhlas/

Merenungkan Makna Maulid

Kembali kita memperingati Maulid Nabi, hari kelahiran Rasulullah SAW. Tradisi tersebut dimulai oleh Salahuddin al Ayyubi, panglima perang Mesir kelahiran Kurdi yang humanis. Sejak itu, di mana-mana umat Islam memperingatinya dengan kegiatan pengajian atau ceramah. Ada juga yang menganggapnya sebagai bid’ah (yang dilarang karena diperintahkan oleh Nabi).

Memperingati Maulid atau tidak, UJE yakin umat Islam tetap mencintai dan menghormati beliau. Beliau telah membimbing umat Islam mengenal Allah SWT dan menjalani kehidupan yang tidak mempertentangkan dunia dan akhirat, tetapi memadukan keduanya. Kita memperingati Maulid dengan merenungkan makna mencintai Rasulullah.

Kecintaan kepada Rasulullah (dan keluarganya) diungkapkan dalam berbagai bentuk. Shalawat untuk Nabi diciptakan oleh para ulama terdahulu, dan diyakini bahwa setiap shalawat mengandung keutamaan tertentu. Kasidah digubah oleh sastrawan terkemuka seperti Kasidah Barzanji.

Menurut UJE, cara paling utama menunjukkan kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah dengan meneladani perilaku beliau yang mulia terhadap Allah SWT dan sesama manusia. Bahkan juga kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Perilaku mu’amalah Rasulullah sungguh mulia. Beliau adalah seorang pemimpin yang cerdas, egaliter, adil, dan tidak mendahulukan kepentingan pribadi. Beliau tegas dan berani, tetapi halus dalam komunikasi.

Orientasi beliau bukan pada kekuasaan atau harta, tetapi betul-betul pada kemaslahatan umat dan kejayaan Islam. Kita tahu beliau ditawari jabatan oleh para tokoh Qurais dengan syarat tidak boleh menyiarkan Islam, tetapi beliau menolak. Bandingkan dengan kebanyakan kita yang mengejar jabatan dengan cara-cara yang justru dilarang oleh agama.

Beliau juga tidak pernah menumpuk kekayaan. Saat-saat terakhir kehidupan beliau, dalam keadaan kritis, beliau masih teringat mempunyai uang simpanan sebanyak tujuh dinar. Siti Aisyah RA, istri beliau, diminta mengambil uang itu untuk dibagikan kepada fakir miskin. Beliau berkata, “Bagaimana gerangan persangka Muhammad terhadap Tuhannya sekiranya dia menemui Tuhannya sedang di tangannya masih tergenggam benda ini.”

Bandingkan beliau dengan kita yang masih tergiur harta sampai tua, bahkan hingga menjelang ajal. Bukan tidak mungkin harta itu diperoleh secara tidak halal dan seharusnya disedekahkan supaya tidak mengganggu perjalanan kita menghadap Sang Pencipta. Mari kita renungkan makna Maulid Nabi. (diambil dari UJE CENTRE)

Maulid Nabi: Melahirkan Kembali Idola Sejarah

“Eropa menyusui bayi-bayi dengan sejarah negeri dan nenek moyangnya,” tulis Muhyiddin al-Khayyath dalam kata pengantar Durus al-Tarikh al-Islamiy. Al-Khayyath menulis sebuah titik balik peradaban Barat, di mana penciptaan identitas bangsa dapat “melahirkan” sebuah peradaban yang memukau.

Sejarah melahirkan satu segi dari sekian banyak identitas seseorang. Identitas seseorang sebagai bagian dari bangsa akan lahir jika ia membaca sejarah bangsanya. Begitu pula identitas dia sebagai penganut agama akan ditemukan—di antaranya—melalui sejarah agamanya.

Sejarah melahirkan banyak tokoh idola di luar dunia empirik. Tokoh idola adalah bagian penting dari identitas yang paling sejati dari seseorang. Figur idola menjadi miniatur dari idealisme, kristalisasi dari berbagai falsafah hidup yang diyakini.

Tradisi keyakinan selalu mengupayakan pengidolaan. Tanpa itu, keyakinan akan kehilangan muara. Di dunia Islam, ada tradisi maulid: momen yang diciptakan untuk “menghidupkan” idola melalui teks-teks sejarah.

Dalam bentuknya sebagai ritual-seremonial, memang masih ada perdebatan panjang soal keabsahan maulid. Tapi, perdebatan itu berada di seputar bentuk dan cara, bukan pada esensi “penghijauan sejarah” dan “penyegaran ketokohan” yang diupayakan lewat tradisi peringatan maulid.

“Sedekah, berhias dan kegembiraan pada tanggal kelahiran Nabi Muhammad saw merupakan ekspresi hati seseorang akan kecintaan, pengagungan dan penghormatannya terhadap beliau. Ini juga ekspresi syukur atas karunia Allah mengutus beliau untuk membawa rahmat bagi segenap umat manusia,” demikian tulis Syihab al-Din Abu Muhammad al-Syafi’i dalam al-Ba’its ala Inkar al-Bida’.

Apa yang ditulis Syihab al-Din tidak lebih dari upaya mencari titik paling akar dari peringatan maulid Nabi: bahwa tradisi tersebut merupakan bentuk riil dari upaya untuk melahirkan kembali idola tertinggi bagi generasi umat ini.

Sebagai sebuah seremonial, peringatan Maulid Nabi memang baru dilakukan pada pertengahan Abad ke-6 Hijriah. Tradisi ini dimulai di Mosul oleh Syaikh Umar bin Muhammad al-Mala, kemudian dikembangkan oleh Muzhaffar al-Din bin Zaynuddin (549 – 630), penguasa Irbil. Tapi, esensi maulid sebagai penghadiran tokoh sejarah secara praktis sudah sangat mengakar sejak generasi pertama umat Islam. Para shahabat adalah orang-orang yang paling “gemar” menghadirkan sejarah Rasulullah dalam ruang kehidupan mereka, mulai dari urusan rumah tangga sampai masalah politik dan militer.

Kehadiran sejarah Rasulullah menjadi inspirasi paling sempurna bagi seorang muslim dalam menjalani apapun dalam realitas hidupnya. Shalah al-Din al-Ayyubi, panglima agung muslimin dan teman perjuangan Muzhaffar dalam Perang Salib, menggunakan tradisi pembacaan sejarah Nabi sebagai strategi untuk menggedor motivasi pasukannya. Ada sisi-sisi sejarah Nabi yang memberikan gambaran sempurna sebuah jiwa heroik dan ksatria. Maka, al-Ayyubi meletakkan Rasulullah sebagai idola militer tentaranya melalui tradisi pembacaan sejarahnya.

Upaya al-Ayyubi membangkitkan heroisme muslimin vis a vis Pasukan Salib dalam bentuknya paling suspens. Dan itu mutlak diperlukan sebagai urat nadi dari sebuah perlawanan dan perjuangan. Al-Ayyubi memenangkan Perang Salib, mengusir mereka dari Baytul Maqdis dan daerah-daerah muslimin yang lain—mungkin salah satu berkat pengidolaan sejarah dan motivasi historik yang terus ditanamkan dalam ruang pikiran, jiwa dan pandangan hidup mereka.

Sejarah dibaca memang untuk melahirkan tokoh di masa lampau. Ini menjadi salah satu filosofi dari displin sejarah itu sendiri. Dalam tradisi maulid kita, hal itu sangat kental. Bahkan, tidak hanya melahirkan tapi juga menyegarkan kembali bahwa hanya ada satu tokoh kunci dalam keyakinan kita: Nabi Muhammad saw.

Menciptakan idola dari tokoh dalam sejarah adalah hal yang cukup sulit. Tokoh sejarah hanya digambarkan dalam bentuk cerita-cerita, tidak bersentuhan secara empirik dengan realitas yang sedang kita alami. Gambaran dalam sejarah tidak sekongkrit ketika seseorang secara langsung bertemu atau merasakan sendiri bagaimana sepak terjang tokoh itu. Diperlukan penciptaan momen yang tepat agar sejarahnya hadir, menyentuh dan meninggalkan pengaruh semi-empirik terhadap seseorang. Di sinilah, peringatan sejarah secara serentak seperti Maulid Nabi menemukan urgensitasnya yang paling esensial.

Seseorang lebih mudah mencintai ayah, ibu, saudara atau temannya daripada mencintai Rasulullah, karena ada interaksi langsung dengan mereka. Lebih mudah mengidolakan tokoh yang berada di sekeliling kita daripada mengidolakan tokoh sejarah seperti Rasulullah saw. Kita bisa bersentuhan langsung dengan kiprah dan kepribadian orang-orang yang berada di sekeliling kita. Mereka lebih mudah mengisi ruang pikiran dalam hidup kita daripada tokoh sejarah.

Sulitnya menghadirkan tokoh sejarah di detak dada, diakui oleh Rasulullah sendiri. Beliau memberikan posisi istemewa untuk orang-orang yang mempercayai beliau padahal mereka tidak pernah melihat beliau. “Mereka saudara-saudaraku,” sabda beliau dalam sebuah hadits. Untuk para shahabat, Rasulullah tidak menyebut “saudara”, tapi “teman”.

Keyakinan terhadap tokoh sejarah menjadi salah satu bagian paling inti dari agama. Dalam al-Durr al-Mantsur, al-Suyuthi menyebutnya sebagai keimanan terhadap al-ghayb—dalam arti tidak hadir dalam realitas hidup. Kepercayaan terhadap al-ghayb ini merupakan point pokok dari religiusisme.

Makna Maulid Nabi yang dalam dunia kita terus diperingati setiap tanggal kelahiran beliau bukan lagi sebuah kesemarakan seremonial, tapi sebuah momen spiritual untuk mentahbiskan beliau sebagai figur tunggal yang mengisi pikiran, hati dan pandangan hidup kita.

Dalam maulid kita tidak sedang membikin sebuah upacara, tapi perenungan dan pengisian batin agar tokoh sejarah tidak menjadi “fiktif” dalam diri kita, tapi betul-betul secara kongkrit tertanam, mengakar, menggerakkan detak-detak jantung dan aliran darah ini. Maka—seperti al-Ayyubi yang menghadirkan Nabi Muhammad di medan perang—kita mesti menghadirkan beliau dalam ruang hidup yang lain. Tidak hanya dalam bentuk cerita-cerita yang mengagumkan, tapi juga semangat keteladanan dalam menjalani realitas hidup ini.

Selamat melantunkan gubahan syair-syair maulid Simth al-Durar atau al-Dayba’i. Semoga tidak hanya menjadi “lagu wajib” dalam sebuah upacara, tapi juga not-not ajaran yang menggerakkan pikiran, hati, pandangan hidup dan sikap kita—tanpa henti.

(A. Dairobi Naji (dairobi@telkom.net), santri pondok pesantren Sidogiri. Tulisan ini disadur utuh-utuh dari situs http://www.sidogiri.com )

Gotong royong jelang peletakan batu pertama

Menjelang peletakan batu pertama masjis Al-Iklhas, Kebonduren, Kalimulya, Depok yang insya Allah akan dilakukan pada Kamis, 24 April 2008 warga mengadakan gotong royong untuk membersihkan lapangan serta meratakan tanah agar hadirin bisa mendengarkan tausyiah dari Ustadz Jefry Al-Bukhori dengan nyaman.

Apalagi, dalam acara itu, panitia mengundang juga walikota Depok Nur Mahmudi Ismail dan pejabat eselon di Kota Depok. Juga beberapa anggota dewan di kota tersebut dan majelis taklim di sekitar lokasi pembangunan masjid. Warga antusias mengikuti kerja bhakti tersebut. Gotong royong selesai setelah mereka menyantap makan siang yang disediakan warga.

Kami mengharap kedatangan umat muslim, khususnya warga Depok, untuk menghadiri tausyiah tersebut. Apalagi pembawaan ustadz Jefry, atau yang biasa disapa Uje, sangat gaul sehingga menarik perhatian umat, baik tua maupun muda. Kami tunggu kedatangan Anda!

Penentuan Arah Kiblat

Sehari setelah Maulid Nabi Muhammad SAW, tepatnya Jumat 21 Maret 2008, panitia pembangunan masjid Al Ikhlas mengundang pakar untuk melihat lokasi tanah guna menentukan arah kiblat. Ahli dari Departemen Agama itu datang ba’da Ashar. Melalui penghitungan yang cermat dibantu perlatan yang canggih, arah kiblat sudah ditentukan sehingga nantinya pembangunan masjid akan mengacu pada arah tersebut.

APM: Investasi abadi

Belakangan ini masyarakat sedang gandrung dengan ORI (Obligasi Republik Indonesia) yaitu semacam surat utang negara yang dijual kepada individu. Memang, produk ini menawarkan “sesuatu” yang lebih menarik ketimbang tabungan atau deposito. Namun, ada produk baru kami, yaitu APM, yang jauh lebih menarik daripada investasi apa pun di dunia ini. Apa APM?

Dulu tabungan menjadi idola para investor. Namun munculnya deposito membuat popularitas tabungan merosot. Deposito menawarkan suku bunga menarik ketimbang tabungan. Meski untuk menabung lewat deposito kita harus menyetor uang minimum satu juta rupiah. Itu pun tidak bisa diambil sewaktu-waktu karena kita terikat dengan jangka waktu yang telah ditentukan bank.

Deposito sempat menjadi pilihan utama para investor saat krisis moneter tahun 1997-1998. Mengapa? Karena bunga yang ditawarkan mencapai 38% per tahun. Ini bunga tertinggi yang pernah ditawarkan bank. Namun, kini bunga deposito kembali ke sedia kala, berkisar 10-20 persen per tahun, tergantung situasi moneter.

Ketika popularitas deposito menurun, pemerintah mengeluarkan ORI. ORI seri keempat masih diburu pembeli. Padahal, masyarakat harus merogoh uang mulai Rp5 juta hingga Rp 3 milyar untuk memiliki surat berharga itu meski harga nominal per unitnya hanya Rp 1 juta. Apa keuntungan ORI sehingga menjadi primadona baru?

Ahli investasi menyebut beberapa keutungan ORI, yaitu:
-Dijamin oleh pemerintah sehingga bebas dari resiko gagal bayar kecuali pemerintah collaps.

-Jumlah dana yang bisa dijaminkan lebih besar, maksimal Rp. 3,000,000,000,- per individu.
-Keuntungan diperoleh tidak hanya dari pembagian kupon yang dimasukkan ke dalam rekening secara otomatis setiap bulannya tetapi juga dari selisih harga pada saat dijual di pasar sekunder.
-Kerahasiaan data individu yang membeli terjamin, berbeda dengan deposito yang bisa dilacak dengan mudah.

Adakah produk investasi yang lebih menguntungkan dari ORI? Jawabnya: APM (Amal Pembangunan Masjid). Melalui APM, Anda akan mendapatkan bunga yang menarik yaitu pahala dan jaminan surga. Meski Anda wafat, pahala atas APM tetap mengalir. Anas pernah mengatakan bahwa amal orang yang mendirikan masjid dan masjid itu terus digunakan oleh khalayak ramai sebagai tempat untuk beribadah tak akan putus meski orang yang bersangkutan meninggal.

Selain “bunga abadi”, APM juga fleksibel. Anda tak perlu merogoh satu juta rupiah (untuk membuka deposito) atau lima juta rupiah untuk membeli ORI. Anda bisa memberikan berapa pun kemampuan finasial Anda untuk berinvestasi di APM. Mudah bukan?

Oleh karena itu, kami panitia pembangunan masjid Al-Ikhlas, Kelurahan Kalimulya, Depok memberi kesempatan kepada umat muslim di mana pun Anda berada untuk berinvestasi di APM. Segera kirim uang Anda melalui rekening kami di :

BCA KCP Depok Asri, No: 7650277257

Atas nama Boih Sustiawan/Anwar Efendi.

Mohon konfirmasi ke email masjidalikhlas@yahoo.com. Kami akan meng-up date laporan keuangan untuk mempertanggungjawabkan investasi Anda di rumah Allah SWT. Semoga amal Bapak/Ibu mendapat balasan dari Allah SWT. Amin.

Lokasi Pembangunan Masjid

Lokasi Masjid Al-Ikhlas yang baru hanya berjarak sekitar 50 meter dari masjid yang lama. Tapi, lokasi masjid yang baru lebih strategis karena berada di Jalan Kencana I, bersebelahan dengan perumahan Taman Anyelir. Letak masjid memudahkan semua warga untuk mengunjungi rumah Allah tersebut.

Selain soal letak, luas tanah di lokasi baru juga lebih besar dari sebelumnya sehingga diharapkan bisa menampung jemaah yang lebih banyak lagi. Tanah di lokasi tersebut sudah rata dan siap untuk dibangun.

Kami berharap umat muslim bersedia menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu pembangunan masjid tersebut. Silahkan kirim bantuan Anda ke nomor rekening
BCA KCP Depok Asri Nomor: 7650277257 atas nama Boih Sustiawan/Anwar Efendi.

Apabila Bapak/Ibu sudah mentransfer uang ke rekening tersebut mohon konfirmasi melalui email ke masjidalikhlas@yahoo .com atau menghubungi sekretariat panitia di nomor telepon (021)77828210 dan 77828219 atau ke nomor HP 0818721342 dan 08888159102.

Susunan Panitia Pembangunan Masjid Al-Ikhlas

PANITIA PEMBANGUNAN MASJID

AL-IKLHAS

Jalan Kencana I RT 05 RW 04 Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Sukmajaya,

Kota Depok

Telp (021) 77828210 – 77828219, HP 0818721342 – 08888159102

PANITIA PEMBANGUNAN MASJID AL-IKHLAS

PENANGGUNG JAWAB :

1. Andi Suhandi (Ketua RW 04 Keluarahan Kalimulya)

2. H Muhammad Nimin Saleh

3. M Hasbullah Rahmad S Pd, M Hum

4. Burhan Masangang, SE

5. H Muhamad Ridwan, S Sos

6. Kadir Idris, BBA

KETUA:

1. Nisar Salim S Pd

2. Ir Puji Rohadi

SEKRETARIS :

1. Sori Sumantri

2. Widyatmoko, SE

3. Ma’mun Niran

4. Agus Ridwan

5. Drs Joko Harismoyo

BENDAHARA :

1. Boih Sustiawan, S Sos

2. Yudi Havian Nugraha, SE

3. Ir Anwar Efendi

4. Budimansyah, ST

HUMAS :

1. Samlawi, S Ag

2. Senen

3. M Apriandi, SH

4. Aris A, SE

PEMBANGUNAN:

1. M Thamrin

2. Saman Hudi

LOGISTIK:

1. Syafrudin

2. Edy Yarmin

3. H Sudarno

4. Gunawan Adiyaksa, SH MM

5. Nurman, SE

PUBLIKASI & EXPOSE:

1. Bambang Sambodo

2. Agus Suprayogi, ST

3. Sutarso

ARSITEK:

1. Muhammad Rizky

2. Hengky

Proposal Pembangunan Masjid Al-Ikhlas

LATAR BELAKANG

Masjid yang sudah ada memiliki beberapa kekurangan antara lain:

1. Daya tampung yang kecil

2. Masih bersifat seadanya, belum lengkap dengan fasilitas yang dibutuhkan

POTENSI

Lingkungan tersebut memiliki beberapa potensi positif di antaranya:

1. Banyak pendatang baru dari luar daerah sehingga pertambahan penduduk meningkat dengan cepat

2. Mayoritas penduduk adalah muslim

3. Lahan belum optimal pemanfaatannya.

PERMASALAHAN

1. Dana dari masyarakat masih belum mencukupi untuk membangun masjid

2. Lahan yang direncanakan belum sepenuhnya dapat dibangun

RENCANA ANGGARAN BIAYA (lihat foto di atas)


PENUTUP

Demikian gambaran singkat tentang rencana pembangunan masjid Al-Ikhlas, di mana masih menghadapi beberapa kednala. Semoga dengan usaha kita bersama kendala-kendala yang menghadang dapat kita lalui. Akhir kata kami mengucapkan banyak terima kasih.