• Arsip

  • http://picasion.com/
  • Terjemahkan ke dalam Bahasa:

  • Agustus 2017
    S S R K J S M
    « Jun    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  

Bazar dan Pasar Murah

DKM Al Ikhlas bekerja sama dengan Toko Tani Indonesia (TTI) Kementerian Pertanian menyelenggarakan Bazar dan Pasar Murah pada Sabtu, 3 Juni 2017 di halaman Masjid Al Ikhlas. Selain menjual pakaian pantas pakai yang harganya mulai Rp2.500 hingga Rp15.000 per potong, juga dijual bahan kebutuhan pokok mulai dari beras, bawang merah, bawang putih, terigu, gula pasir, minyak goreng dan cabai merah keriting.

Warga di sekitar masjid juga diberi kesempatan untuk menjual produknya. Ada yang menyediakan kue lebaran, dodol Betawi, baju, sandal, tempat tisu hasil kreasi Bank Sampah Kencana 08 (BSK 08) serta kue kering lainnya.

Jamaah tampak antusias berbelanja, terutama sembako. Mereka antre untuk mengambil kupon sebelum membayar dan mengambil barang. Berikut foto-foto kegiatan tersebut.

 

Pembangunan Masjid Al Ikhlas sampai 5 Juni 2016

Pembangunan masjid Al Ikhlas, Kebonduren, Kelurahan Kalimulya, Kota Depok, Jawa Barat sampai dengan tanggal 5 Juni 2016 masih membutuhkan penyelesaian untuk plafon lantai atas. Alhamdulillah, usen dan kaca  jendela di lantai atas, serta finishing tembok (aci) bagian teras depan sudah selesai. Berikut foto kondisi masjid per 10 Januari 2016.

Pawai Sambut Ramadhan 1437H

Menyambut bulan suci Ramadhan 1437H, Taman Pendidikan Alquran Masjid Al Ikhlas, Kebonduren, Kalimulya, Kota Depok, Jawa Barat menyelenggarakan pawai anak-anak pada Sabtu, 4 Juni 2016. Pawai mengelilingi RW 08, Kelurahan Kalimulya, dimulai dari halaman Masjid Al Ikhlas, dilanjutkan ke Perumahan Taman Anyelir 3. Jalur berikutnya adalah Jalan Raya Kalimulya kemudian Jalan Kencana 1 dan berakhir lagi di masjid.

Pawai tersebut dipimpin oleh Ketua Bidang Tarbiyah Masjid Al Ikhlas, Haji Anung beserta semua guru di TPA Al Ikhlas. Foto pawai bisa dilihat di bawah ini.

Kondisi Masjid per 24 September 2015

Pembangunan masjid Al Ikhlas, Kebonduren, Kelurahan Kalimulya, Depok, Jawa Barat sampai dengan tanggal 24 September 2015 masih membutuhkan penyelesaian untuk plafon lantai atas, kusen dan kaca untuk semua jendela di lantai atas, serta finishing tembok (aci) bagian teras depan. Berikut foto kondisi masjid per 24 September 2015.

Kedalaman Makna Surat Al Ikhlash

Kedalaman Makna Surat Al IkhlashAllah SWT berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS Al- Bayyinah [98]: 5). Dalam ayat lainnya: “Luruskanlah mukamu (dirimu) pada setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya.” (QS Al-‘Araf [7]: 29).
Ahli tafsir menjelaskan, yang dimaksud dengan lurus adalah menghindari perbuatan syirik (menyekutukan Allah SWT dalam segala bentuknya dan terhindar dari penyimpangan sekecil apa pun). Kewajiban menjaga keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT ditegaskan berulang-ulang di dalam Alquran.

Bahkan, surah ke-112 dinamai dengan Al-Ikhlash (memurnikan keesaan Allah). Secara fisik surah Al-Ikhlash itu terdiri atas empat ayat pendek, namun kandungannya sangat panjang dan luar biasa.

Rasulullah SAW bersabda, “Membaca ‘Qul huwa Allahu ahad’ pahalanya setara dengan membaca sepertiga Alquran.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’I, Ibn Majah, Malik, Ahmad, Thabrani, Al-Bazzar, dan Abu ‘Ubaid).

Oleh karena itu, Saja’ Al-Ghanawi RA mengatakan, “Barang siapa membaca ‘Qul huwa Allahu ahad’ tiga kali, maka ia seakan-akan membaca Alquran seluruhnya.” Atau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, bahwa Muadz ibn Anas RA berkata, “Barangsiapa membaca ‘qul huwa Allahu ahad’ sebelas kali, maka Allah (akan) membangunkan sebuah rumah untuknya di Surga.”

Atau, seperti yang diriwayatkan Thabrani, bahwa Fairuz RA berkata, “Barangsiapa membaca ‘Qul huwa Allahu ahad’ seratus kali, di dalam shalat atau lainnya, maka ia dicatat oleh Allah sebagai orang yang terbebas dari siksa Neraka.” Dan, masih ada beberapa riwayat yang lainnya. Namun, perlukah kita menghitung-hitung “kebaikan” atau “ketaatan” kita sendiri?

Menurut Ibn Sina sebagaimana dikutip Muhammad Quraish Shihab dalam salah satu karyanya, niat atau motivasi beribadah itu bertingkat-tingkat. Pertama, tipe pedagang (mengharap keuntungan). Kedua, tipe budak atau pelayan (takut terhadap majikannya).

Ketiga, tipe ‘arif (bersyukur atas segala yang diberikan Allah SWT kepadanya). Dan tipe lainnya dinamakan sebagai tipe robot (otomatis, tanpa pemikiran, tanpa pemahaman, dan tanpa penghayatan).

Tentu bijaksana, jika kita terbiasa melaksanakan ibadah menurut tipe ‘arif. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya bahwa tidak sedikit amal (ibadat) yang dibatalkan atau dihapuskan pahalanya akibat niatnya tidak murni karena Allah SWT. Wallahu ‘alam. (Oleh Mahmud Yunus – Republika)

Nikmat yang Kerap Terlupakan

Nikmat yang Kerap TerlupakanAnas bin Malik RA bercerita, ada dua orang bersin di dekat Nabi Muhammad SAW. Beliau mendoakan (tasymit) salah seorang dari keduanya, namun tidak mendoakan seorang yang lain. Ditanyakan alasannya, Rasul menjawab, “Sebab, orang yang satu mengucapkan ‘alhamdulillah’, sedangkan yang satu lagi tidak membacanya.” (HR Bukhari).
Jadi, orang yang bersin dan tidak membaca alhamdulillah, tidak layak didoakan karena tidak syukur nikmat. Padahal, bersin termasuk salah satu nikmat dari Allah SWT yang manfaatnya sangat besar. Menurut Ibnul Qayyim, bersin dapat mengeluarkan uap dari dalam otak yang jika dibiarkan akan berbahaya. (Zadul Ma’ad 2: 438).

Bersin merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah masuknya zat asing ke dalam tubuh. Ketika bersin, udara kotor keluar dengan keras melalui hidung dan mulut berkecepatan sekitar 161 km/jam.

Bahkan, Dr Michael Roizen, wellness officer Cleveland clinics menegaskan, bersin merupakan kegiatan yang positif karena berfungsi membersihkan faring (rongga antara hidung, mulut, dan tenggorakan). Dalam Syarh Riyadhus Shalihin, Syekh Utsaimin mengutarakan, bersin dapat menggiatkan otak dan meringankan tubuh.

Untuk itulah, setelah bersin, sejatinya membaca hamdalah sebagai bukti syukur kepada Allah SWT. Rasul bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian bersin, ucapkan ‘alhamdulillah’ (segala pujian bagi Allah). Dan hendaklah orang yang mendengarnya mendoakan dengan ucapan yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Dan orang yang bersih tadi membaca doa yahdikumullahu wa yushlihu balakum (semoga Allah memberikan hidayah dan memperbaiki keadaanmu).” (HR Bukhari).

Hamdalah merupakan doa paling utama. (Lihat hadis riwayat Tirmidzi). Imam Al-Sindi menyatakan, hamdalah mengandung pengertian dua jenis (fungsi) doa, yaitu menyanjung (tsana`) dan mengingat Allah SWT (zikir); serta mengajukan permohonan (thalab) agar nikmat ditambah.

Padahal, dengan berzikir saja, Allah menjamin akan memberikan lebih dari yang diminta. “Siapa orang yang lebih sibuk mengingat-Ku (berzikir) daripada meminta sesuatu kepada-Ku, ia akan Aku berikan sesuatu melebihi yang orang-orang mohon.” (Hadis Qudsi).

Lain bersin, lain pula menguap (tats├ó`ub berarti layu dan malas). Menguap terjadi karena minimnya oksigen dalam tubuh. Biasanya, orang menguap saat kondisi tubuh lelah, malas, bosan, atau mengantuk. Karenanya, Nabi SAW bersabda, “Menguap itu dari setan. Oleh karenanya, jika menguap, tahanlah sebisa mungkin. Sebab, jika orang menguap hingga terucap ‘ha’, setan tertawa menyaksikannya.” (HR Bukhari).

Setan tertawa gembira karena menyukai kemalasan. Sedangkan Islam sangat anti dengan kemalasan dan menganjurkan umatnya untuk giat beramal. Nabi SAW pun selalu berlindung dari sifat malas (kasal). Wallahu a’lam. (Oleh Risyan Nurhakim – Republika)

Kunci Surga yang Terbuang

Kunci Surga yang TerbuangBila semua ibadah kita seperti shalat, puasa, sedekah, dan haji, berjalan bagus, maka, kelak di akhirat akan diberikan semacam tiket atau kunci untuk masuk surga. Tatkala banyak orang masuk surga, ternyata kita tidak dapat memasukinya, padahal sudah mempunyai tiket untuk memasukinya.
Apakah sebabnya? Padahal, amal kebaikan yang telah kita kumpulkan, bila dihitung jumlahnya sangat banyak. Namun, kenapa bukan surga yang didapatkan, dan sebaliknya malah neraka yang menjadi tempat kita? Itulah kunci surga yang terbuang.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang memutuskan tali persaudaraan.” Karena itu, walaupun amal kebaikannya banyak, jika memutuskan hubungan silaturahim dengan sesama Muslim, dia akan ditempatkan di neraka.

Mengapa demikian? Karena manusia punya penyakit hati atau sok. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ali Ridla dikatakan bahwa ketika sedang berkumpul dalam suatu majelis bersama murid-muridnya (hawariyyun), Nabi Isa AS menceritakan kelebihan yang diberikan Allah SWT padanya. Seperti menyembuhkan penyakit kusta dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.

Namun demikian, kata Isa AS, ada satu jenis penyakit yang ia tak mampu menyembuhkannya. Murid-muridnya bertanya jenis penyakit tersebut. Isa menjawab, penyakit itu adalah penyakit hati (sok).

Nabi Isa AS menjelaskan, penyakit sok memiliki ciri khas, yaitu merasa lebih dari yang lain. Merasa lebih cantik, ganteng, hebat, kaya, kuasa, dan benar. Selain itu, orang yang sok itu juga suka membantah (ngeyel), dan ngotot (tak mau kalah).

Imam Al-Ghazalie mengategorikan orang tersebut sebagai Laa Yadri wa Laa Yadri ‘Annahu Laa Yadri (orang bodoh tidak menyadari bahwa dirinya bodoh). Inilah orang bodoh yang merasa pintar. Dia tidak menyadari bahwa sesungguhnya dirinya bodoh, namun ia tidak mau belajar agar menjadi lebih pintar.

Jika manusia sudah mengidap penyakit sok ini, dia tidak akan pernah menyadari kesalahannya. Ia selalu merasa benar, padahal nyata-nyata salah dan ia tidak mau meminta maaf atas kesalahannya.

Jika masing-masing pihak merasa paling benar, maka akan mulai terputuslah tali silaturahim, dan ia tidak berhak mendapatkan surga kendati sudah memiliki kuncinya. Laa yadkhulu al-Jannata Qaththi’un al-Rahim (Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim). Allah berfirman, “Sejelek-jelaknya makhluk (binatang) di sisi Allah adalah mereka yang pekak dan tuli (sok), yang tidak mengerti apa pun.” (QS Al-Anfal [8]: 22). Wa Allahu a’lam. (Oleh Ustaz Kusen MA – Republika)