• Arsip

  • http://picasion.com/
  • Terjemahkan ke dalam Bahasa:

  • Juni 2017
    S S R K J S M
    « Des    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  

Bazar dan Pasar Murah

DKM Al Ikhlas bekerja sama dengan Toko Tani Indonesia (TTI) Kementerian Pertanian menyelenggarakan Bazar dan Pasar Murah pada Sabtu, 3 Juni 2017 di halaman Masjid Al Ikhlas. Selain menjual pakaian pantas pakai yang harganya mulai Rp2.500 hingga Rp15.000 per potong, juga dijual bahan kebutuhan pokok mulai dari beras, bawang merah, bawang putih, terigu, gula pasir, minyak goreng dan cabai merah keriting.

Warga di sekitar masjid juga diberi kesempatan untuk menjual produknya. Ada yang menyediakan kue lebaran, dodol Betawi, baju, sandal, tempat tisu hasil kreasi Bank Sampah Kencana 08 (BSK 08) serta kue kering lainnya.

Jamaah tampak antusias berbelanja, terutama sembako. Mereka antre untuk mengambil kupon sebelum membayar dan mengambil barang. Berikut foto-foto kegiatan tersebut.

 

Pawai Sambut Ramadhan 1437H

Menyambut bulan suci Ramadhan 1437H, Taman Pendidikan Alquran Masjid Al Ikhlas, Kebonduren, Kalimulya, Kota Depok, Jawa Barat menyelenggarakan pawai anak-anak pada Sabtu, 4 Juni 2016. Pawai mengelilingi RW 08, Kelurahan Kalimulya, dimulai dari halaman Masjid Al Ikhlas, dilanjutkan ke Perumahan Taman Anyelir 3. Jalur berikutnya adalah Jalan Raya Kalimulya kemudian Jalan Kencana 1 dan berakhir lagi di masjid.

Pawai tersebut dipimpin oleh Ketua Bidang Tarbiyah Masjid Al Ikhlas, Haji Anung beserta semua guru di TPA Al Ikhlas. Foto pawai bisa dilihat di bawah ini.

Laporan Kegiatan Santunan Anak Yatim DKM Al Ikhlas 2015

LAPORAN KEGIATAN SANTUNAN ANAK YATIM 1437 H  
    DKM AL-IKHLAS  
    Jl. Kencana 1 No.A8
I PENYALURAN/ DISTRIBUSI SANTUNAN
Anak yatim lingkungan RW 08 = 15 Orang
Anak yatim undangan ( diluar lingkungan RW 08 ) = 25 Orang
II PENERIMAAN
1 RT 01  Rp             1,610,000
2 RT 02  Rp             2,740,000
3 RT 04  Rp             3,485,000
4 RT 05  Rp             2,545,000
5 RT 06  Rp             1,900,000
6 Majelis Ta’lim Ibu-ibu ( Sabtuan)  Rp             1,625,000
7 Majelis Subuh ( Fajriyah)  Rp                100,000
8 Dana terkumpul dari pak Nizar  Rp                900,000
9 Dana Tambahan  Rp             1,400,000
10 Dana Tambahan  Rp                500,000
11 Dana Tambahan ( terkumpul tgl 24-10-2015 )  Rp             2,355,000
TOTAL PENERIMAAN  Rp          19,160,000
III PENGELUARAN
Dana Tunai untuk anak yatim
1 RW 08 ( Rp 350.000 x 15 orang )  Rp             5,250,000
2 Diluar RW 08 ( Rp 250.000 x 25 orang )  Rp             6,250,000
Dana Pembelian Sembako
3 Beras 2 liter ( Rp.18,000 X 40 )  Rp                720,000
4 Minyak Goreng ( Rp. 11,190 X 40 )  Rp                447,600
5 Gula Pasir ( Rp. 13425 X 40 )  Rp                537,000
6 Kecap ( Rp. 5625 X 40 )  Rp                225,000
7 Kantong / tas Sembako ( 3 Lusin X 60000)  Rp                180,000
8 Kantong/ tas sembako ( 4 buah X 6000 )  Rp                  24,000
9 Plastik Polo Besar  Rp                  11,500
Dana Pembelian Snack
10 Snack box Yatim ( Rp. 10.800 X 40 )  Rp                432,000
11 Aqua gelas 1 dus  Rp                  29,400
Dana Pembuatan Kupon
11 Pencetakan kupon  Rp                  18,000
TOTAL PENGELUARAN  Rp          14,124,500
SISA SALDO  Rp             5,035,500
Depok, 26 Oktober 2015
Keterangan
Sisa Saldo dimasukan ke kas santunan anak yatim bulanan.

Kondisi Masjid per 24 September 2015

Pembangunan masjid Al Ikhlas, Kebonduren, Kelurahan Kalimulya, Depok, Jawa Barat sampai dengan tanggal 24 September 2015 masih membutuhkan penyelesaian untuk plafon lantai atas, kusen dan kaca untuk semua jendela di lantai atas, serta finishing tembok (aci) bagian teras depan. Berikut foto kondisi masjid per 24 September 2015.

Surban sebagai pemantas dan penjaga diri

KH Mukoddas MAMinggu, 25 Juli 2010 pagi masjid Al Ikhlas di Kebonduren, Kalimulya, Depok kembali mengadakan pengajian bulanan dengan tema: Menyambut Bulan Suci Ramadhan. Pembicara dalam kuliah duha itu adalah Drs KH Mukoddas, MA, ustads dari daerah Cimanggis yang juga karyawan Departemen Agama Kota Depok.

Sebelum tausyiah dimulai, jemaah menggelar sholat duha bersama.  Setelah itu, Ustadz Agus Suprayogi menjelaskan hukum sholat sunnah berjamaah. Dari  berbagai referensi dan hadist yang ada, Agus menyimpulkan sholat sunnah sebaiknya dilakukan sendiri-sendiri, kecuali beberapa jenis sholat yang disarankan seperti sholat Idul Adha/Fitri, sholat tarawih, serta sholat istisqo. Sholat sunnah lain boleh dilakukan berjamaah, asal tidak menjadi rutinitas.

Acara berikutnya adalah ceramah dari KH Mukoddas. Kyai asal Banjarnegara, Jateng, ini menjelaskan mengapa dia memakai surban, jas serta sarung. “Saya tadi datang ke sini, belum banyak jemaah yang datang. Tapi, orang tahu kalau saya ustads yang akan member i ceramah. Coba kalau saya nggak pakai surban. Mereka tidak tahu kalau penceramahnya sudah datang,” jelasnya.  Artinya, surban menjadi pemantas. Sebagai pertanda kalau dia seorang muslim. Fungsi surban berikutnya adalah sebagai penjaga hati. “Kalau saya pakai baju seperti ini, tak pantas masuk diskotek atau tempat-tempat yang tak terpuji,” katanya. Dengan demikian, surban bisa menjaga seseorang dari perbuatan yang kurang pantas. Namun, dia menekankan, surban bukan jaminan seseorang masuk surga.  Surga ada di tangan kita melalui amal yang dirahmati Allah, bukan pada surban atau baju yang dipakainya.

Wanita lebih mudah untuk masuk surga. Asal mereka bisa memenuhi empat sayarat, yaitu:  rajin menjalankan sholat, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatan, serta sayang suami. “Syarat keempat ini yang susah. Kalau suami lagi banyak duit disayang. Giliran gak punya duit, pasang wajah kecut,” ujarnya yang disambut tawa para jemaah.

Dalam hidup ini orang harus memiliki iman (keteguhan hati), ilmu, serta amal. Iman akan menjaga seseorang berada di jalan Allah, sedang ilmu akan menyelamatkan orang dari kehidupan dunia dan akhirat. Berbuat amal bagai orang menanam biji. “Lama kelamaan akan tumbuh dan berbuah seperti bijinya. Tidak ada menaman semangka berdaun sirih,” lanjutnya sambil tertawa, ingat sebuah lagi pop lawas.

Orang beriman termasuk orang-orang yang tidak merugi.  Ciri orang beriman adalah rajin sholat lima waktu. Lalu, dia pun menyanyikan sholawat dengan syair yang telah diubah: Subuh kesiangan, Dhuhur kesibukan, Ashar dalam perjalanan, Magrib kecapaian, Isya ketiduran. “Lah kapan sholatnya?” tanyanya. Orang yang tidak merugi lainnya adalah orang yang berbuat baik dan orang yang menjalin silaturahim. “Silaturahim banyak manfatnya. Mendatangkan rejeki dan membuat panjang umur,” jelasnya.

Orang yang senang menyambut datangnya bulan Ramadhan tidak akan tersentuh api neraka. Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Setelah melewati bulan ini kita akan kembali suci. Untuk, menyambut bulan suci ini kita harus membersihkan jiwa kita dengan saling memaafkan kepada sesama.  Bagi mereka yang masih memiliki hutang puasa, segera penuhi kewajibannya. Setelah pengajian, Ustadz Agus Suprayogi memberikan santunan kepada anak-anak yatim yang ada di sekitar masjid.

Memakmurkan Masjid*

Ust. Syaifuddin Siddiq, MA(oleh Ustadz Syaifuddin Siddiq, MA – Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidyatullah Jakarta)

Masjid tak boleh dipakai untuk kampanye karena kampanye banyak kebohongan. Masjid adalah tempat untuk pengajian yang membawa kebenaran berdasar Alquran dan Hadist.

Dalam kuliah duha  yang diselenggarakan Minggu, 27 Juni 2010 di Masjid Al Ikhlas, Kebonduren, Kelurahan Kalimulya, Depok, Jawa Barat, Ustadz Syaiffudin mengawali penjelasannya dengan menerangkan kata makmur. Makmur berasal dari Bahasa Arab yang berarti meramaikan. “Jadi  makmur bukan berarti  badan yang subur, “ jelasanya. Dengan demikian memakmurkan masjid berarti meramaikan masjid.

Dengan kata lain, masjid harus dipakai untuk shalat berjamaah bagi warga selama lima waktu. Fenomena yang banyak berkembang adalah bangunan masjidnya banyak, tetapi selalu kosong saat waktu shalat tiba. Lalu, siapa yang memakmurkan masjid?  “Pertama, orang beriman. Dan kedua orang yang mendirikan shalat’” lanjut ustadz yang sedang mengambil pendidikan  S3 itu.

Ustadz membedakan menjadi dua kategori karena keduanya memang berlainan. Orang beriman adalah orang yang menjalankan shalat dan syariat lain serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan orang yang sekedar mendirikan shalat adalah STMJ. “Bukan Susu Telor Madu dan Jahe, tetapi Shalat Terus Maksiat Jalan,” lanjutnya. Jadi, mereka menjalankan shalat sekedar memenuhi kewajiban. Hanya formalitas.

Majelis Duha Masjid Al IkhlasUstadz menekankan bahwa masjid memiliki tiga fungsi yaitu tempat bersujud, majelis ilmu, serta tempat bermusyawarah. Sebagai majelis ilmu, masjid adalah tempat menimba ilmu yang bermanfaat. Jadi bukan sekedar ilmu agama saja. “Matematika ilmu bermanfaat, kedokteran ilmu bermanfaat. Jadi boleh saja menimba ilmu seperti itu di masjid,” tekannya.

Menimba ilmu wajib hukumnya bagi muslim. Karena ilmu akan menjaga kita, kalau diberikan pada orang lain makin bertambah, dan dengan ilmu akan memperbanyak kawan. Sebaliknya, harta memiliki sifat yang berlainan. Kita yang harus menjaga harta. “Mana ada orang menaruh mobil di jalanan. Takut hilang,” jelasnya. Harta, kalau kita berikan kepada orang lain, akan berkurang. Dan dengan harta pula kita bisa dibenci orang dan memiliki banyak musuh jika kita tak mau bersedekah dan berbagi dengan sesama.

Untuk mengukur tingkat keimanan seseorang, bisa dirasakan saat mereka memasuki masjid. Jika dirinya merasa seperti ikan yang masuk ke dalam air, berarti dia termasuk golongan orang beriman. “Ikan akan senang ketika masuk air karena di situlah habitatnya,” tambah Syaiffudin. Sebaliknya, jika saat memasuki masjid mereka merasa bagai burung di dalam sangkar, berarti tingkat keimanannya masih dipertanyakan. Burung selalu ingin lepas dari sangkar karena dirinya merasa dipenjara dan dikekang kebebasannya. (Materi diberikan saat kuliah duha yang diselenggarakan setiap bulan di Masjid Al Ikhlas, RW 08 Kebonduren, Kalimulya, Depok, Jawa Barat)

Tujuh Kriteria Hamba Saleh

Tujuh Kriteria Hamba SalehSetiap Muslim pasti menginginkan menjadi hamba yang saleh. Bahkan, sesudah kita berwudlu untuk menghadap dan berdialog dengan Allah (shalat), kita disunahkan berdoa kepada-Nya. Salah satu doa tersebut adalah ‘dan jadikanlah aku termasuk kelompok hamba-Mu yang saleh”. Jangankan sebagai manusia biasa, Nabi Ibrahim AS pun berdoa: “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” (QS Asy-Syu’ara [26]: 83).

Untuk menjadi hamba yang saleh, perlu diketahui kriteria hamba-hamba yang saleh tersebut. Dengan memahami kriteria tersebut, diharapkan kita berupaya untuk melakukannya sehingga di hadapan Allah kita termasuk dalam golongan hamba-hamba yang saleh.

Adapun kriteria hamba yang saleh, disebutkan oleh Allah dalam Alquran surah Ali Imran [3] ayat 113-114. Dalam ayat ini, disebutkan tujuh kriteria hamba yang saleh. Pertama, orang yang berlaku lurus (memiliki karakter istikamah). Yakni, teguh pendirian, konsisten, dan komitmen dalam meyakini dan melakukan kebenaran.

Kedua, senantiasa membaca ayat-ayat Allah, baik yang qauliyah (naqliyah), maupun ayat-ayat kauniyah (aqliyah). Ketiga, mereka yang senantiasa sujud di tengah keheningan malam, dengan melaksanakan shalat malam.

Keempat, beriman kepada Allah. Setiap perbuatan dan tingkah lakunya dilandasi dengan zikir (ingat) Allah.  Dengan demikian, zikir itu akan menjadi alat kontrol dan stabilitator baginya dari berbagai kemaksiatan dan dosa.

Kelima, beriman kepada hari akhir. Kehidupannya senantiasa beroritenasi akhirat dan jangka panjang. Ia mengisi waktunya dengan kegiatan positif yang bernilai ibadah.

Keenam, mengajak orang lain untuk berbuat baik dan menghindari kejahatan atau kemaksiatan. Ia harus menjadi teladan, sehingga orang lain bisa mengikutinya. Ketujuh, bersegera melakuan kegiatan positif. Hamba yang saleh tersebut senantiasa berlomba-lomba melakukan kebaikan yang dilandasi dengan keikhlasan karena untuk Allah SWT.

Tujuh karakter di atas merupakan karakter hamba yang saleh. Dari ayat ini pula dapat disimpulkan bahwa kesalehan tersebut mencakup dua hal, yaitu kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Wallahu alam. (Oleh Muhammad Kosim MA – Republika)